Hijrah & Hapidzoh

Hijrah & Hapidzoh
Api cinta



Pagi hari raisa mencari tanah untuk mengisi potnya yang ternyata sangat sulit, hingga diapun mengurungkan niatnya untuk bercocok tanam.


Siangnya leonard bekerja online jadi dia berada di dalam kamar, berbeda dengan raisa yang terus merias rumah barunya menempatkan barang barang yang semestinya namun masih terlihat minimalis, raisa menata rumah barunya dengan sangat baik, merawat suaminya dengan baik.


Dua hari berlalu raisa mendapati paket yang dipesan suaminya, sebuah kardus berukuran sangat amat besar dan mungkin seukuran lemari pendingin dua pintu, raisa amat kesulitan memasukan benda itu kedalam rumahnya.


"Sayang.. Paketnya susah di masukin!", raisa berteriak menjaga paketnya di ambang pintu.


Leonard terkekeh tak kala menatap istrinya tengah berpikir agar paket di depannya dapat di masukkan, "butuh bantuan?", leonard memeluk istrinya mengecup kening terkasihnya.


"Paketnya harus gimana?, susah sayang!", raisa bermanja bergelayut di leher kokoh leonard.


"Tamu bulannannya usir aja sayang!, aku mau kamu", leonard menempelkan keningnya dan akan memakan bibir istrinya.


Raisa sigap menutup bibir sensual di hadapannya dan memalingkan wajahnya memberi jarak tubuhnya, " paketnya gimana?", tanya lagi raisa penuh penasaran.


"Buka aja kardusnya masukin dalemnya aja ke rumah", leonard tersenyum simpul mengerti dengan dirinya yang mang harus tahan dan berpuasa untuk menahan nafsunya.


Raisa manggut manggut dan membuka kardus besar di depan matanya, dia terbelalak bukan main menatap sebah gaun pengantin yang sangat indah, mulutnya menganga dengan tangan kiri sebagai penutupnya dan tangan kanan berusaha menyentuh gaun yang masih tersegel rapih.


"4 hari lagi pernikahan kita akan di umumkan dan resepsi besar besaran akan di gelar di hotel AT, ini untukmu sayang!", leonard menjelaskan maksud gaun itu dan menggenggam tangan lembut yang mempu membuatnya terhanyut.


Raisa tersenyum dengan butiran mutiara menjelajahi pipinya, pelukan hangat dia berikan pada pria tercintanya, "terima kasih sayang", raisa memeluk penuh haru.


Leonard tersenyum lembut dan menggapai kedua pipi manis istrinya, mengecup keduanya dan membisikan sebuah kata manis di rasa dan lembut di telinga, " kemanakah aku mencari bara api, ketika bara hati padam?, kamulah asal api itu bermula dan kamu pula cinta ini bersemayam, tak perlu ada bara untuk membakar cukup kehangatan yang dapat menetap agar selalu tinggal", leonard kembali mengecup kening raisa.


Cinta yang dijaga raisa berbuah manis saat dia dewasa, rindu yang selalu mengancamnya tiap kali angin kesunyian datang tak pernah memadamkan api cinta di dadanya.


Jadi mana mungkin api hati akan musnah bila sumber api itu terjaga dan terpelihara dengan sempurna, maka kini dia harus terus menjaganya hingga usia menutup kehidupannya.


(Jadi melow.. Pas bahagia bahagianya, maaf kata kata di atas yang di sampaikan leonard aku kutip dari ucapan suami tercinta 😘).


4 hari berlalu, hari ini leonard memastikan acara resepsi yang akan di gelar di sebuah hotel ternama di ibu kota.


Raisa memberanikan dirinya berjalan melihat cermin dan terlihat dirinya yang sangat sempurna, bunda elfie sudah menunggu raisa di ruang tamu beliau sangat mengagumi kemampuan raisa merawat rumah yang sangat apik bahkan di rumah itu tidak ada debu sedikitpun, leonard memberi tahu ibunya bila raisa yang melakukan semuanya.


Bunda elfie melihat raisa yang sudah berdiri di ambang pintu kamar matanya tak berkedip menatap wajah cantik yang kini terlihat di depan retinanya.


"Apa ini putri bunda, cantik sekali!", bunda elfie mendekat dan menggenggam tangan raisa dengan lembut.


Raisa bersemu kemerahan pandangannya di jatuhkan ke lantai rasa malu mulai menjalari tubuhnya.


"Pantesan si leo gak kemana mana tujuh hari ini rupanya dia mengunci bidadari di tempat persembunyiannya!", bunda elfie tertawa geli saat dia tidak dapat menghubungi putranya dan mendapatkan pesan dari sang putra bila dia ingin beternak manusia.


"Bentar, kamu beneran udah di sentuh leo?", bunda elfie melihat raisa dari ujung kepala sampai ujung kaki dan tidak melihat kelainan sebagaimana perawan yang di ambil kesuciannya, bahkan bunda elfie yang bisa menilai orang dengan tajam itu masih melihat bila raisa belum di sentuh oleh leonard.


Raisa menggeleng pelan, dia meremas tangannya yang terasa dingin dengan keringat yang membasuhi sela jemarinya.


"What?!, jadi leo..", bunda elfie mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Bunda sebenarnya aku datang bulan malam itu jadinya..", belum selsai kalimat terakhir yang akan raisa katakan gelak tawa terdengar dari bunda elfie.


"Wuahahahha .. Feet.. Hahah.. Jadi.. Hahaha..", bunda elfie memegangi perutnya yang terasa sakit, senang rasanya dapat menertawakan kesialan putranya sendiri.


"Kak.. Huft.. Huuh..", seorang wanita berkerudung merah muda dengan gamis yang menutupi tubuhnya datang dengan nafas tersegal.


"Afifah!, atikah!, ", raisa tersenyum melihat kedua sahabatnya yang tiba begitupun bunda elfie.


"Assalammu'alaikum bunda!", atikah mengecup punggung tangan bunda elfie dan diiringi dengan saliman dari afifah sesudahnya.


"Wa'alaikum salam, waah, kalo bunda kumpul sama kalian terasa jadi ema ema yang punya banyak anak gadis yang harus di jaga!", bunda elfie tersenyum pada keduanya.


"Oh ya ayo berangkat, kasian pak supir sudah menunggu lama", bunda elfie menggandeng tangan raisa, sedangkan afifah dan atikah menghembuskan nafasnya kasar, mereka baru sampai dan harus berlanjut ke perjalanan selanjutnya.


Bersambung...