Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 34. Belanja



Seusai shalat subuh tadi Zee tidak kembali tidur. Pagi-pagi ia sudah berkutat dengan peralatan dapur.


Ia baru teringat bahwa stok bahan masakan hampir habis.


"Sayang, jalannya kok pincang gitu?" tanya Bunda Weni heran saat melihat jalan anaknya.


"Jatoh dari kasur, Bund." jawab Zee sambil menampilkan deretan gigi putihnya.


"Ya ampun. Kenapa bisa sampai jatuh?" Bunda Weni menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah laku anak sulungnya itu.


"Zee gak tau, Bund. Pas bangunnya ehh udah di bawah aja."


"Ada-ada aja kamu tuh. Trus gimana? Masih sakit?"


"Udah mendingan sih, Bund. Gak terlalu parah kok. Cuma agak nyeri aja dikit."


"Mau di urutin gak? Atau panggilin tukang pijit?" tawar Bunda Weni.


"Ehh, ehhh. Gak usah, Bund. Beneran deh. Zee gak apa-apa kok." seru Zee.


"Ya udah. Nanti kalau masih sakit bilang ke Bunda ya. Biar nanti Bunda sendiri aja yang pijitin."


"Iya, Bunda. Percaya deh sama Zee."


"Iyadeh." Bunda Weni hanya pasrah.


"Zee ke kamar dulu ya, Bund. Nanti mau belanja bahan masakan."


Zee langsung pamit menuju kamarnya untuk bersiap-siap.


"Nanti sarapannya jangan lupa di makan ya, Bund." teriak Zee yang sudah berada di ambang pintu saat ia sudah berpakaian rapi.


"Iya, sayang." balas Bunda Weni.


Sesampainya di Supermarket Zee langsung berbelanja untuk stok bahan masakan.


Beruntung di Supermarket tersebut menyediakan sayur-sayuran, buah-buahan dan masih banyak lagi.


Saat Zee tengah memilih buah-buahan tiba-tiba dua wanita berbeda usia datang menghampirinya.


"Zee?"


Zee langsung memutar tubuhnya saat namanya yang di panggil.


"Iya?" jawab Ze bingung. Sesaat kemudian ia sadar mereka siapa.


"Lagi belanja?"


"Iya, Tante. Soalnya stok bahan masakan udah hampir habis." jelas Zee.


"Tante mau belanja juga?" tanya Zee balik.


"Ada keperluan yang harus Tante beli."


Pandangan Zee terhenti ke arah wanita yang seumuran dengan dirinya.


Melihat hal itu pikiran Zee sudah bercabang-cabang. Apakah dia sudah menikah? Langgeng juga. Batinnya. Tapi sesaat kemudian hatinya seperti tersayat.


"Tania, kamu pilih-pilih dulu ya. Tante mau ngobrol dulu sebentar."


Dua orang wanita tersebut adalah Mama Anggi dan... Tania.


"Iya, Tante."


Tania langsung meninggalkan Zee dan Mama Anggi. Ia pun langsung memilih barang yang ia perlukan.


"Tante apa kabar?" tanya Zee berusaha mencairkan suasana.


"Tante baik. Kamu gimana kabarnya. Sehat dong ya." gelak Mama Anggi.


"Hehe... Seperti yang Tante lihat sekarang."


"Bunda kamu katanya udah pulang ya?"


"Udah, Tan. Kemarin pulangnya."


"Nanti kapan-kapan Tante main ke rumah kamu boleh kan?"


"Tentu boleh dong, Tan. Gak ada yang ngelarang kok. Tante kan juga sahabat Bunda."


"Sipp lahh. Nanti Tante ajakin anak Tante sekalian main ke rumah kamu."


Zee langsung kelabakan saat mendengar itu. Mau jadi apa nantinya?


'Apa maksudnya coba? Batin Zee.


"Tante, aku udah nih." sahut Tania sambil menunjukkan barang yang berada di troli.


"Ya sudah. Kamu tunggu sebentar ya. Ada barang yang harus Tante sambil."


Kini tinggallah mereka berdua, Zee dan Tania. Mereka hanya diam.


"Apa kabar, Zee?" ucap Tania membuka suaranya.


"Alhamdulillah baik." jawab Zee dengan senyum semanis mungkin.


"Syukurlah kalau gitu."


"Kemana aja selama ini?" tanyanya lagi.


"Di luar negeri."


"Owh, pantesan. Berapa lama di sana?"


Tampak Zee menghitungnya.


"Lama ya." ujar Tania mengangguk-angguk.


"Iya."


Rasanya sangat canggung. Zee heran melihat sikap Tania yang berbeda 180 derajat saat SMA dulu. Mungkin ini efek dari pria itu. Pikirnya.


"Single?"


Zee mengernyitkan dahinya heran.


"Kamu sendiri?" tanya balik Zee.


"Yes."


Tampak dari wajah Zee seakan tidak percaya dengan ucapan Tania.


Tania yang melihat itu mengerti. Sepertinya ia harus menjelaskannya kepada Zee terkait hubungannya dengan Zayn.


"Kenapa? Gak percaya?"


"Maybe." jawab singkat Zee.


Tania menarik ujung sudut bibirnya ke atas. Ia sudah tidak tahan untuk tertawa.


"Jangan kaku gitu, Zee. Tenang aja. Aku udah berubah kok. Kamu bisa lihat kan?"


"Aku gak bisa percaya itu. Semua orang bisa berubah. Tapi, hal itu sulit. Kadang orang-orang hanya berubah untuk waktu sementara. Dan aku gak bisa menjamin itu." jawab Zee enteng.


"Nggak apa-apa kamu belum percaya. Suatu saat nanti kamu bisa lihat sendiri. Intinya aku minta maaf kalau aku banyak salah sama kamu dulu. Banyak hal yang harus aku ubah dan ikhlaskan. Termasuk mengikhlaskan laki-laki yang memang bukan tercipta untukku. Memang benar apa yang dia katakan. Bahwa aku ini hanya terobsesi dengannya. Tapi, alhamdulillah sekarang aku udah bisa ikhlas. Memang mengikhlaskan itu berat. Tapi, kalau kita berusaha pasti nanti kita akan mendapatkan ketenangan yang belum pernah kita bayangkan."


"Aku bersyukur sekarang hubungan kami baik-baik saja layaknya seorang teman. Dia juga yang udah bikin aku sadar bahwa selama ini bukan hanya dia laki-laki yang ada di muka bumi ini. Dia udah nyadarkan aku arti sebuah pertemanan. Dia baik Zee. Semoga kalian bisa berjodoh. Aku do'akan itu."


Ujar Tania tersenyum sambil mengenggam tangan Zee.


Terlihat Zee hanya mematung di sana. Ia tahu. Ia tahu bahwa orang yang Tania bicarakan adalah Zayn. Memang siapa lagi?


"Kamu bingung? Nggak apa-apa. Itu hal yang wajar. Aku sebenarnya ingin menjelaskan. Tapi, kalau di pikir-pikir itu bukan hal yang tepat. Kamu harus dengar sendiri dari orangnya. Kalian perlu komunikasi, Zee. Percaya itu. Hanya ada kamu di hatinya. Bertahun-tahun aku mengejarnya. Tapi, itu semua percuma. Karena memang bukan aku wanita yang ia inginkan. Aku akuin dia memang terlambat menyadari perasaannya. Dia baru sadar ketika kamu pergi dan bahkan tidak ada kabar sama sekali. Kesehariannya hanya kerja, kerja, dan kerja. Nggak ada hal yang lain."


"Percaya sama aku, Zee. Aku minta maaf karena selama ini udah jadi penghalang kedekatan kalian."


Diam-diam Mama Anggi mendengarkan obrolan dua wanita tersebut. Ia memang tidak berniat menguping saat sudah mendapatkan barang yang ia dapatkan. Tapi, topik yang di bicarakan keduanya sangat mengundang rasa ingin tahu dari wanita paruh baya tersebut. Apalagi yang menjadi bahan topik pembicaraan mereka adalah anaknya sendiri.


Zee hanya diam. Sekarang Zee di tempatkan di posisi dimana ia tidak tahu harus menjawab atau merespon perkataan Tania.


"Tante udah selesai. Pulang yuk!" seru Mama Anggi berpura-pura tidak mengetahui obrolan mereka.


"Eh... Iya, Tante. Kalau gitu aku pulang dulu ya, Zee. Pikirkan baik-baik soal tadi." ujarnya sambil menepuk pelan bahu Zee.


"Tante pulang dulu ya." pamit Mama Anggi pada Zee.


Zee hanya merespon dengan anggukan kepala. Kemudian ia melanjutkan berbelanjanya. Tapi, kata-kata yang di lontarkan Tania membuatnya kehilangan fokus.


"Kalian tadi ngomongin apa?" tanya Mama Anggi saat mereka dalam perjalanan pulang. Lebih tepatnya Tania mengantarkan Mama Anggi pulanh terlebih dahulu. Karena ia hanya menemani Mama Anggi berbelanjanya. Hitung-hitung sebagai permintaan maafnya karena selama ini ia merasa sudah sangat menganggu kenyamanan Zayn berserta orang tuanya.


"Gak ngomingin apa-apa kok, Tan. Biasa mahh kalau udah ketemu temen lama. Jadi, waktunya berasa kurang." jawab Tania sambil melirik sebentar Mama Anggi.


"Owh, gitu."


Sepanjang perjalanan mereka banyak mengobrol. Tidak terasa kini mereka telah berada di halaman kediaman yang terbilang megah tersebut.


"Assalamu'alaikum." seru keduanya.


"Wa'alaikumsalam."


Mama Anggi terlihat bingung saat melihat anaknya sudah berada di dalam rumah.


"Zayn, kamu kok ada di rumah?" tanya Mama Anggi sambil mendudukkan dirinya di samping anaknya. Sementara Tania juga mengikuti Mama Anggi yang duduk di ruang tengah tersebut.


"Mama kok gitu nanyanya? Emang aku gak boleh pulang ke rumah?"


"Bukan gitu maksud Mama, sayang. Tumben aja gitu jam segini kamu udah ada di rumah. Biasanya ada di kantor atau di rumah sakit. Memangnya kamu gak ada tugas?" cerocos Mama Anggi.


"Enggak ada, Ma. Makanya aku pulang. Itung-itung istirahat di rumah." jawabnya. Zayn sempat mendatangi kantor untuk memeriksa pekerjaannya. Setelah dirasa jadwalnya kosong jadi, ia lebih memilih pulang ke rumah.


Mama Anggi hanya mengangguk-angguk kemudian ia pamit untuk membersihkan diri.


Kini tinggal lah sepasang manusia yang sudah menyandang status mantan tersebut.


"Ada kabar baik, Zayn." Tania bangkit dari duduknya dan berpindah tempat di samping Zayn.


"Kabar baik apa?" tanya Zayn sambil memencet remot TV untuk mengganti siaran yang menurutnya bagus.


"Tadi aku ketemu Zee pas di Supermarket."


Seketika Zayn langsung menghentikan gerakan tangannya yang memencet remot.


"Trus? Kalian berantem?" tebak Zayn.


Tampak Tania menggelengkan kepalanya, "Enggak lah. Yakali baru bertemu langsung main jambak-jambakan."


"Ya, kali aja gitu."


"Ehh, ya. Lusa kan acara reuni ya? Kamu mau ikut?" tanya Tania. Karena setaunya Zayn yang sekarang adalah orang yang paling tersibuk baginya. Ia harus membagi tenaganya. Otak dan tenaga. Pasti sebentar lagi ia akan menggantikan posisi sang Papa menjadi CEO dari MH Company. Belum lagi ia yang bekerja di salah satu rumah sakit sebagai Dokter umum. Rumah sakit tersebut merupakan milik kembaran mendiang Kakeknya yang kini sekarang sudah jatuh ke tangan sang Paman.


Pihak rumah sakit tidak tahu bahwa Zayn adalah cucu dari pemilik rumah sakit tersebut. Ia hanya tidak ingin menjadi spesial hanya karena ia cucu dari pemilik rumah sakit tersebut.


"Aku usahain deh. Biar nanti izin sama Papa. Kalau di rumah sakit sih tergantung. Tapi, aku usahain datang deh."


"Oke lah. Aku pulang aja deh. Bilangin nanti ke Tante ya!?" teriak Tania karena ia sudah berjalan menjauhi Zayn.


...🐺🐺🐺...


...~Happy reading~...