
Dalam episode kali ini mengandung edukasi bari para pembaca tersayang yang sudah menikah, di mohon yang belum menikah bersabar dan jangan baca episode ini dan bacalah setelah kalian menikah..
..Love you..
Leonard menatap geming wajah cantik tanpa kerudung yang baru keluar dari kamar mandi, rambut yang basah menjadikannya terlihat begitu menggoda deru nafas berat menerjang dada leonard rasa ingin memiliki kian menjadi memenuhi sanubari.
"Kak..?, mandilah dulu", raisa mendekat dan membuka koper yang berada tak jauh dari pandangan matanya, rasa sabar bergemuruh di dada leonard dia mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi yang semula di gunakan sang istri.
Leonard yang dewasa tak ingin bermain seenaknya, tersadar dia sudah berjanji dengan tobatnya.
Di kamar besar dengan aroma harum membuat raisa tersenyum getir, rasa terima kasih pada suaminya mungkin tak terukir, sabar di hati suaminya sudah melebihi batas manusia, 'biarkanlah kamu mau melakukan apa malam ini!, aku akan terima untuk ibadah di malam yang akan panjang', ucap raisa mengambil sebuah pakaian terbuka yang sangat tipis, suaminya memang tidak pernah benar benar melihat tubuhnya, dia ingin menyajikan malam ini untuk santapan sang suami.
Raisa memoles bibir manisnya dan menebarkan beberapa serbuk di wajah cantiknya, rambutnya kian mengering dengan mesin yang di genggamannya.
Dug, deg.. Gelek.. Leonard susah payah menelan saiva nya menatap kecantikan istri tersayangnya tengah duduk di tepi ranjang menanti dirinya, sebuah do'a keluar dari bibir leonard.
“Allaahuma innii as’aluka khairahaa wa khaira maa jabaltahaa ‘alaihi, wa a’uudzubika min syarrihaa wa syarri maa jabaltahaa ‘alaihi.”
Gagap gempita membahana memenuhi jiwa, mengguruh riuh mengguntur menggertakan sebuah benda yang tertidur, menyentak merentak rentak, membayu menderu deru, mungkin demikianlah gambaran perasaan leonard saat itu.
Leonard mendekat menepuk pundak sang istri dengan bibir sensualnya, deru nafasnya memenuhi tengkuk dengan aroma tubuh raisa.
"Apakah aku boleh melakukannya istriku?", leonard bertanya dengan sebuah jawan dengan anggukan tanda persetujuan.
Kembali sebuah do'a keluar dari bibirnya, “Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa”, dan meniup kening sang istri.
"Maafkan aku yang baru memberikan malam ini untukmu suamiku", raisa menahan lelehan di matanya, dia tersenyum simpul berusaha menenangkan hatinya.
"Jangan takut sayang, percayalah aku akan pelan pelan", bisik leonard menyelipkan tangan kokohnya di sela sela leher raisa, leonard menyatukan kening mereka saling merasakan hembusan nafas masing masing.
"Setelah malam ini kita akan senafas, se detak dan sejalan, berjanjilah untuk selalu bersamaku", leonard menatap lembut mata indah itu, dengan sebuah anggukan sudah pasti sebuah jawaban yang di nantikan leonard.
Sebuah kecupan lembut mulai menggeliat memenuhi bibir raisa, hawa panas memenuhi tubuhnya, jiwanya bergelora menginginkan lagi dan lagi, tak dapat di pungkiri, sensasi menantang yang tidak pernah dia rasakan dapat membuatnya lupa daratan.
Leonard tersenyum simpul saat sang istri mulai menikmati sentuhannya sebuah jilatan di cuping telinga raisa mampu membuatnya menggeliat menggigit jari, bibir itu kian menguasai leher jenjang yang indah dengan renum terang lampu tidur yang menyala.
Wajah cantik itu mampu membuat leonard gelagapan dan hampir kehilangan kendali tubuhnya, rasa ingin lagi dan lagi membuatnya meningkatkan permainannya.
Leonard menyingkirkan sebuah tali yang sudah tergantung di lengan raisa membaringkan tubuh mungil yang mampu membuatnya bersabar untuk sekian lama, leonard mulai menjilat gundukan gunung di depan matanya, memainkan puncak gunung itu dengan jilatan dan tekanan dari jarinya, raisa menggeliat mengigit bibirnya sendiri.
"Keluarkan saja sayang, jangan menahannya", leonard menatap bagaimana sang istri mulai menahan kenikmatan dunia yang dia berikan.
Sebuah gigitan lembut memicu suara keluar dari bibir raisa, gigitan dan cubitan di gunung indah yang pertama kali tersentuh manusia itu mampu menyajikan petualangan terindah dan terbesar bagi leonard.
Semakin liar pula sentuhan leonard dengan dada yang kian memicu untuk meminta sebuah hal yang lebih, bibirnya kian bersemangat menikmati bagian bawah perut raisa, rasa aneh menjalari tubuh raisa hingga ringkikan dan teriakan kembali terdengar di telinga leonard.
Leonard tersenyum puas dengan kemampuannya memanjakan sang istri tercinta.
Bersambung...
("Lanjutin gak ya?, di tunggu besok jawabannya di kolom komentar")