
Setelah kepergian para warga desa Rama dan Alika memanjatkan do'a di depan pemakaman Leonard dan Raisa. Air mata terus mengalir di dua pipi Alika, rasa rindu mendalam kini dia rasakan.
Suroh yaasin pun berkumandang dengan isak yang tak berhenti berurai.
Setelah runtuyan do'a do'a seorang pria datang menghampiri Rama dan Alika.
"Permis!" pria itu menyapa keduanya dengan sedikit menundukkan kepalanya, rambut yang gimbal dengan berewok yang tidak terawat nampak sangat kontras dengan penampilan Rama dan Alika.
"Iya!" Rama mengangkat wajahnya, menatap pria yang di katakan oleh para warga desa sebagai pria yang memiliki gangguan mental.
"Kenapa?" tanya lagi Rama tersenyum lembut.
"Itu, anu.. Saya ingin meminta maaf atas kesalahan saya pagi ini!" ujar pria itu berkata dengan lemah lembut dan penuh sopan santun.
"Tidak apa apa, aku tadi hanya terkejut!, kenapa kamu berpura pura gila?" Rama yang sudah curiga sedari awal langsung memungkas pembicaraannya pada inti yang ingin di ketahuinya.
"Oh, rupanya anda sudah tahu!" pria itu nampak malu malu menundukkan pandangannya.
"Iya, aku sudah tahu. Siapa kamu sebenarnya?" tanya Rama menatap tajam ke arah pria tersebut di takuti dia melewatkan sebuah petunjuk yang penting.
"Aa... Aku.. Namaku Amri, Khoirul Amri ta..tapi aku lebih di kenal sebagai A!" jawab pria itu lembut dengan rasa khawatir memenuhi sanubarinya.
"A?" Rama mengangkat alisnya merasa dirinya pernah mendengar akan nama itu.
"Aku tidak dapat memberi tahukan identitasku padamu sekarang, tapi aku hanya ingin memberikan ini padamu!" pria itu menyerahkan sebuah disck pada Rama.
Rama kebingungan, dan menatap lekat ke arah disck berwarna hitam dengan aksen keemasan.
"Apa ini?" tanya Rama menatap benda itu.
"Ini adalah sebuah benda yang di sembunyikan oleh tuan Leonard" ucap pria yang menyebut namanya Amry itu.
Namun belum sempat Rama bertanya sebuah tembakan melayang ke arah Rama. Rama terkejut bukan main dengan sigap dia meraih lengan Alika menjauh dari tempat itu.
"Sembunyi!" ucap pria itu memberikan jalan pada mereka untuk memasuki sebuah pondok batu bata yang nampak sudah sangat usang.
"Siapa mereka!?" tanya Rama mengingat bagaimana musuh musuhnya sudah dia musnahkan.
"Mereka adalah orang orang dari organisasi Eays" jawab pria itu lantas mengacak acak sebuah karpet yang terlipat di sana.
"Bisa mengguakan senjata?" tanya pria itu pada Rama yang kini tengah berdiri.
Rama mengangguk dengan cepat meraih sebuah pistol dan mengisi pelurunya dengan cepat, Alila yang memperhatikan mereka lantas terdiam dengan tangan yang bergetar, tak dapat di pungkiri rasa trauma di masa lalunya memang sangat melekat dalam ingatan.
"Ambil ini dan gunakan untuk melindungi diri!" ucap Rama menyerahkan pistol itu kepada Alika. Jelas Alika sangat ketakutan menyentuh benda yang dapat merenggut nyawa itu, dengan tangan yang bergetar seakan tak mampu meraih benda itu dia memaksakan ketakutan di hatinya untuk berani.
"Jangan takut! Aku tidak akan membiatkanmu kebapa napa!" ucap Rama tersenyum lembut dan memaksakan tangannya memberikan senjata tersebut.
Alika mengangguk dan dengan susah payah dia menelan salivanya. Suasana gaduh dengan suara baku tembak terdengar sangat mencekam, getaran dan rasa takut di dada Alika kian menggebu.
"Pak Gunawan!, cepat!" seru Rama meminta Pak Gunawan untuk cepat cepat sembunyi.
Dengan gaya khasnya pak gunawan mengangguk dan mendekati ke arah Rama dengan terus berjaga ditakutkan peluru menghantamnya.
Dan benar saja sebuah peluru tepat mengenai dada kiri Pak Gunawan, darah muncrat memenuhi tanah yang kemerahan.
Mata Alika yang melihat itu melotot sempurna, bibirnya lantas menjerit histeris, dan beberapa peluru kembali mengenai tubuh Pak Gunawan, para pengawal Rama yang sudah mendapatkan sinyal SOS dari Rama akhirnya tiba di belakang pak gunawan.
Baku tembak yang mencekam kian menjadi, korban berjatuhan di antara kedua belah pihak, dan kembali sebuah tembakan melayang ke arah pria yang bernama Amry.
Tembakan itu mengenai tangan kanan Amry dan sontak darah mengalir hebat, namun seperti orang yang tidak merasakan sakit pria itu lancat mengikat tangannya dengan kain sobekan dari bajunya dan kembali melakukan baku tembak.
Alika menutup telinganya merasa sangat ketakutan, Rama yang melihat sang Isteri ketakutan lantas memberikan isyarat pada para pengawalnya untuk merangsak masuk dan menembaki para pembunuh dengan membabi buta yang kini kian berkurang.
Merasa jiwa mereka terancam para pembunuh itu pergi meninggalkan tempat pemakaman itu dan berhambur memasuki hutan hutan di sekitarnya, Rama menghembuskan nafasnya dan cepat cepat berlari ke arah Pak Gunawan.
"Pak? Pak? Bangun!" melihat begitu banyak bekas tembakan Rama lantas membuka baju Pak Gunawan, alangkah terkejutnya dia saat darah mengalir hebat, dia tak menyangka bila Pak Gunawan akan melakukan keteledoran seperti itu, Pak Gunawan tidak menggunakan rompi anti peluru atau sejenisnya sehingga peluru yang masuk dan mengoyak tubuh Pak Gunawan tanpa ampun.
Tak terasa waktu senja kian tertera, Pak Gunawan berpulang dengan sangat tidak di sangka, para pengawal rama memang ada beberapa yang tertembak namun mereka menggunakan pengaman di tubuhnya sehingga peluru tidak langsung mengoyak dan membunuh mereka.
Korban terluka sangat banyak jumlahnya sirine polisi dan ambulance bersusah payah memasuki TKP, tidak ada awak media ke sana karena dengan kekuasaannya Rama tidak mengizinkan siapapun untuk meliput.
Beberapa pembunuh yang tidak berhasil kabur dan yang terluka di gelandang ke kantor polisi, Rama pun tak luput dari pemeriksaan atas dasar penggunaan senjata ilegal. Namun Rama yang memang kini memiliki akses kesenjataan di negara, diapun di lepaskan atas kurangnya bukti.
Kini Rama, Alika dan Amry menjadi korban pembunuhan berencana.
Para pembunuh itu di jatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat, mereka akhirnya di penjara dan tidak dapat keluar seumur hidup.
Alika dan Rama saat itu tengah berada di Unit Kesehatan Kepolisian mereka tengah menunggu Amry yang tengah melakukan pengobatan, sedangkan di lain tempat Pak Gunawan di bawa ke rumah sakit untuk di pulasari.
Semua tindak tanduk yang terjadi membuat Rama kian hati hati.
...
Tangisan pecah di ruang jenazah, Ikhna kecil menangis tersedu sedu menatap sang ayah dengan kain kafan putih yang sudah membalutnya.
"Papaaah.. Kenapa papah tinggalin Ikhna sendiri!" teriak Ikhna rancau dengan air mata berlinang, Rayan yang berada di samping Ikhna ikut bersedih dia memeluk Ikhna yang terus meronta ronta dan memukuli dadanya.
Pukulan itu seakan akan berupa pembersalahan Ikhna pada keluarganya, rasa pilu menggeliat memenuhi sanubari Rayan.
"Maaf...!" hanya kata itu yang mampu terucap terus menerus dari bibir Rayan, tangisan gadis itu kian menjadi saat mendapatkan permintaan maaf dari Rayan, tak terbayang oleh Ikhna bagaimana dia dapat melalui dunia kejam itu sendirian, namun dia juga tidak dapat menyalahkan keluarga Rayan karena memang itu semua terjadi akibat pilihan dari ayahnya sendiri.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan masukin list bacaan kalian ya...!
Salam cinta dari Raisa.