Hijrah & Hapidzoh

Hijrah & Hapidzoh
Sesal sesak



Nathan berhasil memanah beberapa jenis ikan dan menarik perahu karet ke tepian pantai, atikah hanya memperhatikan nathan di atas perahu karet, ada secercak kagum dari diri atikah memperhatikan kemampuan nathan, hingga akhirnya sampai di tepi pantai.


"Kita bakar beberapa ikan di sini buat tambahan pendamping nasi!", ucap nathan duduk di bawah pohon kelapa untuk berteduh dari sengatan matahari yang sangat menyiksa.


"Bakarnya pake apa?, emang bawa korek api?", tanya atikah penasaran.


Plak, nathan memukul keningnya sendiri, "ya sudah ayo ke atas lagi, bentar!, mau kelapa muda gak?", tanya nathan melihat pohon kelapa yang berbuah.


Atikah mengangguk setuju dan dengan sigap nathan memanjat pohon kelapa dan mengambil beberapa kelapa muda, namun dia kembali fokus pada benda hitam yang menempel di pohon kelapa, "kamera?", nathan tertegun sejanak, 'jadi ini semua sudah di rencanakan leo!', ucap hati nathan kembali menyimpan kamera itu di tempat semulanya, dia enggan menunjukkan kamera itu pada atikah, toh dia juga berpikir bukan hal buruk juga yang di lakukan leonard, dia tahu abang angkatnya itu menginginkan dirinya bisa berduaan dengan atikah.


Nathan turun dari atas pohon kelapa dan mengumpulkan semua buah kelapa yang dia ambil dan membawanya ke hadapan atikah.


Atikah menatap ke atas bukit di mana di sana terdapat sebuah hutan yang sangat hijau dan rindang, "than di sana tempat apa?", tanya atikah bingung.


Nathan menyipitkan matanya memperjelas lensa matanya menuju tempat yang di tunjukkan atikah, "oh itu taman hijau", nathan menjawab dan kembali menundukkan matanya dan mengempeskan perahu karetnya.


"Di Sana ada apa aja?", tanya lagi atikah semakin penasaran.


"Kalo mau tahu, besok kita ke sana sambil nyari sayuran siapa tahu di sana ada sayuran", ucap nathan berkemas membawa kembali perahu karet, kelapa muda dan beberapa perlengkapan menyelamnya, sedangkan atikah dia membawa ikan hasil panahan nathan dan bekal yang belum sempat mereka makan.


Hari itu berlalu dengan cukup baik, baik leonard dan raisa atau pun nathan dan atikah.


Hingga hari pun berlalu dan lembai berganti siang.


***


Pagi ini leonard pergi ke kantornya untuk bertemu koliga bisnisnya, selain karena sebelumnya leonard tidak ke kantor setelah menikah dan meski rapat pun dia memilih secara virtual.


Siang itu bunda elfie terkekeh melihat raisa dengan capitan hidung tengah memasak, "sampe segitunya masak buat suami!", tegur bunda elfie.


"Heheh. Iya bun, bunda nanti temenin aku ke kantor kak leo ya!, sekalian jemput ridwan yang pulang sekolah", ajak raisa bersemangat.


Bunda elfie mengangguk setuju, hingga akhirnya siang itu bunda elfie dan raisa menjemput ridwan dari sekolah, dengan sumeringah ridwan tersenyum lembut dan memeluk raisa.


"Dede bayi lagi apa?", sapa polos ridwan menatap perut rata raisa.


"Lagi di peluk sama paman tampan!", raisa terkekeh dengan suara yang di buat buat menirukan anak kecil.


"Wah seneng gak di peluk sama paman tampannya?", canda ridwan dengan senyum indahnya, bunda elfie memperhatikan mereka dan sangat tertegun melihat si mulut besi tengah bercanda dengan raisa.


"Seneng banget!", timpal raisa memeluk ridwan kecil, mereka kembali memasuki mobil dan tancap gas menuju kantor leonard.


Di dalam kantor terjadi keriuhan karena tanpa persiapan kedatangan putri mahkota dan sang ratu bersama pangeran ke tiga, mereka membungkuk memberi hormat, raisa yang tidak biasa di perlakukan seperti itu menjadi tidak enak hati.


"Wah cepat hubungi kantor CEO ( Chief Executive Officer) nyonya CEO datang untuk menemui tuan muda", ucap salah satu tim humas, namun berhasil di cegah oleh bunda elfie.


"Jangan beri tahu leonard, kami akan ke sana tanpa memberi tahunya!", ucap bunda elfie, dengan senyuman raisa yang membuat mereka mengangguk.


Semuanya nampak aneh di mata raisa dan bunda elfie pun melihat agenda CEO dari salah satu pekerja di sana, dan senyum setelahnya.


"Kamu duluan dulu sayang di temani sama iwan biar gak nyasar!", ucap bunda elfie menyerahkan bekal yang semula dia bawa di tangan kanannya.


Raisa mengangguk dan mengikuti langkah kaki ridwan, ridwan memasuki lift khusus CEO dan langsung tertuju ke ruangan leonard.


Raisa menghembuskan nafasnya kasar dan membuka pintu besar di hadapannyan, sedangkan ridwan menyenderkan tubuhnya ke tembok dan dan membiarkan raisa masuk.


"Assalam...", mata raisa seketika membulat sempurna menatap apa yang ada di retinanya.


"'Prang, prang"', "sst..", ridwan terkejut sekaligus kepanasan karena terciprati kuah sayur dari bekal yang di bawa raisa yang terjatuh, ridwan menatap geming ke arah raisa dan melihat ke arah dalam ruangan.


"Kak, ica?", ridwan menggenggam tangan ica namun ica malah menutupkan tangannya ke mulut dan berlari menuju lift yang semula dia gunakan, di lihat bunda elfie yang berdiri baru sampai dan raisa langsung masuk setelah bunda elfie keluar dan memijit tombol ke lantai dasar.


Bajunya basah oleh kuah sayur dan berlari memberhentikan sebuah taksi, "ke sini pak", raisa menunjukkan alamat toko kuenya, dengan dada yang terasa sangat sesak raisa pergi dan sekilas dia melihat leonard yang ingin mengejarnya namun gagal.


Raisa samai di toko kuenya dan melihat kariyawan tetap nya tengah bekerja dia langsung nyelonong menuju kamarnya meski di sapa pun dia enggan bersuara dan memilih diam.


Di dalam kamar raisa merasakan kaki dan tangannya yang bergetar hebat, dengan dadanya yang terasa amat sesak dan air yang mengaliri mata dan keringat dingin yang membasahi tubuhnya.


Bruk, raisa terjatuh di lantai dan tidak ada yang tahu tentang kondisinya saat ini, tak berapa lama leonard yang mengikuti raisa, tiba di depan toko kue yang di penuhi banyak orang.


"Eh pak leo?", sapa seorang wanita melihat leonard yang kalang kabut.


"Tadi istri saya kesini?", tanya leonard penuh harapan.


Wanita itu mengangguk, "iya neng ica ada di dalam kamarnya, tadi dia kelihatan tidak sehat wajahnya pucat tuan!", jelas wanita itu.


"Tutup dulu tokonya hari ini!, yang sudah makan dan pesan tidak perlu bayar biar saya yang bayar usahakan untuk tutup dalam 10 menit!", ucap leonard dan bergegas ke kamar raisa.


Leonard mengetuk pintu beberapa kali ke kamar raisa namun tak ada suara apapun dari dalamnya, "ca?, buka pintunya ca?", leonard menggedor pintu kian menjadi.


Beberapa orang yang mulai meninggalakan toko tersebut pun di buat penasaran dengan apa yang di lakukan leonard.


"Pak leo, neng icanya kenapa?", tanya kariyawan raisa yang lain.


"Gak papa cuma urusan rumah tangga aja!", ucap leonard dengan mata yang berkaca kaca.


"Wahhh.. Apa jangan jangan penyakit neng ica kambuh lagi ya!, haduh bahaya ini", ucap kariyawan itu dengan wajah khawatir, "di dobrak aja pak, saya takut neng icanya kenapa kenapa", ucap wanita itu meremas tangannya merasa khawatir.


Leonard membulatkan matanya dia mengingat kejadian sebelumnya di mana dirinya pertama kali bertemu dengan raisa, saat mendapatkan informasi meninggalnya sang ibu raisa pun pingsan.


Leonard gelagapan, dia mencoba mendobrak pintu itu beberapa kali namun gagal hingga akhirnya entah yang ke berapa kali leonard akhirnya berhasil dan matanya kembali terbelalak saat melihat tubuh raisa yang sudah terkulai di lantai.


"Sayang!", leonard memeluk raisa, merasakan tubuh raisa yang dingin dan wajah yang sangat pucat.


Leonard dengan mata yang mengeluarkan cairan dan langsung membawa raisa ke rumah sakit.


Di perjalanan leonard mengendarai mobilnya seperti orang yang kesetanan beberapa kali dia menerobos lampu merah hingga akhirnya sampai di rumah sakit.


Ferry tertegun saat mendapatkan panggilan ke UGD dan langsung memeriksa raisa, dia sedikit terkejut melihat kondisi raisa.


"Apa dia sedang hamil?", tanya ferry pada leonard yang terus mundar mandir dengan kaki yang tak mau diam.


"Iya", jawab leonard tanpa rasa bersalah, dokter ferry menggeleng dan mulai memasukan air infusan ke arteri darah raisa.


Dia mengambil sempel darah raisa dan menyerahkannya ke perawat, " bawa ke leb dan berikan padaku hasilnya, beri tahu pihak leb agar di selesaikan secepatnya, dan tolong siapkan darah golongan A untuk persiapan transfusi", seru lagi ferri pada perawat yang lain.


"Gimana fer?", tanya leonard dengan keresahannya.


"Kamu tuh ya leo, aku kira beneran kamu mau tobat!, dia mengalami syok berat dan kemungkinan dia kekurangan Hb melihat kondisinya yang seperti ini, dan lagi kamu itu ya.. hm... Tau punya istri penyakitan, mau hamil malah gak di periksain dulu, bener bener!", dokter perry lagi lagi menggeleng.


"Emang kenapa?", leonard penasaran dan menatap sekilas istrinya yang tengah terbaring.


"Ya kalo ica aku si udah tahu kenapa dia rahasiain penyakitnya dari kamu, karena mungkin dia takut kamu akan menyuruhnya untuk aborsi!", ucap ferry menjelaskan, "tapi kamu tenang aja dia baik baik aja sekarang dan bayi kamu juga kayanya baik baik aja, meski mungkin dia harus melahirkan secara prematur", ucap perry menambahkan.


Leonard bernafas lega, hingga akhirnya raisa di pindahkan ke ruang VVIP, cahaya menyilaukan memasuki jendela kamar suasana sunyi tercipta sekejap, leonard meruntuti kesalahannya sendiri mengusap keringat yang terus membasuhi kening sang istri, sesal sudah pasti menyemayami hatinya, hingga akhirnya keriuhan kembali terjadi saat ayah dzkri memaskuki ruangan, bunda elfie memberi tahukan kejadian hari ini pada suaminya, sedangkan dirinya dan ridwan membereskan kekacauan yang terjadi di perusaan leonard.


Bersambung...