Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 28. Gak kenal



Penerbangan Indonesia menuju London memang bukan hal yang mudah. Butuh waktu berjam-jam untuk sampai ke tujuan. Bahkan mencapai belasan jam. Tapi, bagi Alif itu bukan hal yang sulit.


Alif sampai di bandara yang berada di London pada pukul sepuluh pagi. Perjalanan menuju apartemennya memakan waktu yang cukup lama sekitar satu jam. Alhasil ia sampai di apartemen Zee pada pukul sebelas siang.


Ceklek


Pintu apartemen di buka oleh Alif. Alif celingak-celinguk mencari orang yang berada di apartemen tersebut.


Telinga terfokus ke arah kamar yang masih tertutup rapat tersebut. Samar-samar suara Rega menangis terdengar di telinganya.


Saat ia baru memegang knop pintu tiba-tiba namanya di panggil.


"Lif..."


Alif membalikkan badannya.


"Kak."


"Kapan sampainya?" tanya Zee heran.


"Barusan kok." jawab Alif.


"Kamu jam berapa berangkatnya?"


"Dini hari jam satu, Kak. Maaf, aku gak bisa nunggu lebih lama lagi. Pas malam sehabis Kakak nelfon aku langsung pesan tiket ke sini." jelasnya.


"Udah Kakak bilang kalau mau berangkat tuh nunggu siang aja. Liat nih kamu. Keliatan capek banget." omel Zee.


"Rega mana, Kak? Ada di dalam kamar?" alih-alih menanggapi omelan sang Kakak. Alif lebih memilih untuk mengubah topik pembicaraan mereka.


"Iya, di dalam sama Lora. Kamu masuk kamar dulu deh. Bersih-bersih. Trus istirahat."


"Ya udah deh. Aku masuk kamar dulu." Alif langsung masuk ke dalam kamarnya yang terletak di pojok kanan sebelah kamar Zee.


Lora keluar dari kamarnya saat baru saja menenangkan Rega yang menangis. Lora celingak-celinguk melihat sekitar depan kamarnya. Pendengarannya yang salah atau ia sudah berhalusinasi mendengar suara Alif.


Lora tampak menggelengkan kepalanya. Ia pun berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih.


Tap tap tap


Terdengar suara langkah kaki yang membuat Lora kembali membalikkan badannya. Ia mengangkat kedua bahunya bingung. Saat Lora ingin membalikkan badannya untuk kembali melanjutkan langkah kakinya menuju dapur tiba-tiba ia di kejutkan oleh Alif yang entah sejak kapan kini berdiri di hadapannya.


Huftt!


Lora menghembuskan nafasnya kasar untuk meredakan rasa keterkejutannya itu.


"Kenapa ada di sini?" pertanyaan Lora yang membuat Alif salah paham. Ia kira Lora tidak mau melihat keberadaannya di sini.


Bukannya menjawab Alif malah membalikkan badannya. Ia berjalan menuju dapur yang diikuti oleh Lora di belakangnya.


Di dapur ternyata ada Zee yang tengah membuat segelas coklat panas untuknya.


"Kalian ngapain kok ke sini?" tanya Zee heran.


"Kepengen minum kopi, Kak." jawab Alif sambil mendekati sang Kakak yang berdiri di dekat meja dapur. Ia pun membuka lemari yang terletak di atas untuk mengambil gelas.


"Kamu, Ra?"


"Mau ambil air dingin di kulkas. Gerahhh." balas Lora.


"Ya udah. Aku mau ke kamar dulu. Ada kerjaan." Zee pun meninggalkan dua manusia berbeda jenis itu.


Hanya terdengar suara gelas yang bertubrukan dengan sendok saat Alif mengaduk kopi yang ia buat.


Suara tuangan air di gelas saat Lora menuangkannya.


Hanya diam


Hening


Lora yang merasakan aura berbeda dari Alif menjadi sedikit risih... Dan khawatir.


"Kapan sampainya?"


Suara Lora memecahkan keheningan mereka berdua.


Alif seketika menghentikan gerakan mengaduk kopinya.


"Tadi." jawab Alif singkat.


Selesai dengan aktivitasnya, Alif melangkahkan kakinya kembali ke kamarnya.


Lora hanya menghembuskan nafasnya pelan saat melihat tanggapan Alif.


...***...


"Aku denger sekolah Kakak bakal ngadain reunian. Kakak mau ikut?" tanya Alif saat mereka sedang menyantap makan malamnya.


"Belum tau." jawab Zee menghentikan kunyahannya sejenak.


"Kakak gak ada niatan untuk membuka cabang di Indonesia? Ayah sama Bunda juga nyaranin itu. Katanya biar Kakak bisa netap di sana." ujar Alif.


"Boleh juga. Kamu mau bantu Kakak nyiapin semuanya?"


"Tentu dong, Kak. Biar aku suruh temen aku yang di sana buat bantu-bantu nyari tempatnya. Biar toko Kakak di sini di tutup aja atau gak di jual aja deh." gelak Alif.


"Kalau ngomong sembarangan. Kakak susah-susah bangun toko itu ehh kamu suruh jual." balas Zee kesal.


"Becanda, Kak. Nanti toko Kakak di sini suruh Mbak Lala aja yang jaga." Zee hanya mengangguk patuh.


"Beneran Kakak gak mau pergi ke acara reunian sekolah?" tanya Alif sekali lagi.


"Kakak belum tau, Lif." jawab Zee. Sebenarnya ia hanya takut apabila bertemu Zayn.


"Terserah Kakak deh. Ohh, iya, Kak. Ada yang nyariin Kakak pas aku makan malam waktu itu." seru Alif.


"Siapa?" tanya Zee penasaran.


"Namanya kalau gak salah tuh Zayn. Bener gak sih?" goda Alif.


"Zayn siapa? Kakak gak kenal tuh." balas Zee ketus.


"Masa sih, Kak. Meragukan sih."


"Jangan di bahas!" ucap Zee dalam mode galaknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Happy reading...


...😘😘😘...