Hijrah & Hapidzoh

Hijrah & Hapidzoh
Bukan karena salah, sakit berasal!



Di perjalanan leonard tidak bertanya alamat raisa, raisa sudah mengerti bila leonard pasti akan membawanya ke tempat yang dia mau, raisa memberikan selah untuk leonard masuk ke dalam hatinya.


Leonard memarkirkan kuda besinya di sebuah restoran dia melepaskan sabuk pengamannya, dan keluar mobil membuka pintu penumpang, raisa melepaskan sabuk pengamannya, "kita makan dulu, kamu belum makan apa apa sejak pagi!", usul leonard yang merasakan perutnya serasa perih karena hanya angin yang dia makan sejak malam tadi.


Leonard sudah memasang ancang ancang untuk menggendong raisa ala bridestyle namun dia gagal saat raisa menolaknya.


"Gak papa kak!, aku bisa sendiri", raisa menginjakan kakinya ke tanah namun keseimbangannya hilang saat kakinya terasa lemas.


Raisa hampir menghantam kerikil di depannya namun leonard yang sigap langsung mengangkatnya saja, tidak perduli dengan ocehan raisa.


Leonard mendudukkan raisa di kursi restoran dan memesan beberapa menu, saat itu raisa hanya dapat menyetujui apapun permintaan leonard dia belum membentangkan penghalang besar untuk leonard.


"Sa!, dimana rumah kamu", leonard buka suara saat menunggu makanan mereka sampai.


Raisa memberi tahukan alamatnya, leonard ternganga tak percaya saat mendengar alamat raisa, "bentar itu kan toko kue kalo aku gak salah ingat!", ucap leonard mengingat ingat.


"Iya kak, aku tinggal di sana dan sekalian buka toko kue!", ucap raisa membenarkan.


"Jadi kamu tinggal di sana?, wahh pantesan enak banget kuenya", puji leonard dengan senyum yang mengembang.


"Kapan kakak kesana?, aku gak pernah lihat kakak ke toko", selidik raisa, leonard tersenyum 'duuuh ternyata dia merhatiin', ucap hati kecil leonard penuh kegembiraan.


"Hmmm dulu aku anterin iwan ke sana, aku tunggu di luar si gak masuk!", leonard mengingat ingat kejadian itu.


"Hmm..", raisa mengangguk mengerti, raisa mengambil tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop yang cukup tebal, yang semula dia dapatkan dari apresiasi para panitia atas keberhasilan raisa sebagai tahpizoh al qur'an.


"Kak terima kasih untuk bantuannya, tolong terima ini untuk biaya rumah sakit ya!, mungkin jasa kakak gak bisa di beli dengan uang, tapi ini mungkin cukup untuk biaya rumah sakit", ucap raisa lembut.


Di dalam amplop itu terdapat uang senilai 15 juta, raisa memang pekerja keras jadi tidak heran bila dia memiliki uang sebanyak apapun.


Leonard menggelang, dia menyerahkan kembali amplop itu pada raisa, " tau jasaku tidak bisa di beli uang masih nyodorin uang, dah simpen aja itu mungkin kamu akan butuh buat tahlilan", ucap leonard dengan senyum lebarnya.


"Hmm.. Tapi kak..".


" Dah simpen aja, aku juga bukan orang yang kekurangan uang kok!", ucap leonard menyela, sembari menyimpan amplop itu ke tas selempang raisa.


"Kak leo!".


"Hai kak leo?".


"Waah keren banget!".


"Aaa.. Sumpah meleleh hati ini say".


"Aduhh kok ada si cowok se ganteng dia?".


"Wahh iya gantengnya gak ngotak dia!".


Segerombolan wanita menghampiri leonard, leonard mendengus kesal, dia mengangkat tangannya.


Ucap leonard sembari berdiri, raisa pun ikut berdiri dan dengan kakinya yang masih lemas.


Gerombolan wanita itu menyenggol raisa yang memang lemas hingga terjatuh, leonard yang tengah melakukan pembayaran pun yang diikuti para fansnya tidak tahu tentang kondisi raisa.


Sebuah kaki menginjak pergelangan kaki raisa dan cukup untuk membuat kaki raisa bengkak, raisa meringis menahan sakit, "stt..", raisa memegangi kursi yang semula dia gunakan, menopang tubuhnya untuk berdiri.


"Eh sa!, ngapain disini?, kamu gak papa?", seorang pria berkemeja putih menghampiri raisa, dia adalah vino manager restoran tersebut.


Vino ingin membantu raisa namun raisa menelungkupkan tangannya di dada tidak ingin di bantu, vino mengangguk mengerti membiarkan raisa duduk dengan sendirinya, raisa dengan nafas yang berat dan keringat membasuhi keningnya berhasil duduk dengan baik.


Vino duduk di hadapan raisa di kursi tempat semula leonard duduk, "aku anter ke dokter ya!, itu kakinya sampe bengkak gitu!", ucap vino merasa kasihan pada gadis di hadapannya.


Raisa menggelang pelan, raisa memang sangat jarang bicara bila dengan pria namun entah ada angin apa saat dia bersama leonard dia berbicara sebagaimana mestinya.


"Kamu yakin sa!?", raisa kembali mengangguk, dia menahan ngilu di kakinya.


Leonard yang melihat raisa duduk bersebrangan dengan pria pun naik vitam, darahnya mengalir deras dengan semburat yang berdiri di lehernya, gertakan giginya terdengar hingga ke telinga, dia mendekat ke arah raisa dan menarik lengan raisa sampai raisa terjatuh.


"Eh apaan si lo?, main tarik tarik aja!", vino marah bukan main saat melihat raisa terjatuh di lantai.


"Sa?", leonard pun terkejut, dia tidak menyangka bila raisa akan terjatuh seperti itu, leonard mendekat ke arah raisa melihat wajah teduh itu, namun dia kembali terguncang saat melihat mata raisa yang berair.


"Sa!, maafin aku sa!", leonard memegang tangan raisa lembut, tanpa penolakan dari raisa.


Vino menjadi kesal, sebelumnya vino juga pernah melamar raisa namun sampai puluhan kali melamar pun raisa tetap menolak dengan alasan ingin merawat ibunya meski sudah di beri penjelasan oleh vino pun raisa tetap menolak.


"Heh!! maaf itu gampang!, lo sebagai seorang youtuber dikelilingi banyak penggemar sampe gak nyadar lo!, tuh penggemar lo nginjak kaki ica!", Deg, jantung leonard seakan berhenti mendengar makian yang terlontar sangat jelas, dia memang jarang menanggapi orang yang sedang marah dan selalu memilih diam, repleks tangan leonard meraih kaki raisa dan terlihat kaki putih bersih itu memerah dan bengkak, rasa sesal di dadanya kian membeluncah ingin rasanya dia memotong kaki orang yang telah menginjak kaki wanita tersayangnya, tatapannya berbalik menghujam tajam menusuk ribunan penggemarnya, dan kembali menatap sayu ke arah raisa.


"Sa!, maaf!", leonard mengelus kaki putih itu membuat raisa menyingkirkan tangan leonard karena merasa sudah berlebihan.


"Siapa yang lakuin ini sa?", leonard menatap nanar penuh duka di hatinya menatap wajah polos di hadapannya.


"Aku gak papa kak!, sudah pesannya?", raisa tersenyum mengusap air matanya, dia berusaha berdiri dibantu leonard namun gagal, dia menghantam dada kokoh leonard membuat leonard dag dig dug dan memutuskan mengangkatnya saja, para wanita yang melihat itu menggigit jari dan ada beberapa penggemar leonard yang mengambil gambar dengan tingkah manis leonard.


Raisa didudukan di kursi penumpang, "kamu tunggu disini ya?", leonard tersenyum sebelum akhirnya menutup pintu mobil.


Leonard kembali ke restoran dan menghampiri penjaga restoran, "dimana ruang kendali CCTV restoran ini?", tanya leonard, penjaga itu mengarahkan leonard ke ruang kendali cctv dan dilihatnya salah satu fans nya yang menginjak kaki raisa.


Leonard mengambil rekaman cctv itu dan menyimpannya di ponselnya, dia mengambil pesanan makanannya dan kembali ke mobil tanpa melakukan apa apa lagi.


"Lama ya?", leonard memasuki mobil sport nathan dan duduk di kursi kendali, raisa menggelang dan tersenyum sekilas.


Leonard menginjak gas mobil itu hingga mobil mewah itu melaju di antara kendaraan lainnya menuju rumah raisa.


Sebenarnya bukan karena sakit yang semula raisa tangisi, bukan pula karena salah leonard tangis itu berasal, namun karena perhatian yang begitu hangat yang di berikan leonard mampu meluluhkan dinding es yang telah ribuan hari terbentuk di dadanya.


Bersambung..