Hijrah & Hapidzoh

Hijrah & Hapidzoh
Rumah baru



Di perjalanan terjadi kekakuan, tidak ada yang terucap dari keduanya hingga sampai di parkiran apartemen, leonard mengambil koper besar di bagasi mobilnya, leonard memperhatikan raisa yang nampak risih dengan kebaya panjangnya.


"Mau di bantuin?", leonard menawarkan jasanya namun raisa menggeleng dan memegang setiap ujung kebaya itu dan berjalan di samping leonard.


"Risih banget!", leonard dengan sebelah lengannya mengangkat tubuh mungil raisa dan menariknya kedalam pelukannya, "jangan nolak!", leonard menyela saat melihat raisa akan protes.


Raisa mengangguk dan melingkarkan tangannya di leher suaminya, leonard tersenyum lembut mendapati pelukannya tanpa penolakan untuk pertama kalinya.


Mereka sampai di sebuah lift, leonard melepaskan genggaman koper di lengan kananya dan memijit angka 12.


Leonard memeluk raisa menggunakan kedua tangannya, wajah mereka beradu pandang, raisa tidak menghindar meski menahan malu yang luar biasa, "terima kasih kak!", raisa mengucapkan tiga kata itu dengan tulus dari hatinya.


Leonard ingin sekali mengecup bibir mungil berwarna merah muda milik raisa namun dia urungkan saat melihat pintu lift sudah terbuka, leonard kembali menyeret koper besar dan tubuh mungil raisa.


Leonard menurunkan tubuh raisa mengetik beberapa angka mengklarifikasi sidik jari sebagai kunci masuk, leonard memasangkan identitas baru di kunci apartemennya, "sayang pinjam jempolnya", leonard meraih tangan raisa dan menaruhnya dia atas pendeteksian hingga akhirnya berhasil.


Leonard membuka pintu, "selamat datang di rumah istriku", leonard dengan manis membuka pintu.


Sebuah diding ber cat putih dengan sebuah kursi mahal dan berbagai ornamen lainnya menghiasi apartemen itu seperti bekas makanan piring cucian yang belum di cuci, dan lantai yang bersih namun berceceran bekas makanan ringan.


Raisa menggeleng menepuk jidatnya, rumah yang layaknya kapal pecah dengan pakaian kotor berserakan, leonard tersenyum lebar mengusap tengkuknya yang terasa meremang berusaha menelan malu di mulutnya.


Adzan asar berkumandang nyaring, raisa menghembuskan nafasnya kasar, dia harus bekerja keras di hari pertamanya pindah rumah.


"Disini kamar kita!", leonard membuka pintu dan terlihat kasur yang berukuran besar dengan selimut yang berceceran dan bantal yang berada di mana mana membuat raisa menelan salivanya.


"Tidak ada, ini tempat rahasiaku!", raisa mengangguk mengerti, raisa membuka lemari di kamar tersebut, dan untunglah lemari leonard cukup rapih, raisa mengambil sebuah suwiter leonard, "aku pinjam ini ya kak!", raisa menuju sebuah pintu yang menurut intuinsinya kemungkinan adalah kamar mandi, raisa masuk dan untunglah kamar mandi juga cukup rapih.


Leonard terpaku, dia berfikir apakah istrinya akan marah atau tidak melihat apartemen nya yang berantakan seperti itu, tak berapa lama raisa keluar dari kamar mandi dan terlihat sudah membersihkan wajahnya dan mengambil air wudhu dengan menggunakan kerudung putih rok batik yang semula dia kenakan dan baju suwiter milik leonard.


"Ayo kak kita sholat asar dulu!", ajak raisa setelah keluar kamar mandi, leonard mengangguk, selama leonard di kamar mandi raisa merapikan kasur dan bantal beserta selimut yang berantakan di kamar itu hingga terlihat lebih rapih, raisa membuka koper yang semula leonard bawa, di sana terdapat uang yang hampir memenuhi seluruh koper, raisa mengambil sebuah mukena dan sejadah yang di gunakan leonard sebagai maskawin untuk raisa.


Leonard keluar dari kamar mandi dan dilihatnya sang istri yang sudah mengenakan mukena.


Mereka melakukan sholat berjamaah asar, setelah selsai raisa mengecup lembut punggung tangan leonard dan dihantam sebuah kecupan di kening raisa dari leonard.


"Kak cape ya?", tanya raisa melihat mata leonard yang memerah, leonard menjawab dengan anggukan, "gak papa sekarang sini tidur!", raisa menepuk pahanya meminta suaminya untuk tidur di sana, leonard mengerti dan tidur di pangkuan istrinya.


Raisa melantunkan ayat ayat suci dan dirasakan ketenangan luar biasa di hati leonard, dia menjadi tenang dan terlelap di pangkuan istrinya.


Raisa tersenyum saat mendapati leonard tertidur, raisa perlahan beralih mengangkat leher leonard dan menaruhnya, raisa mengambil bantal dan selimut tebal dia menyelimuti tubuh suaminya dengan selimut besar itu, dan memberikan ganjalan di kepala dan leher leonard menggunakan bantal.


Menatap wajah tampan di hadapannya hampir membuatnya tak percaya bila dia telah menikah, raisa mengelus rambut leonard dan mengecupnya sekilas.


Raisa melepaskan mukena yang semula dia kenakan dan merapikannya, rasa keram mulai menjalari perut raisa dan memilih terdiam sejenak di samping suaminya.


Bersambung...