
"Hai, Zayn."
"Ehh, Tania. Hai, juga."
"Lagi berteduh juga ya?" tanya Tania.
"Ya iyalah berteduh. Mata lo udah buta apa? Gak liat hujan gini." ucap Zee yang tentu saja ia ucapkan di dalam hatinya. Ia tidak cukup berani untuk menginggung perasaan orang yang tidak ia kenal sama sekali. Lagi pula Zee orangnya tidak suka mencari masalah duluan.
"Iya. Lo ngapain di sini?" tanya Zayn.
"Huumm, iya. Lagi nunggu jemputan. Ngomong-ngomong ini cuaca dingin banget ya. Aku aja sampe merinding gini." ucap Tania sambil mengusap-usap lengan polosnya.
'Ya iyalah dingin. Lo gak liat pakaian lo itu kayak kekurangan bahan. Kaya sih kaya, mau beli baju yang normal aja kagak mampu. Ck! Batin Zee.
Zee melototkan matanya saat Zayn yang tiba-tiba melepas jaket miliknya dan memberikannya kepada Tania.
"Nih, pake aja. Baju gue juga tebel kok. Jadi, gak dingin banget lah." seru Zayn sambil menyodorkan jaket miliknya.
"Perhatian banget sih. Tapi, makasih ya." balas Tania sambil tersenyum manis yang membuat Zee ingin muntah melihatnya.
"Iya, sama-sama." ucap Zayn sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya.
Ingin Zee mengumpat pria yang duduk di sampingnya tersebut. Namun, ia tidak cukup berani untuk melakukan semua itu. Zee hanya bisa mengumpat di dalam hatinya. Entah sudah berapa kali ia mengumpat Zayn. Tidak di lihatnya kah Zee yang sekarang? Badan yang sudah menggigil dan bibirnya yang sedikit pucat. Tapi, Zee berusaha menahan itu semua.
Zayn meletakkan tangannya di samping ia duduk. Tidak sengaja tangannya yang bersentuhan dengan tangan Zee yang sudah pucat sedari tadi. Zayn menatap Zee yang berada di sampingnya. Ia baru menyadari kondisi Zee yang lebih parah dari pada Tania. Zayn merutuki dirinya sendiri kenapa ia bisa sampai tega melakukan hal tersebut kepada sahabatnya sendiri. Tapi, lagi-lagi rasa gengsinya menutupi hati dan pikirannya.
Tapi kali ini Zayn berusaha untuk tidak kecolongan lagi. Ia akan berusaha untuk menghilangkan rasa gengsi nya selama ini sehingga bisa menutup mata hatinya.
Perlahan Zayn kembali menggosok telapak tangannya dan tiba-tiba ia memegang tangan Zee untuk ia genggam. Zee tersentak kaget melihat apa yang di lakukan oleh Zayn. Tiba-tiba jantungnya berpacu dengan cepat sehingga oksigen yang ada di sekitarnya serasa menghilang begitu saja.
"Maaf." lirih Zayn yang masih terdengar di telinga Zee.
Zee menatap bingung Zayn, "Maaf untuk?" tanya Zee penasaran dengan kepala yang ia dongkakkan untuk melihat wajah Zayn.
Zayn seketika gelagapan saat Zee yang ternyata mendengar apa yang baru saja ia bicarakan.
"Nggak pa-pa. Mungkin lo salah denger." kilah Zayn.
"Masih dingin?" tanya Zayn yang masih menggosok tangan Zee untuk memberikan sensasi hangat pada gadis itu.
"Nggak." ucap Zee dengan bibirnya yang bergetar.
"Gak usah bohong. Lo nyakitin diri sendiri."
'What! Nyakitin diri sendiri? Nggak sadar lo yang selalu bikin hati gue panas. Batin Zee mengumpat tapi ia juga menikmati momen-momen yang tidak pernah mereka lakukan seperti saat ini. Apalagi Zayn yang menggenggam tangannya sambil sesekali menggosoknya.
"Gue baru sadar. Baju lo tipis. Untung warnanya hitam. Kalo putih auto nerawang." canda Zayn dengan raut wajah seperti datar-datar dan sedikit tersenyum. Zee rasanya ingin mengucek matanya berulang kali saat melihat tingkah aneh yang di lakukan Zayn. Apalagi sekarang pria itu sangat perhatian kepadanya.
Wajah Zee bersemu merah saat mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Zayn.
"Ekhemmm..." dehem Tania. Zee baru sadar bahwa masih ada gadis aneh yang masih betah duduk di samping Zayn.
Zee tersenyum sinis ke arah Tania yang sedang menatap mereka dengan mata yang memanas. Sudah Zee pastikan bahwa Tania menyimpan rasa untuk Zayn.
"Lo beruntung bisa mendapatkan perhatian dari Zayn. Tapi, lo gak mungkin bisa dapetin hatinya. Walau gue gak tau persis siapa yang ada di hati Zayn saat ini." ucap Zee dalam hati yang masih menatap Tania sinis.
Tin Tin
Suara klakson mobil yang berhenti tepat di depan mereka.
"Ehhh, Zayn. Aku pamit dulu ya. Noh, jemputan udah sampai." pamit Tania.
"Gak ada yang nanya lo." Batin Zee.
"Oke." balas singkat Zayn.
"Nih jaketnya?"
"Gue bawa pulang dulu ya. Sekalian ntar gue cuci." lanjut Tania.
'Emang lo tau nyuci? Gue rasa lo cuma tau makan, tidur shopping doang.
"Gak u..."
"Gak usah ya. Sini jaketnya!" ucap Zee menyela kalimat Zayn dan merampas jaket milik Zayn yang di pegang oleh Tania.
"Zayn?" ucap Tania.
"Gak pa-pa. Mending lo balik
Udah di tungguin dari tadi noh." kilah Zayn sambil menunjuk mobil jemputan Tania.
"Kalo gitu aku pamit dulu, ya. Dahhh Zayn." Zayn hanya menganggukkan kepalanya.
"Pulang yuk. Hujannya juga udah berenti." ajak Zayn.
"Jaketnya di pasang. Nanti kedinginan di jalanan." pinta Zayn.
Zee yang mendengar itu langsung menolak mentah-mentah tawaran Zayn yang memintanya untuk memakai jaket miliknya. Zee sebenarnya tidak masalah jika memakai jaket milik Zayn. Tapi, Zee tidak rela harus memakai bekas gadis yang menurutnya sangat menyebalkan dan selalu caper kepada Zayn.
Zayn menghembuskan nafasnya berat. Setelah memastikan Zee naik di atas motornya Zayn melajukan motornya perlahan. Saat baru saja mengendarai motornya sekitar 200 meter tiba-tiba Zayn menghentikan motornya dan turun di ikuti Zee. Zayn melangkahkan kaki nya ke dalam toilet umum di sana. Mungkin Zayn ingin membuang air kecil. Pikir Zee. Tapi dugaannya salah. Zayn datang dengan baju nya yang sudah ia lepas menyisakan kaus dalaman berwarna hitam dan tangannya yang menenteng sweater yang ia kenakan tadi.
"Pake ini aja." Zayn menyodorkan sweaternya kepada Zee.
"Ngapain?" tanya Zee bingung.
"Lo kedinginan. Pake aja. Biar gue yang pake jaketnya." jelas Zee. Saat melihat Zee yang tidak bergerak sama sekali dengan terpaksa Zayn memasangkan hoodie miliknya ke tubuh Zee.
"Nahh, udah. Naik!" ucap Zayn sambil menaiki motornya.
Di dalam perjalanan Zee sesekali mencium aroma baju Zayn yang terpasang di badannya. Wangi tubuh Zayn yang melekat di bajunya membuat Zee memejamkan matanya sejenak. Di tambah Zayn yang menjalankan sepeda motor nya dengan kecepatan pelan seakan membuat waktu berjalan lebih lambat dari biasanya.
"Makasih." ucap Zee saat mereka sudah sampai di rumah Zee.
"Iya, sama-sama."
"Gue balik dulu ya. Udah mau magrib soalnya." lanjut Zayn.
"Hati-hati!" Zayn menganggukkan kepalanya dan kembali menjalankan sepeda motornya menuju ke rumahnya. Zee memandang Zayn yang sudah tidak nampak lagi di depan matanya.
"Assalamu'alaikum." seru Zee ketika masuk ke dalam rumahnya.
"Bunda mana, Dek?" tanya Zee saat tidak melihat Bunda Weni.
"Ada noh di dapur lagi masak buat makan malam." balas Alif yang masih fokus memainkan game nya. Zee pun mengangguk-angguk mengerti.
Saat Zee baru saja menaiki dua tangga menuju kamarnya tiba-tiba sang Bunda memanggilnya.
"Iya, Bund?"
"Kamu gak kehujanan kan pulangnya. Trus sama siapa pulangnya?" tanya Bunda Weni.
"Tadi sih hujan, Bund. Cuma neduh bentar di halte. Pulangnya sama temen Zee kok, Bund."
"Trus Vani, Elsa?"
"Sebel tau, Bund. Mereka ninggalin Zee di cafe." balas Zee cemberut.
Tatapan Bunda Weni kini beralih pada sweater yang melekat di tubuh sang anak.
"Itu punya siapa? Kayaknya bukan punya kamu deh. Soalnya baju yang warna nya gitu gak ada." bingung Bunda Weni.
Zee seketika bingung mau menjelaskannya. Tidak mungkin ia harus menjawab bahwa sweater yang ia pakai sekarang adalah milik Zayn, "I-itu, Bund. Punya temen tadi di pinjemin. Katanya biar Zee gak kedinginan." jelas Zee.
"Perhatian banget temennya. Kapan-kapan ajak main ke rumah ya." seru Bunda Weni yang belum mengetahui bahwa yang Zee bilang 'Teman itu adalah seorang laki-laki.
Zee hanya meringis mendengar ucapan sang Bunda, "Hehe, iya, Bund. Nanti kapan-kapan Zee ajak main ke rumah." balas Zee.
"Yaudah kalau gitu. Kamu bersih-bersih gih. Jangan lupa keramas biar nanti gak sakit habis kena air hujan." titah Bunda Weni.
"Iya, Bunda."
Zee pun masuk ke dalam kamarnya menuruti perintah sang Bunda yang menyuruhnya untuk keramas. Padahal hari sudah mau malam. Tapi demi kesehatannya Zee pun menurutinya.
Tok tok tok
"Masuk." teriak Zee saat dirinya yang masih mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer.
Selesai Zee dengan aktivitasnya ia membalikkan badannya untuk melihat siapa yang masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa, Dek?" tanya Zee bingung saat melihat adiknya tumben-tumbenan masuk ke dalam kamarnya. Pasti ada sesuatu. Kalau tidak meminjam penghapus, penggaris, pasti buku. Tebak Zee.
"Mau minjam apa?" tanya Zee sekali lagi.
"Kata Ayah gak boleh su'udzon gitu, Kak." kilah Alif.
"Kakak gak su'udzon ya. Kamu kan biasanya kalo ke kamar Kakak itu cuma buat minjam barang-barang Kakak aja." sindir Zee dengan menatap sengit sang adik yang hanya terpaut 2 tahun darinya.
"Kak." cicit pelan Alif sambil menaikkan kedua alisnya. Haishh, kenapa dengan Alif seketika bertingkah aneh dari biasanya? Pikir Zee.
"Kenapa Alifraldi Wildani?" kesal Zee sampai-sampai ia menyebutkan nama lengkap sang adik.
"Nyanyiin Alif dong, Kak. Boleh ya?" pinta Alif dengan memasang wajah imutnya. Alif tau bahwa sang Kakak sangat anti ketika di suruh untuk menyanyi. Padahal suara Zee lumayan merdu. Hanya saja orangnya yang kurang suka.
"Gak! Kakak gak mau!" tolak Zee.
"Ohhh, ayolah Kakakku." rengek Alif.
"Kakak gak mau. Titik. Gak pake koma."
"Yaudah, aku bilangin Bunda nih." ancamnya.
"Bilang aja sana. Lagian Kakak gak punya rahasia apa-apa." kilah Zee.
"Beneran? Gak nyesel nih kalo aku bilang ke Bunda atau Ayah?"
Seketika ingatan Zee kembali pada kejadian tadi siang saat ia memposting foto di akun Instagram miliknya, "Bilangin apa dulu?" tanya Zee.
"Katanya 'bilang aja sana. Lagian Kakak gak punya rahasia apa-apa." ucap Alif yang menuruti gaya bicara Zee.
"Bocahh edan! Udah berani ya sama Kakak?" Zee langsung mengambil guling di sampingnya karena ia saat ini duduk di atas kasur kemudian langsung memukul sang adik.
"Aduhhh, Kak. Aku bilangin Ayah lagi nih kalo Kakak suka mukul aku." keluhnya saat Zee yang memukul tubuhnya berulang kali.
"Biarin!" Setelah di rasanya cukup Zee akhirnya menghentikan aksi memukul nya itu.
"Punya adek gak ada akhlak." cibir Zee.
"Kakak juga." balas Alif tidak mau kalah.
"Keluar sana! Bikin Kakak emosi aja." usir Zee.
"Kakak beneran berani ngusir aku?" tanya Alif dengan nada sedih di buat-buatnya.
"Iya!" jawab Zee ketus.
"Yaudah kalo gitu. Kakak gak mau nyanyiin aku trus Kakak tega ngusir aku. Aku aduin beneran ini."
"Gak takut!"
"Wuihh, cantik banget Kakakku foto kayak gini. Apalagi nih! Tangannya nangkring gitu. Ini juga ganteng banget. Siapa sih nih. Jadi penasaran deh." sindir Alif dengan mendiskripsikan secara detail dengan melihat layar ponselnya.
"Nihh, liat deh, Kak. Siapa tau Kakak kenal orangnya." Alif memperlihatkan layar ponselnya di mana ia sedang membuka akun Instagram sang Kakak. Zee seketika mendongkakkan kepalanya melihat layar ponsel sang Adik yang telah di angkat tinggi-tinggi oleh Alif. Mata Zee melotot melihat itu.
Secepat kilat Alif keluar dari kamar sang Kakak sebelum mendapat amukan karena telah berhasil mengerjai sang Kakak. Di lihat dari raut wajah Zee yang terlihat sangat kesal.
"ALIF!!!! SINI KAMU!" suara Zee menggelegar di dalam kamarnya hingga mencapai di seluruh penjuru rumahnya.
"Buahahahaaaaa..." seketika tawa Alif pecah begitu saja.
...🐷🐷🐷...
...Jangan lupa tinggalkan jejak...
...Sesusah atau sebelum berpetualang...
...Terima kash atas dukungannya...
...😘😗😘...