Hijrah & Hapidzoh

Hijrah & Hapidzoh
Calon suami ica insyaallah



Leonard membantu raisa membuka pintu toko kuenya, dilihatnya di dalam toko itu yang di penuhi dengan banyak ornamen berwarna merah muda, leonard terkekeh dan mengambil kembali kunci itu membuka pintu selebar lebarnya, leonard melihat raisa yang ingin berdiri dan beberapa kali gagal, namun dengan tekad kuatnya raisa menahan rasa sakit di kakinya dan berdiri tegak, satu kakinya dia gusur, leonard terperanjat melihat raisa yang kesulitan dia tanpa aba aba langsung meraih tubuh mungil itu


"Kamu nakal banget si?, udah tahu sakit masih aja maksa buat jalan", gerutu leonard pada raisa dan di bawanya ke dalam toko dan dudukan di sebuah sofa di sudut ruangan tubuh mungil itu, leonard kembali ke luar mengambil peperbeg yang berisi makanan dari dalam mobil dan dia taruh di atas meja di depan raisa.


"Dimana dapur?", tanya leonard melihat sekeliling, raisa menunjuk ke pojok kiri dimana ada sebuah pintu kayu jati.


Leonard mengangguk mengerti, dia menaruh ponsel, dompet dan jam tangannya di atas meja, dia ke dapur dan memasak air hingga air itu cukup hangat.


Dapur itu memang cukup sempit karena di penuhi alat alat untuk membuat kue, selain itu juga ada beberapa kardus barang yang kemungkinan sebagai bahan bahan kue.


Leonard kembali dengan baskom yang di penuhi air, dia menaruh air itu di depan raisa, "kakinya taruh di sana biar gak terlalu bengkak", perintah leonard, dia duduk di samping raisa dan membuka peperbeg di hadapannya.


Leonard membuka sumpit yang masih terbungkus pelastik, dia memakainya untuk makan dan dilihatnya raisa yang masih terdiam, dengan mengurut kakinya yang berada di dalam air hangat.


Leonard menyodorkan sebuah makanan ke depan mulut raisa dengan sumpit yang dia gunakan, tanpa ragu raisa memakan suapan di hadapannya, dan menelannya, karena dulu ibunya pun selalu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan leonard padanya.


"Eh sa itu sumpit bekas aku tau!, kata orang bila bibir beradu meski tidak langsung itu bisa di artikan ciuman loh!", ucap leonard yang sebelumnya terpaku, dia mengira raisa akan menolak suapannya tapi tidak di sangka raisa malah menerimanya.


Raisa terpaku dengan wajah yang bersemu kemerahan, dia tidak menyadari dengan kelakuannya sendiri yang sudah keterlaluan dan sangat memalukan.


"Eh.. Maaf kak!, aku gak tahu kalo itu bekas kakak!", raisa mengelak dan memalingkan wajahnya.


Leonard gemas sekali dengan kelakuan raisa, hingga adzan duhur berkumandang menyadarkan mereka.


Raisa berusaha berdiri dari duduknya dia menginjak lantai yang basah karena air di kakinya hingga hampir membuatnya terjatuh matanya tertutup yang sudah membayangkan benturan keras di tubuhnya pada keramik di hadapannya. leonard yang sigap menerima tubuh rasa yang hampir menimpa lantai.


"Bisa gak si jangan buat orang khawatir terus!, bisa kan minta tolong!", ucap leonard mendudukkan kembali raisa, celana leonard basah terkena cipratan air dari dalam baskom, "basah kan!", ucap leonard melihat baju gamis raisa yang tergerai.


"Kakak juga, maaf!", raisa menundukkan pandangannya, meski ilmunya sudah selangit namun raisa tetaplah gadis polos yang belum mengerti tentang dunia sesungguhnya, meski dia menyadari kesalahannya dia juga tidak bisa menghindar di perlakukan istimewa seperti itu.


"Mau sholat ya?", tanya lagi leonard sembari memakan makanannya, "mendingan makan dulu biar ada tenaga, nanti setelah sholat sekalian ke dokter periksain kaki kamu".


Raisa mengangguk dan mengambil peperbeg di depannya, menikmati makanan mereka bersama sama dengan keheningan di anantara keduanya.


"Kamu pernah pacaran gak sa?", leonard kembali bertanya setelah menghabiskan makanannya memperhatikan raisa yang tengah menyantap makanannya, raisa menggelang.


"Ta'aruf atau sejenisnya gitu?", lagi lagi raisa menggeleng.


"Kalo suka sama cowok, pernah?", raisa mengangguk mengiyakan.


"Beruntung banget tuh cowok, heeeh.. ada fotonya gak?", raisa menggelang.


"Atau identitas atau apalah gitu?", leonard bertanya terus menerus,


Raisa yang mulai terpojok akhirnya terdiam.


"Kakak coba berdiri di sana dan menghadap ke arah cermin, ada di sana identitasnya!", ucap raisa sembari melanjutkan makannya.


"Yakin gak ada?", tanya raisa mengangkat alisnya.


"Hmm..", leonard kembali terdiam mengulang kembali ucapan raisa, "aku berdiri disini, menghadap ke cermin dan akan ada identitasnya".


Deg.. Deg.. Deg.. Jantung leonard seakan melonjak keluar, menyadari siapa orang yang di maksud raisa, dia menatap raisa yang masih setia dengan makanannya, wajahnya memerah bak kepiting rebus, hawa menyenangkan mengitari hidupnya hatinya serasa di penuhi bunga di musim semi, "indah banget", bisik leonard.


Raisa tersenyum lembut, dia menghentikan makannya setelah dirasa cukup karena memang dia tidak pernah makan sampai kenyang.


Raisa kembali berusaha berdiri dan berhasil dia menyeret kaki kanannya berusaha menahan rasa sakit, leonard yang masih berdiri menatap cermin hampir tak percaya dengan ucapan raisa, dia tidak menyadari bila raisa sudah tidak ada di tempat duduknya.


Leonard terus menatap dirinya sendiri pertanyaan yang berseliweran di kepalanya terasa menghilang saat mendengar jawaban raisa, 'gue mungkin baru 24 jam di putusin eki, sekarang gue malah berhadapan dengan wanita jutaan kali lipat lebih baik dan lebih cantik dari eki, nikmat tuhan yang manalagi yang kau dustakan leo!', ucap hatinya dengan senyum lebar yang tak pernah pudar.


"Sa?, kamu sejak kap..", saat menengok leonard tersadar bila raisa tidak ada di tempat duduknya.


"Sa?, ..", leonard celingukan mencari raisa di setiap penjuru, hingga dia mendengar sebuah lantunan ayat suci di lantai dua, dia menaiki setiap anak tangga dan melihat sebuah pintu dimana asal suara itu berasal.


Leonard terhanyut syahdu dalam lantunan itu, jiwanya terasa terisi penuh oleh butiran embun dimana rasa sejuk memenuhi sanubarinya, leonard memegang dadanya sendiri yang merasakan debaran indah yang bahkan bersama eki sekalipun dia tidak pernah merasakan hal itu.


Leonard membuka pintu itu namun dia tak mendapati raisa di sana dia justru menatap berbagai jenis kitab di lemari yang berdempetan sebuah meja belajar dan kasur berukuran besar tanpa ranjang, leonard terfokus pada sebuah buku kecil di meja belajar itu, dia membuka buku kecil dengan bersampul hitam di tangannya.


Halaman pertama dia melihat foto raisa dan sang ibu, dia menatap lekat foto itu hingga entah mengapa air matanya menetes dan membasuhi kertas itu, di sana ada sebuah tulisan yang membuatnya terenyuh, "'mamah harus sembuh ya!, "', sebuah tulisan yang sangat sederhana namun bisa membuatnya merasa sakit.


Di halaman ke dua dia melihat sebuah foto anak laki laki yang di gunting, bersama foto raisa saat kecil dan sebuah tulisan, "'calon suami ica insyaallah, aamin ya allah"', leonard menaikan alisnya dia melihat foto lebih dekat, dan Deg, itu adalah foto dirinya saat leci, dan foto raisa dengan kerudung putih yang mungkin saat berumur 12 tahun, "feet..masih kecil udah mikirin nikah dasar gadis cengeng", leonard terkekeh dengan sifat manis raisa.


Ceklek, pintu di sebelah ruangan itu terbuka, "kak leo!, jangan lihat lihat, itu punya aku kak!", raisa berjalan lebih cepat namun karena kakinya yang sakit dia berusaha menggusur kakinya dan meraih buku di lengan leonard.


"Masih kecil udah mikirin macam macam dasar!, ya sudah calon suamimu ada di sini ayo jadiin suami sekarang!", leonard mengangkat buku itu tinggi tinggi, hingga raisa yang jauh pendek dari leonard berusaha meraihnya dengan meloncat dan krek, kakinya bersuara dan sangat sakit.


Raisa meringis, dia menunduk di keramik tanpa alas, leonard yang melihat itu tak tinggal diam dia duduk di depan raisa dan membiarkan buku itu berdiam di atas keramik, raisa dengan cepat mengambil buku itu dan memeluknya.


"Kamu itu suka banget si buat orang khawatir!", raisa menangis saat memeluk buku kecil itu, dia menitikkan air matanya hingga tak terasa dia telah dengan mata sembab.


"Sa!, cengeng banget si!, segini aja udah nangis!, aku bercanda kok, aku juga bakal kasihin bukunya ke kamu kalo aku udah selsai baca", raisa makin sesegukkan dia memeluk kakinya sendiri.


"Sa, udah dong!, masa nangis mulu si!, kamu jangan cengeng gini!, kalo kamu berhenti nangis aku janji bakal kasih apapun yang kamu mau!, udah please jangan nangis ya!", leonard tidak dapat menahan dirinya dia memeluk tubuh kecil raisa.


"Udah jangan gini ya!, kamu gak sendiri aku ada disini sya!", raisa mengangkat wajahnya menatap mata leonard dan mendorong tubuh leonard menjauh darinya.


"Sa!, maafin aku sa, aku kebablasan!", leonard gelagapan dia benar benar tidak dapat menahan dirinya.


"Kakak tenangin diri kakak dulu, sholat gih!, hiks hiks", leonard tak dapat melakukan apa apa dan menuruti keinginan raisa untuk sholat di tempat dimana sebelumnya raisa sholat.


"Waah gila!", leonard terpaku melihat lemari yang mengelilingi tempat tersebut yang di penuhi piala, piagam dan medali, leonard melihat pintu pelastik yang seperti kamar mandi.


Bersambung...