
Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan kini berganti bulan. Hubungan mereka berjalan seperti biasanya. Hanya saja Alif yang sudah mulai akrab dengan Lora karena selalu ada Rega yang membuat mereka tidak canggung lagi. Perlahan Rega juga sudah bisa berbicara dengan lancar dan tidak cadel lagi ketika mengucapkan huruf R dan kini ia juga sudah bisa juga mengucapkan hurus S.
"Lif." panggil Zee saat mereka berempat sedang menghabiskan waktu malam hari untuk bersantai walau itu hanya di ruang santai dengan di temani TV yang menyala.
"Iya, Kak?" tanya Alif.
"Kamu udah pesan tiketnya buat besok?" tanya Zee. Karena yang ia tau Alif akan kembali ke tanah air untuk sementara waktu. Mumpung sekarang ia sedang liburan semester.
"Udah kok, Kak." jawab Alif.
"Jam berapa?"
"Agak siangan sih, Kak. Sekitar jam sepuluhan gitu. Jadi masih ada waktu buat beres-beres." jelas Alif yang sedang mengelus rambut Rega yang berada di pangkuannya sambil balita tersebut tengah asik melihat layar TV yang memperlihatkan sebuah bus berwarna biru yang tengah mengambil penumpangnya di halte. Di tambah teman-temannya yang berwarna hijau, merah, dan kuning.
"Kamu di sananya lama gak?" tanya Zee.
"Kurang tau sih, Kak. Soalnya temen Alif yang baru datang dari luar negeri juga mau ajak ketemuan." jelas Alif.
"Nanti kalau aku di sana lama biar Kakak nyusul deh. Sekalian bawa Rega juga." sarannya.
"Mau ajak Rega sendiri atau sekalian dengan Mamanya?" Zee menaik turunkan alisnya menggoda sang adik. Karena dari penglihatannya selama ini bahwa Alif dan Lora semakin dekat.
"Apaan sih, Zee. Namaku kok di bawa-bawa?" protes Lora saat dia juga tengah asik menonton TV tiba-tiba mendengar namanya yang di sebut-sebut.
"Nggak ada kok. Kamu salah denger kali. Orang aku sama Alif bukan nyebut nama kamu. Kita tuh lagi ngomong drakor yang tentang pelakor-pelakor itu lho. Masa sih kamu gak tau?" kilah Zee.
"Tumben banget Alif mau cerita tentang drakor-drakoran?"
"Ehhh, itu... A-anu. Barusan aku juga nonton kok sama Kakak. Iya kan, Kak." tatap Alif ke arah Zee. Alif tau bahwa sang Kakak kini tengah kesulitan mencari alasan yang akurat.
"Gak jelas." cibir Lora.
Alif menatap sengit ke arah Kakaknya. Ia juga yang harus turun tangan.
"Rega, bobok yuk." ajak Alif saat melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan.
"Bukan punya kaki, sayang. Noh, liat kan. Bus nya itu ada roda. Rodanya ada empat. Jadi, roda nya yang berputar supaya busnya bisa bergerak." jelas Alif.
"Terus itu bus nya kok ada matanya sih, Pa. Perasaan tiap Rega liat bus tuh ndak ada matanya."
"Terus itu ada alisnya gerak-gerak. Terus bisa ngomong juga. Emang ada ya, Pa, orang jual bus kayak gitu? Kalo ada nanti beliin Rega yah, Pa?"
Alif pun bingung harus menjawab pertanyaan dari Rega. Alif menyesal telah memperlihatkan film kartun itu kepada Rega. Tapi, ia juga tidak bisa menyalahkan balita itu.
"Anakmu. Jawab tuh." seru Alif.
"Kok aku? Yang bukain film kartun itu siapa coba?" tanya Lora saat dirinya yang seperti di salahkan. Jangan lupakan perubahan panggilan mereka. Yang semulanya pakai 'Lo, Gue. Kini berubah menjadi 'Aku, Kamu.
"Tapi, kan. Itu anakmu." kilah Alif.
"Udahlah. Aku capek liat kalian debat kayak gini mulu. Nggak ada abis-abisnya. Hati-hati lho ntar jodoh." ucap Zee bangkit dari duduknya dan menuju ke kamarnya meninggalkan Alif, Lora, dan Rega yang masih berada di sana.
"Jodoh sama dia? Dihhh..." cibik Lora.
"Kenapa emangnya?" tatapan Alif kini berubah menjadi tajam dan sangat dalam. Hingga membuat Lora panas dingin di buatnya.
"Nggak cocok. Kamu masih bocah. Sedangkan aku aja udah punya anak." tiba-tiba tatapan Alif berubah menjadi sendu saat mendengar alasan yang diberikan oleh Lora. Kalimat yang Lora lontarkan bagaikan anak panah yang tiba-tiba menusuk hatinya. Mungkin Alif sudah terjebak di kondisi yang seperti ini. Harusnya ia tidak terlalu dekat dengan Lora. Mungkin juga Alif sudah menyimpan perasaannya.
"Emangnya kenapa?" tanya Lora yang malah membalikkan kata-kata Alif.
"Nggak pa-pa. Kalau gitu aku mau ke kamar dulu. Takutnya besok bangun kesiangan. Ohh, iya. Rega aku antar dulu ke kamar kamu. Biar nanti kamu gak perlu gendong Rega lagi. Timbangannya udah mulai naik. Jadi, agak berat kalau di gendong." jelas Alif panjang lebar. Kemudian ia mengangkat tubuh mungil Rega dan membawanya ke kamar Lora dan meninggalkan Lora yang masih termenung di tempatnya.
Selesai Alif mengantarkan Rega kemudian ia kembali ke tempatnya tadi untuk mengucapkan selamat malam kepada Lora.
"Sana! Susul Rega. Takutnya nanti dia kebangun kalau nggak ada yang nemenin." ucap Alif sambil mematikan TV yang masih menyala.
"Aku ke kamar duluan. Jangan tidur larut. Selamat malam semoga mimpi indah." Alif langsung menuju kamarnya.
Sementara Lora? Ia masih termenung di sana sambil mencerna setiap kalimat yang Alif ucapkan. Lidahnya seakan kelu untuk membalas sapaan selamat malam yang Alif ucapkan.