
"Mau kemana, Zee?" tanya Bunda Weni saat melihat penampilan anaknya yang sudah rapi.
"Mau ngerjain tugas kelompok, Bund. Boleh ya?" jawab Zee.
"Tentu boleh dong. Asal jangan keluyuran gak jelas."
"Nggak lah, Bund. Zee juga satu kelompok sama Vani dan Elsa."
"Hummm. Yaudah sana. Ntar temen-temennya nungguin."
"Iya, Bund. Berangkat dulu ya." pamit Zee sambil menyalami Bunda Weni.
"Iya, hati-hati." pinta Bunda Weni yang diangguki oleh Zee.
Zee pun mengeluarkan motor scoopy biru muda kesayangannya itu. Zee memutuskan untuk mengendarai motornya sendiri ketimbang bersama para sahabatnya.
Baru saja Zee memanaskan motornya itu karena dirinya jarang menggunakannya, sudah terdengar teriakan sahabatnya yang sudah standby di jalan. Beruntung jalan rumahnya itu jarang di lalui kendaraan beroda empat.
"Zee, buruan. Udah jam 2 nih, pasti mereka sudah pada nungguin." teriak Vani. Sedangkan Elsa duduk di belakangnya alias Vani yang menyetir motor.
"Bentar dong. Manasin nih motor dulu. Udah jarang kepake jadinya kedinginan dianya." jawab Zee.
Akhirnya Vani dan Elsa pun mengalah, mereka turun dari motornya dan berjalan mendekati Zee.
"Gak sekalian di peluk aja?" canda Vani.
"Nggak bisa. Soalnya ini bukan manusia. Kalo manusia mah udah dari dulu gue peluk ampe gepeng sekalian."
"Sadis juga lo." seru Elsa.
"Ehhh udah lumayan nih. Yuk lah!" Zee mematikan motornya seusai memanaskan mesinnya sebentar.
"Yuk lah."
"Siapa yang di depan nih. Lo atau gue?" tanya Vani yang sudah duduk di motornya dan siap untuk menjalankannya.
"Lo aja deh. Gue gak tau dimana."
"Gue juga gak tau kelesss."
"Trus gimana?"
"Lo chat deh, suruh share loc." lanjut Zee.
"Oke, bentar." Vani membuka tas miliknya dan mengeluarkan benda pipih dari dalam tas.
"Nihh, udah di bales." Zee menganggukkan kepalanya dan mereka pun menjalankan motornya menuju ke arah tujuan mereka dengan sesekali Elsa melirik maps dan menunjukkan arahnya pada Vani.
Tidak sampai 15 menit akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang terbilang cukup megah dengan gerbang yang terbuka memperlihatkan sejumlah sepeda motor yang terparkir di halamannya.
"Bener ini?" tanya Zee.
"Iya. Dari maps nya sih di sini." jawab Elsa.
"Kalo kesasar gimana? Gak lucu tau."
"Udah deh. Percaya aja sama gue. Nohh liat ada Andre di luar." tunjuk Elsa ke arah halaman rumah tersebut yang memperlihatkan Andre sedang membuka jok motornya untuk mengambil barangnya yang tertinggal.
"Ndre." panggil Vani.
"Ehh kalian. Masuk yuk, udah pada dateng semua. Tinggal kalian aja yang belum." ucap Andre.
"Oke."
Mereka pun menjalankan motornya memasuki halaman rumah tersebut dan memarkirkannya berdekatan dengan motor-motor temannya.
"Assalamu'alaikum." ucap Zee, Vani, dan Elsa serentak.
"Wa'alaikumsalam."
"Udah lama?" tanya Vani memecahkan keheningan mereka.
"Lumayan lah." jawab Indah.
"Kayaknya kami ketinggalan jauh deh." ucap Vani tidak enak hati saat melihat buku-buku yang berserakan dan ponsel mereka bergeletakan di lantai ruang tamu yang beralas karpet itu.
"Maaf telat, hehe." seru Elsa.
"Iya, gak pa-pa kok. Santuy aja." jawab Rizki.
"Zayn nya mana?"
"Ada noh di kamarnya. Lagi mandi kata Tante." jelas Andre.
"Ehhh, udah pada datang semua ya?" seru wanita setengah paruh baya sambil membawa nampan.
"Di makan ya."
"Makasih, Tante cantik." canda Andre mencairkan suasana.
"Ahh bisa aja kamu, Ndre." ucap wanita setengah paruh baya tersebut yang Zee yakini orang tua Zayn. Memang tadi saat mereka baru saja sampai sudah di sambut oleh wanita setengah paruh baya tersebut. Mereka seperti orang yang sudah lama kenal, tidak ada rasa canggung sedikitpun yang menyelimuti mereka.
"Emang bener kok, Tan. Tante aja masih muda. Buktinya tuh anaknya cuma satu." celetuk Andre.
"Jadi, boleh di kasih adik tuh, Tan." ucap Andre dengan tawanya.
"Nggak boleh!" seru seorang lelaki yang baru saja datang dengan rambutnya yang masih basah. Sesaat Zee terpana dengan pemandangan di depannya.
"Nyambung aja sih lo, Zayn." celetuk Renzy.
"Terserah gue lah." balas Zayn dengan nada datarnya.
"Sudah, jangan pada ribut. Andre cuma becanda doang. Mama gak kasih kamu adik kok." akhirnya Zayn luluh dengan perkataan sang Mama.
"Selesain tugasnya dulu tuh. Nanti kalau udah selesai baru deh terserah kalian mau santai-santai." tutur Mama Anggi.
Mereka semua pun menuruti perkataan sang Ratu untuk segera melaksanakan tugas kelompoknya.
Di tengah-tengah aktivitas mereka, tiba-tiba Zee izin pergi ke toilet untuk buang air kecil.
"Zayn." panggil Vani saat mendengar rengekan dari sahabatnya itu. Ia mengerti Zee yang masih sungkan untuk berinteraksi dengan Zayn.
"Kenapa?" tanya Zayn yang masih fokus dengan buku paket tebal yang ia baca.
"Toilet." Zayn yang sedikit mengerti itupun memberi tahu di mana letak toilet. Zayn kira Vani lah yang ingin izin ke toilet nya. Ternyata Zee. Tapi kenapa tidak izin langsung dengan dirinya? Zayn membatin.
"Temenin gue yuk." rengek Zee berbisik pada Vani.
"Sendiri lah." tolak Vani. Tidak mengerti kah Vani terhadap Zee? Zee mati-matian menahan ingin menuntaskan sesuatu dan rasa malunya itu.
"Gak asik lo." Zee langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju toilet yang sudah ditunjukkan Zayn. Sementara Vani cuma tertawa kecil. Vani sengaja membiarkan Zee pergi sendiri. Ia masih memikirkan agar bisa membuat Zayn juga mengakui perasaannya. Entah kapan itu.
Zee merapikan kembali pakaiannya saat sudah selesai dengan aktivitasnya di toilet. Beruntung Zee mempunyai daya ingat yang kuat sehingga ia bisa sampai di toilet yang telah ditunjukkan Zayn. Memang jaraknya agak jauh. Jauhnya itu terletak di dekat dapur.
Sebelum Zee melangkahkan kakinya untuk kembali ke tempat di mana teman-temannya sedang mengerjakan tugas. Sudah terdengar suara wanita yang memanggilnya.
"Iya, T-tan?" jawab Zee gugup saat berhadapan dengan Mama dari orang yang ia kagumi selama ini.
Memang tidak terlihat sopan jika di lihat. Zee yang masih berdiri mematung dan Mama Anggi yang duduk di kursi meja dapur sambil menikmati minumannya. Akhirnya Zee berjalan mendekati tempat Mama Anggi.
"Namanya siapa?" tanya Mama Anggi yang belum mengetahui nama Zee karena mereka tadi belum sempat berkenalan.
"Z-Zee, Tante." jawab Zee sambil tangan nya yang meremas ujung baju miliknya. Sifat keibuan yang dimiliki Mama Anggi membuat Zee seketika luluh di buatnya.
"Zee tau masak gak?" Zee menganggukkan kepalanya saat di tanya seperti itu. Zee memang lumayan jago dalam hal masak-memasak. Tapi itu hanya berlaku saat memasak makanan yang terbilang sederhana. Karena selama ini Zee di ajarkan oleh sang Bunda untuk turun tangan di dapur. Bunda Weni tidak memaksa anaknya untuk pandai dalam hal memasak. Cukup sekedar tau Bunda Weni sudah bersyukur. Tapi kalau sudah di beri contoh, Zee akan cepat tanggap.
"Temenin Tante masak yuk. Mau gak?" entah kebetulan Zee yang berada di situ saat baru selesai membuang air kecilnya atau apalah itu tiba-tiba Zee yang diminta untuk menemani Mama Anggi untuk memasak.
"I-iya, Tan. Tapi Zee cuma bisa masak yang sederhana aja." jelas Zee dengan sesekali menundukkan kepalanya.
"Iya, gak pa-pa kok. Yuk!" Zee mengekori di belakang Mama Anggi mengikuti arah wanita setengah paruh baya itu.
Sementara di ruang tamu
"Zee kemana sih? Lama amat pipisnya." ucap Elsa.
"Gak tau tuh anak. Mungkin kesasar." tebak asal Vani. Elsa hanya menganggukkan kepalanya seperti burung beo.
"Zayn, susul Zee gih!" pinta Elsa.
"Kalian lah. Gue sibuk nih, gak liat apa." balas Zayn sambil menunjukkan pekerjaannya. Elsa dan Vani hanya berdecak kesal. Mereka pun akhirnya mengalah dan berjalan menyusul Zee.
"Ehhh lo mau kemana?" tanya Elsa saat melihat Renzy yang juga bangkit dari duduknya.
"Mau ikut lah. Laper, mau nyari makanan di dapur." jawab Renzy.
"Terserah lo dah."
Mereka bertiga pun berjalan bersama menuju arah tujuan mereka. Mereka bertiga berhenti sejenak saat hidup mereka mencium aroma yang enak yang berasal dari dapur.
"Hummm nyammm. Tante masak apa ya?" ucap Renzy sambil mengelus perut nya.
"Hooh, aromanya enak banget gila. Jadi laper kan gue." ucap Elsa.
"Yoklah liat." lanjutnya.
Akhirnya mereka pun sampai di dapur. Pandangan mereka terhenti saat melihat Zee dan Mama Anggi yang tertawa lepas sambil memasak. Sangat akrab. Batin mereka. Mereka pun mengintip agar tidak mengganggu aktivitas keduanya.
"Mwehehe... Masak bareng camer."