
Sesuai janji Zee tadi yang akan membawa Rega ke toko kue miliknya, sementara Lora menetap di apartemennya untuk beristirahat karena ia akan masuk kerja lagi pada malam hari.
Sekarang mereka sudah berada di dalam ruangan tempat Zee biasanya memeriksa buku-buku pesanan kue atau sekedar untuk memeriksa penjualan selama satu bulan lalu sampai sekarang. Zee bersyukur toko kuenya mengalami perkembangan yang pesat. Padahal baru satu tahun yang lalu ia membuka usaha kecil-kecilan. Kini, toko nya banyak pelanggang. Karena banyak peminat yang suka terhadap kue buatan Zee.
Zee duduk di atas kursi kebedarannya untuk memeriksa buku penjualan sementara Rega yang ia dudukkan di atas lantai sambil bermain mobil-mobilan.
Tok tok tok
"Permisi, Buk."
"Silahkan masuk." jawab Zee yang masih fokus dengan aktivitasnya.
"Kenapa, La?" tanya Zee sambil mengangkat kepalanya.
"Itu, Buk. Ada yang ingin bertemu dengan Ibuk." jawab Lala asisten Zee. Lala lah yang biasa mengantikan Zee saat Zee tidak ada di tokonya.
"Sudah saya bilang. Jangan panggil Ibuk. Panggil Zee aja." ucap Zee. Dari dulu Zee tidak suka ketika ia di panggil dengan panggilan formal. Karena bagi Zee, Lala adalah sosok Kakak yang begitu penyayang. Karena usia Lala lebih tua empat tahun darinya.
"Hehe... Iya, Z-Zee." ucap Lala canggung.
"Mana yang mau ketemuan sama saya?" tanya Zee.
"Ada di luar, Zee."
"Yasudah, suruh masuk aja." pinta Zee.
"Baik, Zee!"
Tidak lama suara ketukan pintu ruangannya terdengar lagi.
"Silahkan masuk!" ucap Zee tanpa mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
"Ekhemmm..." dehem seseorang yang baru saja memasuki ruangannya.
"Siap..." belum selesai Zee melanjutkan kalimatnya, kini ia sudah terbengong menatap seseorang itu.
"Kenapa, Zee? Kok kayak kaget gitu liat aku?"
"Ada apa lagi?" tanya Zee dengan malas. Sungguh ia malas untuk meladeni manusia yang satu ini.
"Kok gitu sih sama aku? Santai dong. Btw jalan yuk!" ajaknya.
"Gue gak bisa. Lo gak liat nih, noh." tunjuk Zee ke arah buku yang ia pegang dan ke arah Rega yang masih bermain sendirian di bawah lantau beralaskan karpet kecil.
"Mending lo balik aja deh, Reno."
Berulang kali tolakan yang Zee berikan kepadanya. Tapi, itu semua tidak membuat Reno menyerah. Entah apa motif pria itu. Sampai-sampai pria itu sempat menghajar sang adik di belakangnya hanya karena Alif sering bersamanya. Bahkan Reno tidak tau bahwa Alif adalah adik kandung satu-satunya yang sangat ia sayangi.
Tapi tak apa. Bagi Zee itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa pria itu tidak baik untuk bersamanya.
"Sayang banget, Zee, kalo aku puter balik lagi. Gak kasian apa kamu sama aku? Udah panas-panasan di tambah uang bensinnya nanti membazir."
Cuihhh!
Ingin rasanya Zee menyumpal mulut pria yang sedang berada di dekatnya itu. Sungguh! Zee sangat muak dibuatnya!
"Badan badan lo. Duit duit lo. Bukan duit gue kan? Emang yang suruh lo dateng ke sini tuh siapa? Gue? Sorry ya. Gue gak pernah nerima tamu kayak lo." terlihat Reno sedang menahan emosinya. Tidak salah bukan sesekali Zee mengambil sikap tegas. Bahkan ketegasannya serasa terbuang sia-sia.
'Sekarang lo boleh nolak gue, Zee. Suatu saat pasti lo akan jadi milik gue selamanya. Batin Reno sambil tersenyum smirk seakan-akan merencanakan sesuatu yang buruk untuk yang wanita itu tidak tau.
"Mami." seketika Zee langsung mengalihkan pandangannya ke arah Rega yang memanggilnya.
Zee pun mendekati Rega dan ikut duduk di sampingnya tanpa memperdulikan Reno yang sedang menatapnya dengah tajam.
"Kenapa, sayang? Rega bosan, nak?" tanya Zee sambil mengelus lembut kepala Rega.
"Lega lapel, Mi." adu Rega.
"Ohhh ya? Rega laper. Rega mau makan apa, nak?"
"Lega mau makan kue buatan Mami." ucap Rega.
"Buatan Mami ya? Yuk, kika ke dapur. Mami buatin kue spesial untuk Rega."
"Kalo gitu mainannya di beresin dulu ya, nak. Mami mau beresin peralatan Mami di atas meja dulu."
"Ciap, Mi." dengan telaten dan perlahan Rega membereskan mainannya yang berserakan. Zee tersenyum melihatnya.
"Lo masih mau di sini?" tanya Zee. Tanpa menjawab pertanyaan Zee, Reno melenggang pergi begitu saja dari ruangan Zee.
"Mami, Lega udah ciap." Rega menarik-narik ujung baju milik Zee.
"Ehh, iya, sayang. Udah siap?"
"Udah, Mi. Liat di cana. Lapi kan?" tanya Rega menunjukkan ke arah mainannya yang sudah ia susun rapi.
"Pinter." Zee mengacak pelan rambut Rega.
"Yaudah, yuk. Mami buatin kue enak buat Rega." Zee langsung menggendong Rega dan membawanya menuju dapur dimana para pekerjanya sedang membuat banyak macam kue. Beruntung Zee banyak belajar tentang resep resep membuat kue. Apalagi resep kue dari sang Bunda.