
"Udah, Nak?" tanya Bunda Weni saat melihat Zee yang baru saja masuk.
"Udah, Bund." jawab Zee sambil duduk di kursi samping ranjang sang Bunda.
"Nanti kalau Bunda udah sehat apa kamu mau balik lagi ke sana?"
Zee tampak berpikir kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Zee mau netap di sini aja. Nemenin Ayah sama Bunda. Mau ganti waktu yang udah terbuang habis tanpa kehadiran Ayah Bunda." jawab Zee sambil membawa tangan sang Bunda untuk ia kecup.
"Makasih, Nak." ujar Bunda Weni sambil tersenyum hangat.
Lama Zee terdiam sambil menatapi paras Bundanya. Rasanya rindunya yang selama ini ada di lubuk hatinya belum hilang. Ia selalu merindukan kehangatan yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Rindu dengan ocehan sang Bunda ketika membangunkan dirinya yang tertidur. Rindu ketika sang Ayah mengantarkan ia pergi ke sekolah. Rindu. Hanya rindu!
Perlahan mata lentik itu terpejam. Kepala yang ia jatuhkan di tepian ranjang sang Bunda sambil memeluk lengan lembut itu. Lelah. Ia lelah akibat perjalanan jauh. Mengantuk...
Hanya keheningan. Bunda Weni memilih diam sambil melihat wajah cantik anak sulungnya itu. Sesekali ia mengelus rambut hitam panjang anaknya. Sedangkan sang Ayah Zaki sudah keluar sedari tadi karena ada urusan yang harus ia selesaikan.
Lama Zee tertidur sampai-sampai ia tidak menyadari adanya perawat yang mengantarkan makanan untuk sang Bunda. Dan Dokter untuk memeriksa keadaan Bundanya itu.
Bahkan Bunda Weni tidak membangunkan dirinya. Bunda Weni prihatin melihat keadaan anaknya yang seperti sangat lelah. Bunda Weni membiarkan Zee tertidur di sisi ranjangnya dengan posisi duduk dengan kepalanya di sisi ranjang dan wajahnya yang ia biarkan tertutupi rambut panjangnya.
"Gimana keadaan Tante, Nak?" tanya Bunda Weni sambil melihat Dokter yang memeriksanya.
"Keadaan Tante sudah cukup membaik. Tante jangan banyak pikiran, gak boleh lelah atau mengerjakan pekerjaan yang berat-berat dulu. Sebaiknya Tante di rawat sekitar dua atau tiga hari baru pulang supaya memastikan keadaan Tante sudah sehat total." jawabnya sambil sesekali melihat wanita yang tengah tertidur pulas di ranjang pasien. Ingin ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik wanita itu. Ia ingin melihat paras itu meskipun hanya sekali. Itu sudah cukup untuk membuat hatinya bergetar.
Sebenarnya keadaan Bunda Weni sudah membaik dan sudah boleh pulang. Hanya saja ia harus mencari alasan yang kuat untuk menahan supaya Bunda Weni tidak pulang.
"Begitu ya. Baiklah, Dok. Saya akan menuruti saran Dokter." gelak Bunda Weni pelan karena takut membangunkan anak sulungnya.
"Tante bisa aja." balasnya sambil terkekeh.
"Dokter Zikhri saya pamit dulu ya. Ini makanannya sudah saya simpan di situ." tunjuk perawat ke arah meja di sambil ranjang pasien.
"Baiklah, Suster. Silahkan." balasnya.
"Tante. Itu siapa?" tunjuknya ke arah Zee yang tengah tertidur pulas. Ia hanya memastikan.
"Ini anak Tante yang pertama." jawab Bunda Weni sambil melirik sekilas anaknya.
"Ini ya anak Tante yang pertama. Bukannya lagi di luar negeri ya, Tan?"
"Tau nih anak. Denger Bundanya sakit aja langsung pulang. Kelihatan capek banget. Soalnya tadi baru siang baru datang di sini." jelas Bunda Weni.
Dokter tersebut hanya menganggukkan kepalanya.
"Ehh, iya. Tadi Mama nitip salam ke Tante. Katanya besok Mama baru jenguk Tante."
"Gak perlu repot-repot, Nak. Tante udah sehat kok."
"Ya sudah. Semangat ya kerjanya, Nak." balas Bunda Weni.
"Iya, Tan."
"Nak, tunggu bentar. Boleh tolongin Tante gak?" ujar Bunda Weni.
Ia pun berbalik kembali dan mendekati Bunda Weni.
"Iya. Boleh, Tan. Tante mau apa?" tanyanya.
"Boleh tolongin pindahin anak Tante ke sofa?" pinta Bunda Weni yang kasihan melihat letak tidur anaknya.
"Boleh, Tan." dengan senang hati ia menerima permintaan Bunda Weni.
Dengan perlahan ia mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya untuk mempermudah ia memindahkannya ke sofa.
'Ampun deh. Ternyata berat juga. Batinnya.
Ia pun menurunkan Zee perlahan di atas sofa.
"Udah, Tan. Aku pamit ya. Tante butuh apa lagi?" Bunda Weni menggelengkan kepalanya pertanda tidak ada.
Dokter yang di panggil Zikhri itu pun menyalami Bunda Weni. Kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dengan cepat saat melihat wanita yang tertidur itu menggeliat kecil seperti terganggu saat ia memindahkannya ke atas sofa.
Zee terbangun. Ia terbangun. Sekilas ia melihat Dokter dengan jas putih kebesarannya itu keluar dari ruangan sang Bunda.
Zee mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali untuk menyesuaikan matanya saat melihat cahaya.
"Kamu udah bangun, Nak?" tanya Bunda Weni.
Zee hanya mengangguk. Badannya terasa pegal. Bagaimana tidak, ia tertidur dengan posisi duduk dengan kepala yang ia jatuhkan di atas ranjang.
"Zee kok ada di sini, Bund?" tanyanya bingung sambil mengumpulkan nyawa.
"Tadi Bunda minta bantuan Dokter, sayang."
Zee hanya mengangguk-angguk.
"Lebih baik kamu pulang, Nak."
"Udah sore juga. Kasian kamu pasti belum cukup istirahat." lanjut Bunda Weni.
Zee pun menuruti perkataan sang Bunda saat bertepatan Ayah Zaki yang baru datang.
...๐๐๐...
Jangan lupa jempolnya gaes, komen, rate ๐ 5, vote, gift kalau boleh ๐