
Pagi harinya, seperti biasa Zee bangun dari tidurnya dengan alunan suara sang Bunda yang sudah seperti alarm baginya.
Susah untuk membangunkan Zee dari tidur paginya. Entah apa yang ia lakukan semalam hingga paginya susah untuk bangun tidur.
"Kamu tuh, Zee. Biasain dong bangun pagi. Gimana kalo nanti kamu udah nikah. Ngurusin anak, suami." Zee langsung menutup kedua telinganya dengan bantal saat mendengar kecerewetan sang Bunda.
"Iya, iya, Bunda. Jangan ngomongin nikah-nikahan deh. Masih lama." balas Zee kesal seraya bangkit dari tidurnya dan secepat kilat ia masuk ke dalam kamat mandi sebelum mendengar amukan singa di pagi hari. Bunda Weni hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak sulungnya itu. Bunda Weni juga terkekeh saat mengingat masa-masa remaja nya dulu yang sama persis seperti anaknya. Seperti peribahasa 'Bagai Pinang di Belah Dua. Begitulah dengan Zee. Sifat anak itu adalah turunan dari orang tua.
"Dahhh, Bund." Zee dan Alif melambaikan tangannya ke arah sang Bunda yang masih sentiasa berdiri di depan rumahnya memperhatikan mobil sang Ayah yang perlahan menjauh dari pandangannya.
"Belajar yang bener ya, Dek." ucap Zee sambil mengelus kepala sang adik saat mereka sudah sampai di sekolah Alif.
"Hmmm. Kakak juga." balasnya tersenyum manis ke arah Zee.
"Yuk, Yah." ucap Zee yang baru saja menutup pintu depan mobilnya. Sekarang Zee duduk tepat di samping sang Ayah yang mengemudikan mobilnya.
"Gimana sekolahnya?" tanya Ayah Zaki dengan pandangan yang masih fokus ke jalanan.
"Lancar kok, Yah." jawab Zee.
"Bentar lagi ulangan kenaikan kelas kan?" Zee menganggukkan kepalanya.
"Nanti kalau nilai nya bagus dan dapat juara, kamu mau minta kado apa dari Ayah?" lanjut Ayah Zaki.
"Zee gak mau minta kado apa-apa kok, Yah. Asal Ayah sama Bunda sehat selalu dan nanti bisa liat Zee sukses."
"Nah, sampai." ucap Ayah Zaki saat memberhentikan mobilnya dan turun membukakan pintu untuk anak gadis kesayangannya itu.
"Makasih, Ayah." ucap Zee saat sang Ayah membukakan pintu nya.
"Iya, yang rajin ya belajar nya. Nanti pulangnya Ayah jemput." Ayah Zaki mengelus rambut panjang Zee.
"Emang Ayah udah pulang jam segitu?" tanya Zee.
"Hari ini Ayah pulang cepat. Yaudah gih sana." jawab Ayah Zaki seraya mengacak pelan rambut Zee.
"Ayah hati-hati."
"Siap, tuan putri." Zee terkekeh pelan dan melangkahkan kakinya masuk ke area sekolah saat mobil sang Ayah sudah menjauh darinya.
Zee menghembuskan nafasnya pelan sebelum memasuki kelasnya. Sepertinya ia harus terbiasa dengan pemandangan baru nya dimana tempat duduk di belakang nya sudah ada seseorang yang mendudukinya. Dan Zee harus belajar mengontrol detak jantung nya itu setiap berdekatan dengan makhluk ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna itu.
"Ekhemmm ekhemmm." Zee menatap bingung ke arah teman sekelasnya. Apakah ada penampilannya yang salah atau kurang rapi?
Zee melirik ke arah kedua sahabatnya itu dimana mereka berdua sedang menatapnya sambil tersenyum menampakkan gigi gigi putih mereka. Apa nggak kering tuh gigi senyam senyum gak henti. Pikir Zee. Zee mulai memahami keadaannya. Pasti biang kerok nya adalah Vani dan Elsa. Buktinya sekarang, tingkah mereka berubah menjadi aneh dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Mematap tajam ke arah kedua sahabatnya? Percuma. Yang di tatap seperti itu malah semakin tersenyum ke arah nya. Zee meletakkan tasnya di bangku miliknya saat ia sudah berada di tempatnya mengabaikan tatapan tatapan aneh dari teman kelas nya. Apalagi si trio senglek yang terdiri dari Indah, Andin, dan Lola. Tatapan mereka seakan-akan ingin mengintrogasinya.
"Cuitttt cuittttt." suara siulan dari sang Ketua Kelas, Andre Wijaya. Zee semakin bingung dibuatnya. Apalagi mereka yang menatap ke arahnya dan di belakangnya? Sudah dipastikan, Zee akan menghukum kedua sahabatnya itu. Sahabatnya itu pasti sudah berbicara yang aneh-aneh kepada teman kelasnya. Rasanya Zee ingin mencolok mata teman-temannya itu yang tiada henti menatapnya sambil sesekali menggodanya.
Di kelas, Zee memang terkenal dengan kehumble-annya, ramah dan juga cepat tanggap dalam menerima materi penjelasan dari Guru. Jadi, tidak diragukan lagi otaknya itu dan hati nya yang super baik. Kata Indah si trio senglek. Satu lagi, Zee juga menjabat sebagai sekretaris kelas. Pernah Zee ditunjuk untuk menjadi Ketua Kelas. Tapi, ia menolak karena di rasa ia belum siap untuk memimpin, memajukan dan membawa nama baik kelasnya.
"Ngomong apa lo pada?!" ucap Zee pelan tapi penuh tekanan. Yang di tanya begitu, seperti tidak berbuat salah sama sekali.
Flashback on sebelum Zee dan Zayn datang ke sekolah
Saat itu Vani dan Elsa sedang berkumpul bersama trio senglek. Seperti biasa mereka akan bergosip ria di pagi hari. Sudah seperti santapan sarapan bagi mereka.
"Kalian kenal anak murid baru itu?" tanya Indah.
"Kenal kok. Malahan udah dari SMP. Rumahnya juga tau. Cuma sekarang udah pindah." jelas Elsa si paling cerewet. Sementara Vani hanya sesekali menimpali.
"Kenalin ke kita dong." pinta Andin cewek paling bandel di kelas mereka. Otak yang pas-pasan.
"Gue saranin jangan deh." tolak Elsa.
"Kenapa?" tanya Andin bingung.
"Hehe, bilang gak ya." ucap Elsa sambil menggaruk kepalanya.
"Kasih tau lah. Penasaran nih kita." rayu Andin.
"Jangan kasih tau siapa-siapa ya?!"
"Iya, enggak kok."
"Janji?" Elsa mengulurkan jari kelingking dan jempolnya.
"Janji."
"Sini, deketan deh!" pinta Elsa yang langsung dilakukan oleh mereka. Mereka berkumpul membentuk lingkaran dan kepala yang ditundukkan.
"Jadi Zayn itu doi nya Zee." bisik Elsa pelan.
Mereka yang mendengarnya seketika melebarkan bola matanya terkaget.
"WHAT!!!" teriak Indah dan Andin.
"ZAYN DOI NYA ZEE???" Lola juga teriak. Tapi ia tidak tau maksud dari yang mereka obrolkan. Lebih tepatnya loading lama. Sama persis dengan namanya Lola.
Pletakkk
Langsung saja Vani menyentil dahi Elsa, "Duhh, Van. Kok main kasar sih. Sakit tau." keluh Elsa.
"Belum doi woyyy. Tapi masih crush." ucap Vani membenarkan.
"Same aje." Elsa langsung memutar bola mata malas.
"Lo tuh. Mulut lo mau gue jahit haa?!" seru Vani kesal terhadap Elsa yang mulutnya seperti Ember. Tapi kalau di suruh menyimpan rahasia pasti aman.
"Lhaa, emang si Zee ada bilang kalo ini harus di rahasiain?" tanya Elsa dengan polosnya.
"Etdahhh. Harusnya lo udah tau mana yang di rahasiain, mana yang enggak. Jangan asal ceplas ceplos aja tuh mulut. Noh liat akibatnya." tunjuk Vani ke sekeliling mereka dimana trio senglek sudah menyebar gosip yang belum pasti adanya.
"Hehehe maap maap, kagak sengaje." balas Elsa dengan cengirannya.
Andaikan Zee dan Zayn berada di sana. Sudah di pastikan Zee akan menanggung malu seumur hidupnya. Malu yang ia rasakan dulu saja belum hilang dari ingatan nya saat Elsa juga membeberkan isi hatinya. Sekarang? Sudah terlanjur. Beruntung di sana Zee dan Zayn tidak ada. Tapi, sama saja. Seluruh teman kelasnya tau tanpa terkecuali. Andai Zee tau, sudah dipastikan Elsa akan mendapat hukuman yang berat dari Zee.
Vani memijat pelipisnya melihat sahabatnya yang ini berulah lagi.
"Beneran itu Zayn doi nya Zee?"
"Iya, tadi trio senglek bilang."
"Beruntung banget. Cocok! Dua-duanya cakep. Iri deh gue. Tapi gak pa-pa mereka cocok banget sumpah. Zee juga humble."
Terdengar suara krasak-krusuk dari para teman sekelasnya. Elsa meringis melihat itu. Nasi sudah jadi bubur. 'Semoga aja Zee gak marah sama gue. Batin Elsa.
Flashback off