
Di tempat yang berbeda leonard sudah bersiap dengan jas putihnya menunggu sang bidadari menemaninya menuju singgasana keagungannya.
Sebuah mobil hitam dengan lambang kuda berhenti di sebuah gedung sangat besar, raisa keluar dari mobil yang di iringi bunda elfie, afifah dan atikah, mereka berjalan memasuki ruangan yang sudah di hias dengan banyak pernak pernik khas pernikahan.
Leonard datang menghampiri mereka, dia langsung menarik tubuh sang istri dalam pelukannya, raisa sedikit terkejut karena hampir terjatuh menginjak gaun besar yang dikenakannya.
Beberapa pembesar ikut hadir bahkan bukan hanya rekan bisnis leonard yang hadir namun rombongan mamang bersarungpun ikut datang, raisa tersenyum menatap wajah sempurna suaminya.
"Malam istri, sehari gak ketemu rasanya lama banget!, kamu sempurna sayang!", leonard tanpa basa basi akan menyantap bibir kesukaannya sebelum akhirnya dihentikan raisa karena mereka tengah jadi perhatian semua orang saat ini, raisa memang sudah terbiasa menjadi bahan perhatian namun bila melakukan hal dewasa di depan umum rasanya tidak pantas apalagi masih ada beberapa orang yang berada di bawah umur.
Atikah dan afifah menutup matanya dengan kedua tangannya, mereka bersemu kemerahan saat menebak apa yang akan terjadi, hingga akhirnya atikah mengintip dengan mengangkat jari tengahnya ke arah telunjuk dan terlihat raisa yang menggagalkan halusinasi dirinya.
Atikah terkekeh saat melihat wajah afifah yang bersemu dan menutup matanya seperti dirinya, namun atikah tiba tiba gagal fokus saat melihat pria dengan rambut merah amat mencolok memperhatikan dirinya, atikah membuang muka dan mencolek pipi afifah yang terhalang jemari lentiknya.
"Kamu lagi bayangin apa lo.. Feet..", afifah membuka kedua matanya dan ternyata tidak terjadi apa apa.
"Afifah!", seorang pria dengan wajah tampan dan kopiah hitam melingkari kepalanya menyapa afifah yang tengah malu.
"Ehem.. Dah bawa aja.. Kalian apa bedanya pacaran sama ta'aruf, nikah aja biar gak mendekati zinah", sindir atikah pada pria yang menyapa afifah.
"Siapa?", bunda elfie ikut nimrung.
"Farhan bun, dia ta'arufan sama afifah, tapi kalo pendapat aku mendingan si cepet nikah aja!, lagian kalian udah pada dewasa!", atikah menyinggung farhan yang memang berencana akan segera melamar afifah namun masih belum cukup modal untuk pernikahan.
"Dahh.. Bawa sana buat gerah aja?", atikah mendorong afifah dan mendekati bunda elfie, "aku ikut bunda aja biar gak ada fitnah!", ucap raisa seraya tersenyum.
Afifah dan farhan meninggalkan mereka, bunda elfie terkekeh menatap wajah cantik atikah.
"Kamu belum punya pasangan?", bunda elfie bertanya dengan mengangkat alisnya menatap bola mata biru atikah.
"Gak ah bun!, nyari yang tulus itu sulit, yang baik ya memang banyak tapi tulus rasanya sulit banget, lagi pula aku yatim piatu bila aku sudah menumpukan hidupku pada laki laki dia harus benar banar bisa menerima semua konsekwensinya", ucap atikah melihat ke arah raisa yang tengah di bawa pergi suaminya.
"Konsekwensinya seperti apa?", tanya bunda elfie penasaran.
"Bunda aku itu sabuk hitam karate loh, kalo semisal kan suatu hari suamiku selingkuh aku takut membunuh selingkuhannya dan nantinya aku masuk penjara, err.. Gak deh!, aku mau nyari yang setia, baik, dan bisa menyayangiku tanpa syarat", atikah mencurahkan hatinya pada wanita di sampingnya yang memiliki tinggi di bawahnya.
"Kalo sama putra bunda mau gak?", bunda elfie memegang tangan atikah, dengan cepat atikah menarik tangannya.
"Gak bun, aku gak mau jadi madu apalagi madu sahabat sendiri, ih.. Ngebayangin nya aja aku takut bun", atikah bergidik ngeri sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan.
"Feeet .. Siapa maksudnya?, hhaha.. Bentar..!", bunda elfie menengok ke arah pria yang sedari tadi memperhatikan atikah, yang nampaknya jatuh cinta pandangan terlama, karena sedari atikah memasuki ruangan pria itu terus menatap ke arah atikah.
"Setan sini kamu!", bunda elfie memanggil nathan dengan panggilan kesayangannya yang terdengar angker.
"Sini kamu!", nathan mendekat ke arah bunda elfie menatap sekilas ke arah atikah.
"Nih kenalin atikah, kamu jadi anak jangan durhaka nyari istri harus yang baik biar bunda tenang", ucap bunda elfie tersenyum lembut.
Nathan memang telah lama memperhatikan atikah sejak pertama dia bertemu dengan wajah manis di depannya itu.
Fleshback on.
Hari ke 2 tahlilan di toko raisa, nampak atikah dan afifah memeluk raisa penuh sayang dengan air mata yang berurai kecuali atikah, atikah malah menebarkan senyum manis menguatkan kedua sahabatnya.
Mata nathan menyipit menyelidiki keindahan yang terpancar dari senyum seindah bunga di musim semi itu, hatinya meneduh yang semula tengah kalang kabut dengan banyaknya perintah yang di berikan leonard.
Nathan tak berani mendekat karena dia tahu bila sebuah diding besar menjulang menghalangi keduanya.
Iman keduanya yang berbeda menyadarkan dirinya akan sebuah kebenaran tentang kemustahilan akan sebuah persatuan, hatinya tak bisa memungkiri bila cintanya telah terjatuh pada wanita berhijab besar dan tentu akan sangat sulit mereka bersatu.
Hingga beberapa hari nathan tak pernah menyapa atikah namun dia selalu memperhatikan atikah dari jarak aman, sebuah pelajaran berharga dia dapati saat nyanyian k-pop menggema di kamar raisa, saat itu raisa, atikah dan afifah tengah tertawa bertimpalan dengan sholawat menggema namun berbeda dengan atikah yang malah mendengarkan lagu k-pop di kamar raisa, baik afifah ataupun raisa mereka hanya dapat menggelang dan tersenyum dengan kelakuan atikah.
Di suatu sore atikah akan menginap di tempat raisa, telinganya disumpal dengan handset yang terpasang, kepala atikah manggut manggut menyanyikan sebuah lagu yang asing di telinga nathan namun sangat fasih di bibir atikah, nyanyian itu mengalun merdu dan mampu membawa nathan ke duanianya sendiri.
Jiwa nathan terguncang dan meninggalkan toko kue raisa dia menghubungi bunda elfie dan memutuskan untuk menjadi mu'alaf.
Seorang santriah salaf yang tidak menyadari dirinya diperhatikan dan memberikan haluan berbeda pada pandangan hidup seseorang hanya menikmati hidupnya dan tidak perduli dengan dunia yang di sebut cinta.
Nathan belajar agama secara perlahan pada bunda elfie dan bunda elfie mengajari nathan dengan sangat baik, bahkan menganggapnya sebagai putranya sendiri, bahkan saat nathan akan di sunat pun bunda elfie yang mengantarnya ke rumah sakit meski tidak menjadi saksi resepsi sunat tersebut.
Hingga hari itu dia melihat bidadarinya mengenakan gaun merah muda dengan ukiran bunga di gaunnya memperindah kecantikan atikah, dunia nathan seakan berpusat pada wanita di depannya menjadikannya sebagai pusat rotasinya untuk hidup, bahkan dia bersedia bila seandainya atikah menginginkan semua hal yang ada padanya.
Fleshback off.
"Tan bantuin tikah anterin koper raisa sama leo ke atas ya!, kasian kalo tikah sendirian berat itu", ujar bunda elfie menunjuk sebuah koper yang semula dia bawa di dalam bagasi mobil.
"Gak papa bun, aku kuat!, aku bisa sendiri, takut ada setan kalo berduaan", ucap atikah jutek.
"Itulah kenapa bunda minta si setan yang nganterin kamu sayang biar gak ada setan kedua lagi", ucap bunda elfie tersenyum lembut.
"Bun, aku bukan setan diiiih!", nathan kembali menyuarakan protesnya menanggapi ucapan bunda elfie.
"Udah giiih bantuin!", ujar bunda elfie mendorong keduanya, dan mengekor di belakang hingga di tempat sepi bunda elfie pun kabur dari mereka dan menemui putra kecilnya ridwan.
Bersambung...