
"Zee, duduk sini, sayang." ucap Bunda Weni ketika melihat anaknya mematung di ujung anak tangga.
Dengan langkah kaku Zee berjalan mendekati meja makan dan duduk di samping sang Bunda.
Seketika Zee menjadi kikuk saat dirinya yang menjadi pusat perhatian.
Apakah ada yang salah dengan penampilannya? Zee memperhatikan penampilangnya lagi.
Netra matanya terhenti saat melihat pria yang tengah duduk di hadapannya.
"Hayuk atuh di makan." ucap Bunda Weni.
"Iya, jeng."
Suasana sunyi. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu.
Selang beberapa waktu akhirnya acara makan malam tersebut selesai. Zee bangkit dari duduknya membantu sang Bunda membereskan sisa-sisa makanan dan mencuci piring kotor. Semua pergerakan Zee seolah-olah di awasi.
"Hen, kita ke ruang tengah aja yuk." ajak Ayah Zaki.
"Baiklah. Sepertinya para wanita butuh ruang untuk bergosip." candanya.
"Bunda, Ayah sama Hendra pamit ke ruang tengah dulu ya."
"Iya, Yah." jawab Bunda Weni.
"Zayn?"
Pria tersebut seketika mendongakkan kepalanya memandang sang Papa penuh tanya."Iya, Pa?"
"Kamu mau ikut?" tanya Papa Hendra.
"Aku di sini aja boleh? Nungguin Mama." ucapnya.
"Ya udah. Nanti kamu nyusul aja."
Dua orang pria paruh baya tersebut langsung melenggang pergi.
"Tante udah netapin janji, nak. Waktu itu Tante kan pernah bilang kalau mau berkunjung ke rumah kamu." ucap Mama Anggi memecahkan keheningan mereka.
Zee seketika menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke belakang. "Hehe, iya, Tan." jawabnya kikuk.
"Kamu gak takut nanti penampilan kamu rusak?"
"Takut kenapa, Tan?" tanya Zee tanpa mengalihkan pandangannya fokus mencuci piring.
"Biasanya kebanyakan anak gadis kalau sudah berpenampilan cantik itu nggak mau berkutat dengan piring kotor."
"Takutnya penampilan jadi rusak. Padahal kamu udah dandan cantik lho." lanjut Mama Anggi.
Zee tersipu saat di puji oleh Mama Anggi. "Kenapa harus takut rusak, Tan? Nanti bisa di benerin ulang."
Mama Anggi memandang salut pada Zee. Sangat jarang ditemui wanita seperti itu. Pikirnya.
Apakah ia harus menjodohkan Zee dengan anak semata wayangnya? Bagaimana 🤔
"Bunda sama Tante tunggu aja di ruang tengah. Zee beresin ini dulu bentar. Nanti Zee nyusul ke sana." saran Zee.
"Gak apa-apa kalau kamu sendirian di sini?" tanya Mama Anggi.
"Gak apa-apa kok, Tan."
"Baiklah, kalau begitu Tante sama Bunda kamu ke sana dulu ya. Jangan lama-lama."
Sang Bunda dan Mama Anggi pun melangkahkan kakinya menuju para suaminya dan meninggalkan Zee sendirian. Eh 😕 Berdua dengan Zayn maksudnya 😌
Zee kembali melanjutkan mencuci piring. Memang tidak banyak. Tapi, aktivitasnya selalu terjeda. Jadi, cukup memakan waktu.
Zee tidak menyadari pria yang tengah duduk di meja makan tersebut masih berada di tempatnya. Ia kira pria tersebut mengikuti orang tuanya ke ruang tengah.
Sampai-sampai dehemannya membuat Zee seketika membalikkan badannya. Pas sekali saat ia baru saja menyelesaikan cucian piring dan membasuh tangannya bersih.
Zee melototkan matanya melihat itu. Pria yang tengah duduk rapi dengan tangan yang ia lipatkan di atas meja.
"Jangan melotot nanti matanya lepas. Kalau lepas nanti gak bisa lihatin wajahku?"
"Pede sekali anda Tuan Zayn yang terhormat." Zayn terkekeh kecil. Ia pun bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Zee yang masih berdiri di dekat wastafel.
"Jangan dekat-dekat!" peringat Zee dengan wajah yang panik.
Tapi, yang namanya lelaki ya pasti sangat susah di atur 😌
"Kenapa panik? Aku cuma mau cuci tangan aja." Zayn menyelinap di sisi Zee yang masih terpatung di sana.
"Besok? Gak ada sih." jawab Zee dengan jujur. Memang ia tidak berencana untuk bepergian atau sekedar have fun. Hanya saja ia akan memantau sebentar keadaan tokonya.
"Besok ikut aku ya?" ajak Zayn.
"Mau kemana?"
"Ke kantor. Besok kan aku udah gantiin posisi Papa." jawab Zayn dengan bangga.
"Gak mau!" tolak Zee mentah-mentah.
"Kenapa?" tanya Zayn.
"Itu acara penting." jawab Zee seadanya. Memang Zee tidak pernah mengikuti atau penghadiri acaa sepenting itu.
"Memangnya kenapa kalau itu acara penting?"
"Jangan membuatku malu." lirih Zee.
"Memangnya aku ada niatan untuk membuatmu malu? Apa aku setega itu?" tanya Zayn pertanyaannya yang ia tunjukan kepada dirinya sendiri.
"Bukan begitu maksudku." balas Zee dengan nada tidak enak.
"Lalu apa?" ujar Zayn dengan nada pelan.
"Acara penting di hadiri oleh orang penting. Sedangkan aku? Aku hanya seorang wanita yang baru saja membuka usaha toko kue kecil-kecilan..." belum selesai Zee melanjutkannya, kalimatnya sudah dipotong oleh Zayn.
"Semua orang sama. Tidak ada yang membeda-bedakan status dan derajat. Yang berbeda hanya ini." tunjuk Zayn ke arah dadanya sendiri.
"Hanya ini yang berbeda." lanjutnya.
"Nanti aku pikirkan." ucap Zee sambil memalingkan wajahnya ke samping. Ia berusaha menghindari kontak mata dengan pria itu.
"Jangan lama-lama. Nanti malam kabarin lagi. Besok pagi aku jemput." Zee hanya menganggukkan kepalanya.
"In sya Allah."
"Yuk nyusul orang tua 'Kita."
...***...
Tringgg
Bunyi ponsel Zee menandakan ada pesan masuk. Zee yang sedang duduk di kursinya sambil membaca novel langsung berdiri. Sepertinya ia punya hobby baru yaitu membaca novel.
Zee mengernyitkan dahinya bingung. Nomor yang tidak dikenal.
[Malam.]
^^^[Siapa?]^^^
^^^Tanya Zee to the point.^^^
[Siapa ya?]
^^^[Ini siapa?]^^^
[Siapa?]
Zee yang merasa kalau itu hanya orang tersesat tanpa arah langsung memblokirnya.
Tidak lama setelah Zee memblokir nomor tersebut ia mendapatkan satu pesan dari nomor asing.
[Zee, jangan diblok nomornya. Simpan!]
^^^[Ini siapa ya?]^^^
[Ini aku, Zayn.]
Zee menganggukkan kepalanya. Ia pun men-save nomor Zayn. Memang Zee tidak pernah memiliki kontak pria. Hanya beberapa saja.
^^^[Ada apa?]^^^
[Besok ya. Aku jemput. Jangan sampai lupa.]
^^^[Iya.]^^^
Setelah membalas pesan tersebut Zee langsung mematikan ponselnya kemudian menaiki kasurnya. Zee mengabaikan pesan-pesan yang masuk.
Tidak terasa mata lentiknya sudah terpejam. Zee mulai memasuki dunia alam bawah sadarnya.