Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 45. Gulali



Pagi harinya suasana di kamar Zee menjadi rusuh karena ulah Rega yang berlari ke sana ke mari, melompat di kasur.


"Rega, udah ya mainnya, sayang. Mandi dulu abis itu kita jalan-jalan. Rega mau gak jalan-jalan?" ujar Lora membujuk sang anak supaya berhenti bermain.


Rega yang berlarian ke sama ke mari mengejar Zee seketika menghentikan langkahnya, "Jalan-jalan? Papa ikut ndak?" tanyanya dengan nafas tidak teratur.


"Nanti Rega ajak sendiri ya. Sekarang waktunya mandi." balas Lora.


"Iya, Ma. Rega mau mandi sama Papa aja." Rega langsung menyelonong keluar kamar dan pergi ke kamar Alif yang berada di samping.


"Rega, jangan lari-lari, sayang. Nanti jatuh!" peringat Lora.


"Biarin aja, Ra. Lagian dia mau ke kamar Alif. Kita pantau aja dari jauh." ucap Zee melangkahkan kakinya keluar untuk memantau Rega agar balita tersebut aman.


Zee kembali ke masuk ke kamarnya saat sudah memastikan Rega berada di dekat Alif yang membawanya masuk ke dalam kamarnya.


"Nanti sore aja deh belanjanya. Kamu mau nemenin aku kan, Zee?" ucap Lora.


Tampak Zee berpikir, "Nanti sore ya? Oke deh. Tapi, aku mau ke toko dulu bentar. Mantau doang kok." balas Zee.


"Makasih, Zee." Zee menganggukkan kepalanya.


Sorenya Lora terlihat rapi dengan Rega di pangkuannya. Ada Alif juga yang mengantarkan mereka. Sedangkan Zee, ia akan menyusul.


"Mau kemana dulu?" tanya Alif basa-basi sambil menyetir mobil.


"Ke supermarket langsung deh. Nanti aku kasih kabar lagi ke Zee." jawab Lora.


Dalam perjalanan tiba-tiba Rega berteriak hingga membuat Alif mengerem mobilnya secara mendadak. Beruntung tidak ada yang luka-luka. Dan jalanan tersebut sepi boleh kendaraan yang lalu lalang.


"Rega, kenapa teriak-teriak?" tanya Alif sambil memiringkan badannya otomatis menghadap ke arah Lora.


Tampak Rega menunjukkan jalanan di seberang sana. Alif pun melirik arah yang di tunjukkan Rega, "Mau itu, Pa. Rega mau." pintanya.


"Rega mau gulali yang di jual di seberan sana?"


"Iya, Pa. Rega mau itu. Beliin ya, Pa."


Alif menganggukkan kepalanya sambil mengelus pucuk kepala Rega, "Iya. Papa beliin. Rega tunggu di sini sama Mama ya? Jangan keluar. Jangan kemana-mana."


"Siap, Pa." jawab Rega polos.


Alif pun turun untuk membeli gulali kapas yang di jual di seberang jalan. Sesampainya di sana ia disambut oleh pria paruh baya dengan wajah yang terlihat sangat lelah.


"Pak. Satu gulalinya berapa ya?" tanya Alif.


"Tujuh ribu aja, Den." jawabnya.


"Ya udah. Ambilin saya dua ya, Pak." pinta Alif.


Pria paruh baya tersebut menyodorkan dua gulali kapas yang terbungkus di dalam plastik, "Ini, Den."


"Makasih, Pak." ucap Alif sambil memberikan selembar uang berwarna merah.


Tampak ia bingung melihat Alif uang yang Alif berikan. "Aduh, Den. Ini kebanyakan. Saya gak punya uang kembaliannya." keluhnya.


"Gak apa-apa, Pak. Ini sedekah dari saya. Semoga jualan Bapak laris manis." ucap Alif tetap menyodorkan uang itu.


Si Bapak pun beberapa kali menolak dengan alasan tidak ada uang kembalian, "Gini aja, Den. Ini Aden ambil aja gratis." ucapnya.


Alif pun menunjukkan mobilnya yang terparkir di seberang sana, "Bapak lihat anak kecil itu? Anggap aja sedekah ini dari anak kecil itu."


Si Bapak menganggukkan kepalanya pertanda melihat Rega yang ada di pangkuan Lora. Jaraknya dari mobil Alif tidak terlalu jauh. Jadi masih bisa dilihat oleh orang yang memiliki umur yang lumayan.


"Itu istri Aden?" tanya si Bapak.


Alif menggelengkan kepalanya, "Bukan, Pak. Hanya teman." ucap Alif.


Alif menyelipkan uang itu di saku baju si Bapak, "Nih, di terima ya, Pak. Saya pamit dulu takutnya teman saya menunggu lama." ujar Alif sambil berlalu membawa dua gulali kapas.


"Makasih banyak, Den. Semoga Aden di beri keberkahan dan kemuliaan oleh sang Mahakuasa." ucap si Bapak yang di tanggapi senyuman oleh Alif sebelum ia masuk ke dalam mobilnya.


"Wa'alaikumsalam."


"Semoga wanita itu yang akan menjadi jodoh Aden." ucap si Bapak lirih tanpa tahu status Alif yang sudah menikah atau belum.


Di dalam perjalanan Rega tidak berhentinya memuji rasa gulali yang ia makan.


"Enak, Pa, Ma. Mama mau?" tawar Rega menyodorkan gulali yang sudah ia cubit sedikit dengan tangan kecilnya itu.


Dengan senang hati Lora membuka mulutnya dan menerima suapan Rega.


"Papa mau?" tanya Rega yang melihat Alif meliriknya.


"Mau dong, disuapin sama Rega?" jawab Alif.


Rega pun mengulurkan tangannya berusaha menyuapi Alif. Tapi, apalah daya balita. Tangannya yang masih mungil dan pendek.


"Gak sampai, Pa. Tangan Rega pendek." keluh Rega.


Alif pura-pura memasang wajah lesunya, "Yahh...padahal Papa mau banget." ucap Alif sambil curi-curi pandang ke arah Lora yang fokus melihat Rega sehingga aksinya itu tidak ketahuan.


"Mama." panggil Rega.


"Iya, sayang?"


"Mama suapin Papa ya. Rega mau nyuapin Papa tapi ndak bisa."


"Eh!" Alif tersenyum kecil melihat respon Lora.


Rega menatap Lora dengan wajah imutnya, "Mama. Mau ya?"


Melihat wajah imut sang anak membuat Lora tidak tega sekaligus luluh dibuatnya, "I-iya, sayang." jawab Lora.


Tampak Rega bersorak ria.


Perlahan Lora menyodorkan gulali yang ada di tangannya. Sedangkan gulali yang satunya sudah ada di Rega.


Dengan rasa malu Lora menyuapi Alif dengan gulali yang berada di tangan kanannya, "Enak, Pa?" tanya Rega.


Alif menganggukkan kepalanya sambil mengunyah gulali sambil kepalanya ia gerakkan ke kiri dan ke kanan, "Hummmmm...enak."


Rega tertawa senang melihat respon yang diberikan Alif, "Mama denger kata Papa? Papa bilang enak, Ma."


Lora hanya tersenyum kaku dan tidak sadar memakan gulali yang tersisa setengah karena saking malunya.


"Ra, itu..." ucap Alif.


Lora menoleh kearah Alif seakan bertanya "Kenapa?"


"Itu bekas aku..." ucap Alif pelan.


Ohokkk


Lora yang melihat air mineral di dashboard mobil tersebut langsung mengambilnya dan meminumnya.


Lora bernapas lega saat tenggorokanmya sudah merasa baikan. Tapi, tidak hanya sampai di situ.


"Ra...itu minuman juga bekas...aku."


Lora melototkan matanya.


"Nggak pa-pa?" tanya Alif.


"N-nggak."


Setelahnya mereka kembali melanjutkan perjalanan hingga mobil yang dikendarai Alif berhenti di sebuah supermarket. Tidak lama juga setelah itu Zee datang dengan mobil yang ia kendarai sendiri. Sehabis dari tokonya Zee langsung menyusul mereka. Karena sudah janji. Jadi, sekarang Zee menepati itu.


Tidak lama setelah Zee datang ada sebuah kendaraan yang berhenti sambil memperhatikan secara intens pergerakan mereka. Entahlah. Pria tersebut memakai masker tidak lupa topi di kepalanya. Dia menyeringai.


...~Happy reading~...