
Siang itu Rama dan Alika telah tiba di sebuah Pemkaman yang luas, nampak seorang penjaga Pemakaman yang tengah menyapu beberapa makam yang nampak sangat terawat.
Penjaga makam itu terbelalak saat melihat seorang pria dengan mata hijau menghampirinya, pria itu lantas menangis dan menyungkurkan tubuhnya ke tanah.
Alika yang melihat itu amat terkejut dan memperhatikan gerak gerik pria itu, "suami ada apa ini?" tanya Alika kebingungan.
"Aku tidak tahu" ucap Rama pura pura polos di depan isterinya.
"Gusti nu maha agung, kuring rumaos tos sepuh, gusti nuhunkeun panghampura pikeun abdi, syukur abdi dugikeun ka salira gusti nu nalingakeun alam dunia, haturkeun nuhun abdi di pendakkeun sareng jang rama." (Tuhan yang maha agung, hamba sadar akan usia hamba yang tidak muda, Tuhan hamba meminta pengampunan atas diri hamba, syukur aku sampaikan kepadamu yang memperhatikan seluruh dunia, hamba mengucapkan terima kasih sebab di pertemukan dengan tuan Rama).
Alika yang sedikit mengerti dengan ucapan yang di sampaikan pria itu lantas mengernyit mengangkat alisnya sebelah, "ada apa ini?" tanya lagi Alika yang kini dia mungkin bisa menebak apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Rama menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal dia nyengir kuda hingga membuat Alika merasa sebal di buatnya.
"Jangan pura pura ada apa ini?" Alika mencubit pipi Rama gemas, Rama hanya tertawa pelan dan memeluk sang isteri.
"Aku juga sebenarnya tidak tahu tapi bila dia tahu namaku Rama berarti dia adalah salah satu warga desa" ucap Rama seraya mendekati pria itu dan menggandeng tangan isterinya.
"Permisi Pak, maaf saya hendak bertanya apa anda mengenal saya?" Rama berjongkok mentap sang pria yang nampak masih tengah menangis.
"Tentu saja Tuan Muda!" pria itu menyebut diri Rama tuan muda sedangkan setelah namanya berubah menjadi Rama gelar Tuan Muda itu telah lenyap.
"Tunggu!, anda memanggil saya Tuan Muda, sedangkan yang saya ingat saya bukanlah siapa siapa." ucap Rama meraih bahu pria yang memang belum terlalu tua itu.
"Ya Tuan Muda, saya memang salah Tuan Muda, saya sudah mengecewakan Anda, saya mengawasi Tuan Muda dari kejauhan tanpa tahu bagaimana keadaan Tuan Muda sesungguhnya, di sebabkan oleh Anda keluarga saya mati semua, hahahah.." pria itu tertawa kemudian dan hendak menyerang rama dengan sebilah pisau bertubi tubi.
Rama terkejut bukan main dengan cekatan Rama menarik lengan Alika dan membawanya menjauh, dengan sigap Rama menghindar dan membawa Alika menjauh.
"Siapa kau?" Rama mengerutkan dahinya menatap tajam pria yang baru saja menyerangnya.
"Hahahah, kau tanya siapa aku..? Sungguh Tuhan maha melihat akhirnya aku menemukanmu dan akan ku pastikan kau akan mati di tanganku!." ucap pria itu dengan kejam.
"Sayang..." tubuh Alika bergetar ketakutan dia yang memang tidak pernah ikut pelatihan seperti rayan amat ketakutan melihat orang yang sangat ingin membunuh suaminya.
"Jangan takut sayang, dia hanya pandai menggertak" ucap Rama mendekat kembali ke pria itu. Dengan cepat pria itu kembali menyerang Rama membabi buta, dengan tangannya yang cekatan Rama mengambil pergelangan tangan pria itu dan menekannya erat hampir pergelangan tangan pria itu patah, namun Rama yang sangat setabil mengontrol kemampuannya.
Pisau itupun terjatuh, dengan sigap Rama mengunci gerak pria itu. Beberapa warga desa yang melintas nampak terkejut dengan kejadian itu mereka mendekat ke arah Rama.
"Ada apa ini?" tanya seorang pria berusia paruh baya dengan rambutnya yang kian memutih.
"Aduuuh pria ini memang kurang sehat, dia mengalami gangguan jiwa, dia juga sering meneror kami saat melintas," jawab pria itu menghembuskan nafasnya yang terasa berat.
"Apa gangguan jiwa?" tanya Alika penasaran jelas jelas tadi pria itu seperti orang yang mengenal suaminya.
"Ya dia memang mengalami gangguan jiwa, dan anehnya dia juga sering mengenal orang yang sama sekali tidak kita kenali dia bisa tahu identitas orang tanpa berkenalan sebelumnya," ujar pria itu menjelaskan.
Rama mengangkat alisnya dia tidak pernah mengetahui kejadian semacam itu, dia agak ragu dan memilih tetap mengunci lengan pria itu.
"Dia warga desa di sini, dia sebelumnya menggurui sebuah ilmu terlarang dan pada akhirnya seperti itu, ah.. Sungguh kasihan nasibnya." seorang wanita menerangkan kronologi kejadian bagaimana pria itu menjadi seperti ini.
Pada akhirnya Rama melepaskan pria itu dan ternyata kini pria itu tak memberontak dan tenang, Rama agak bingung dengan situasi saat ini dia kembali melirik pada seorang pria paruh baya.
"Lalu di mana Pak Somad penjaga pemakaman ini?" tanya Rama, karena sedari tadi dia sendiri tak melihat keberadaan penjaga makan yang pernah dia tugaskan.
"Ahhh.. Iya dia sudah meninggal sekitar dua bulan lalu dan itu di sana pemakamannya, kata sebagian orang dia nampak di bunuh namun sebagian lagi mereka mengatakan Pak Somad keracunan." jelas pria paruh baya itu jujur seraya menunjuk sebuah makam dengan tanah yang nampak masih memerah. Rama mengerutkan keningnya dan melihat area pemakaman yang sangat terawat.
"Lalu siapa yang merawat pemakaman disini sekatang?, saya sangat berterima kasih akan hal itu!" ucap Rama lembut, dan Alikapun mendekat dan menggenggam tangan Rama kembali.
"Nah dialah yang telah merawat pemakaman di sini, dia menjaga pemakaman disini siang dan malam karena saat beberapa waktu lalu sering kali datang beberapa pria tak di kenal dan ingin membongkar pemakaman di sana!" jawab pria paruh baya menunjuk ke arah pemakaman Leonard.
Jantung Rama terlonjak dan melihat di sampingnya adalah pemakaman Raisa tentu saja yang di sebelah kanan Raisa tentu Leonard.
"Untuk urusan apa mereka ingin menggali pemakaman kakak saya, memang saya sangat jarang kemari namun bila saya dapat bertemu dengan Pak Somad tentu dia telah mengenal saya." jelas Rama dan semua penduduk yang berada di sana nampak saling beradu pandang.
"Kakak? Namun berdasarkan berita yang kami terima bila sebenarnya seluruh keluarga mereka telah di bantai beserta kedua adiknya." seorang warga wanita menambahkan, karena memang dia tidak tahu apa apa, dan hanya mendapatkan berita yang saling berseliweran.
"Ah ya itu memang yang terjadi di berita namun aku tidak meninggal, aku adik angkat kak Leo dan aku belum meninggal!" tagas Rama namun tiba tiba pria yang di katakan itu mengangguk layaknya orang yang mengerti dengan ucapan Rama dan tidak seperti pria gila yang sama seperti yang di ucapkan oleh para warga desa.
Rama agak bingung dengan kejadian itu karena sedari tadi dia memang sangat memperhatikan pria yang akan menyerangnya tadi, bukan hanya karena takut dia membahayakan keselamatan sang isteri namun juga memperhatikan tingkah laku pria itu yang sama sekali tidak menunjukkan gejala layaknya orang yang mengalami gangguan mental dan lebih terlihat seperti orang aneh.
Bersambung...
Jangan lupa Like, Komen dan masukin list bacaan kalian ya..
Salam cinta dari Raisa...