
Begitu mendengar kata maaf terlontar dari bibir Zee, Zayn langsung berdiri dengan perasaan kecewa. Dia sudah bersiap-siap membalikkan badannya. Tapi...
"Mau kemana?" Zee menahan dirinya.
"Kemana aja, Zee. Huft! Ini berat. Dadaku sesak."
"Gak serangan jantung kan?" canda Zee.
"Serangan jantung juga gak apa-apa." jawabnya asal.
"Beneran? Kalau gitu nanti aku cari pria yang lain aja deh. Soalnya pria di depanku ini mau serangan jantung. Jadi, aku rasa itu tidak masalah bukan?"
Zayn masih belum konek akan kode itu.
"Kenapa diam?"
"Aku ingin menangis." Zee terperangah memandang Zayn.
Yang benar saja!
"Ini sesak, Zee. Aku mau pulang aja. Gak sanggup!" Zayn sudah membalikkan badannya dan bersiap-siap untuk melangkahkan kakinya. Namun, sebuah pelukan membuatnya mematung.
"Beneran mau pulang? Gak mau dengerin sesuatu dulu?" ujar Zee dengan kedua tangannya menempel erat di perut Zayn.
Dengan ragu Zayn mengusap-usap tangan Zee. "Dengerin apa?"
Zee menarik nafasnya dalam.
"A-aku mencintaimu, Zayn." lirih Zee nyaris tak terdengar.
Zayn membalikkan badannya menghadap Zee. "Bilang apa barusan?" ujarnya memastikan.
Zee menggelengkan kepalanya. Malu.
"Sekali lagi ucapkan, Zee. Aku mau dengar!"
Zee masih betah menggelengkan kepalanya.
"Zee..."
Zee mendongakkan kepalanya ke atas. Dia berjinjit untuk berbisik.
"Aku mencintaimu, Zikhri Zaynendra." bisiknya dengan jelas. Jantung Zayn langsung berdegup kencang. Dengan mata berkaca-kaca Zayn memandang tidak percaya ke arah Zee.
Sambil berkedip beberapa kali Zayn masih mencerna.
"Kata maaf maksudnya apa?" tanya Zayn dengan raut wajah bahagia yang tak bisa disembunyikan.
"Memangnya salah kalau aku minta maaf?"
"Gak ada yang salah."
"Jadi?"
Zee menganggukkan kepalanya merespon.
"Serius?"
Dengan malu-malu Zee menganggukkan kepalanya.
Cincin indah langsung melingkari jari manis Zee kala Zayn memasangkannya.
Ragu-ragu Zayn menarik Zee ke pelukannya. Pelukan pertama mereka semasa hidup.
Prok prok prok
Suara tepukan tangan membuat pelukan mereka terlepas. Dan lampu langsung menyala.
Air mata Zee langsung tumpah begitu saja saat melihat keberadaan keluarganya dan kedua orang tua Zayn.
Benar-benar kejutan yang wow. Zee tidak menyangka itu.
"Ciee yang abis dilamar trus pelukan." ledek Alif langsung membuat semburat rona merah di pipi Zee muncul.
Kedua pasangan yang baru saja dilanda kebahagiaan itu langsung turun dari atas panggung.
Zee langsung berlari ke arah kedua orang tuanya dan langsung meringsek ke pelukan sang Bunda.
"Bunda."
"Selamat ya sayang. Anak Bunda sudah dewasa ternyata." Bunda Weni mengelus sayang rambut panjang terurai Zee.
"Makasih Bunda, Makasih. Zee sayang sama Bunda."
"Bunda lebih sayang kamu, nak."
"Oh. Jadi gini yah. Ayahnya dilupain. Bagus!" Zee terkekeh mendengar suara sang Ayah.
Langsung saja Zee berpindah ke pelukan sang ayah dimana Ayah Zaki menyambut bahagia pelukan itu.
"Ayah juga."
Dengan sayang Ayah Zaki mengecup pucuk kepala Zee.
"Berbahagialah, anak ayah yang paling cantik."
"Pasti, Yah."
Datanglah Alif dan Lora beserta Rega di dalam gendongan Alif.
"Sebentar lagi ada yang mau married nih." ledek Lora.
"Apaan sih, Ra. Kamu juga tuh kapan?" ujar Zee tersipu.
"Aku? Hahaha...ada-ada aja deh."
"Ya. Kamu. Memangnya ada apa?" selidik Zee.
"Gak. Gak apa-apa kok." kilahnya berusaha menutupi sesuatu.
"Hemmm?"
Pikiran Zee langsung buyar saat mendengar suara Rega.
"Woahh! Papi ganteng. Kayak pangeran di cerita dongeng." celetuknya membuat tawa bersama.
"Anak Papi lebih ganteng."
Tibalah kini kedua orang tua Zayn menyapa Zee.
"Hai, sayang."
"Hai, Tante." jawab Zee kikuk.
"Mama dong. Kan sebentar lagi jadi mantu." ledek Mama Anggi.
"Papa juga." sahut Papa Hendra.
"Sini! Peluk Mama dulu." dengan senang hati Zee memeluk calon mertuanya.
Zee mengurai pelukannya saat merasa sudah cukup.
"Kapan tanggalnya nih?" tanya Mama Anggi tersenyum.
"Secepatnya, Ma. Bukankah niat baik tidak boleh ditunda."
"Hehe. Anak Mama rupanya tidak sabaran sekali." celetuk Mama Anggi.
Zee hanya menundukkan kepalanya. Rasanya seperti mimpi.
Selesai bercengkrama dan makan malam bersama. Keluarga mereka memutuskan untuk pulang terlebih dahulu dan meninggalkan mereka berdua.
"Suka?" tanya Zayn saat baru saja membuka penutup mata Zee. Zayn membawa Zee ke salah satu taman dimana pertemuan mereka dulu setelah sekian lama tidak bertemu.
Zee menganggukkan kepalanya dengan senyum yang terus mengembang.
"Yuk!" Zayn menarik pelan tangan Zee membawanya ke kursi.
Zayn menatap lekat manik mata Zee. Dalam hatinya dia terus mengucapkan syukur tiada henti.
"Makasih."
Zee menatap Zayn bingung. "Untuk?"
"Semuanya. Makasih udah mau menjaga hatimu untukku. Makasih udah mau menerima pria jahat ini. Aku tau pasti hanya namaku yang terukir indah di hatimu."
"Kata siapa?" tanya Zee malu.
"Kataku."
Sunyi. Suasananya sekarang. Baik Zee maupun Zayn hanya bisa memandang takjub. Tidak boleh berbuat hal yang macam-macam. Hanya sekedar pelukan dan berpegangan tangan.
Zee menghidup dalam aroma tubuh Zayn saat dirinya ditarik ke pelukan pria itu.
Terima kasih ya Allah. Akhirnya engkau menjawab setiap do'a-do'a ku.
Terima kasih telah mendatangkan wanita sebaik dirinya di kehidupanku. Tanpa dirimua hamba bisa apa ya Allah.
#THE END
Huft!
Lega!
Buahahaaa 🤣🤣🤣
See you next time 🖐🖐🖐muachh muachh 😘😘😘😘