
Loransa Grabriellee. Satu-satunya teman yang dimiliki Zee ketika berada di negara tempat ia tinggal sekarang, London.
Mereka bertemu untuk pertama kalinya saat berada di bandara di negara London. Saat itu Zee yang tengah menunggu taksi untuk mengantarkan dirinya ke kediaman barunya yaitu apartemen tidak sengaja bertemu Lora yang saat itu sedang ada masalah dengan suaminya. Pada saat itu Zee menduga Lora seumuran dirinya. Hanya saja Zee lebih muda satu tahun dari Lora.
Singkat cerita. Lora datang ke London hanya untuk memastikan keberadaam suaminya yang katanya sedang sibuk bekerja. Lora pun melacak keberadaan suaminya melalu ponsel miliknya. Tidak di duga sang suami yang sedang berada di bandara untuk menjemput sang kekasih. Lora melihat dengan mata kepalanya sendiri saat suami yang sudah bersamanya selama kurun dua tahun itu begitu tega melakukan hal sebejat itu.
Padahal waktu itu Lora yang tengah hamil empat bulan, tetapi sang suami tidak mengetahuinya. Kedatangan Lora ke London adalah untuk mencari sang suami dan akan memberikan kejutan kepadanya. Tapi? Yang ia dapatkan malah justru kebalikannnya.
Lora pun menangkap basah kelakuan suaminya itu yang terlihat biasa-biasa saja ketika melihat Lora mendatangi dirinya. Betapa hancurnya hati Lora saat itu. Lora langsung memberitahukan bahwa ia ingin berpisah. Dan sang suami menyetujui hal itu dengan gampangnya. Lelah Lora menahan tangisnya, karena tidak tahan ia segera pergi dari tempatnya dimana sang suami dan selingkuhannya sedang bermesra. Lora pun berlari sekuat tenaga.
Di tengah lariannya ia tidak menyadari bahwa ada seorang gadis yang sedang memegang koper di tangannya sedang menunggu taksi. Tabrakan keduanya pun terjadi. Saat itu Zee tidak memiliki kenalan sama sekali di negara tersebut. Alhasil mereka pun menjadi teman sampai sekarang. Sampai lahirnya Rega dari rahim Lora. Ya, Regaxi Clarryon adalah anak yang di lahirkan oleh Lora.
Mereka berdua pun memilih untuk tinggal bersama. Di apartemennya bukan hanya mereka berdua saja. Tetapi ada Alif yang juga tinggal bersama mereka.
Alif juga memilih untuk melanjutkan studinya di negara sang sama dengan sang Kakak. Alasannya supaya sang Kakak tidak kesepian. Dan kedua orang tua mereka juga tidak perlu khawatir bahwa kedua anak-anaknya dalam keadaan sehat. Sekarang Alif juga satu atap dengan sang Kakak. Mereka akan pulang ke tanah air saat liburan semester. Sekarang Alif juga sudah memasuki semester ke-enamnya.
Lora menatap sendu ke arah dimana tempat Rega berbaring tidur dengan nyenyaknya.
"Zee, kalau kamu mau ke toko ke toko aja. Biar Rega aku yang ngejaga." ucap Lora sambil duduk di sofa kecil kamar apartemen Zee sambil memperhatikan secara detail wajah lelap sang anak.
"Nanti aja deh, lagian udah ada yang gantiin aku jaga toko sewaktu aku nggak masuk."
"Yaudah deh, terserah kamu aja." balas Lora.
"Ra." panggil Zee sambil menatap Rega.
"Kenapa, Zee?"
"Gimana kalalu Rega nanyain Ayahnya?"
Lora terdiam sejenak kemudian menghembuskan nafasnya pelan, "Belum kepikiran sampe ke sana aku, Zee. Yoga juga gak tau kalau dia udah punya anak. Biarin aja. Bebas bebas dia lah mau ngapain. Toh kami juga udah pisah." jawab Lora.
"Tapi, Ra. Rega juga perlu tau siapa Ayah biologisnya. Yoga juga harus tau kalo dia punya anak yang harus ia kasih nafkah."
"Sekarang aku gak tau Zee harus gimana lagi. Yoga juga udah ilang kabar. Biarin deh. Nanti kalau Rega nanya bakal aku jelasin pelan-pelan. Suatu saat dia pasti ngerti." ucap Lora.
"Iya, semoga aja." balas Zee.
"Trus kamu gimana? Gak niatan balik ke tanah air?" tanya Lora.
"Kayaknya belum deh, Ra. Nanti kalo aku pulang sekalian aja sama Alif pas dia udah wisuda." jawab Zee.
"Tapi, aku takut, Ra." cicit Zee pelan.
"Takut kenapa?" tanya Lora heran.
"Aku takut nanti ketemu dia lagi. Walau nanti ketemunya nggak sengaja tapi kan sama aja."
"Jangan khawatir. Kalau dia memang jodoh kamu, kalian bakal di pertemukan juga." ucap Lora menenangkan Zee.
"Nggak mungkin, Ra. Pasti saat ini dia udah punya istri dan anak." lirih Zee.
"Udah, jangan su'udzon. Kalau memang dia jodoh kamu pasti nanti dipertemukan juga. Kalaupun dia bukan jodoh kamu berarti Tuhan hanya mempersatukan kalian lewat jalur persahabatan atau hanya sekedar mengenal aja." jelas Lora.
"Lost kontak. Soalnya kan aku beberapa kali ganti nomor." jawab Zee mengulum senyum saat mengingat tingkah kocak para sahabatnya.
"Kayaknya seneng banget nih." goda Lora.
"Banget. Tapi, dulu..." sendu Zee.
"Kalo kangen ya tinggal di telfon lah." saran Lora.
"Nggak ahh. Biarin mereka yang nyari-nyari aku." Lora menepuk keningnya pelan kemudian menggelengkan kepalanya melihat sifat Zee yang jahil dari dulu ia kenal.
Tidak sadar mereka telah menghabiskan waktu sekitaran dua jam hingga mereka tersadar saat melihat Rega yang menggeliat kecil.
"Mami." rengek Rega kecil. Zee terkekeh pelan mendengar panggilan yang keluar dari mulut Rega.
"Lihatlah, anak kamu, Ra. Bangun-bangun bukannya manggil Mama ehh malah manggil Mami." ejek Zee.
"Ya, gak pa-pa lah. Seneng banget liat dia lengket sama kamu. Mau adopsi gak?" tanya Lora tiba-tiba.
"Sorry, enggak deh. Hahahaa... Soalnya belum memenuhi persyaratan." balas Zee tertawa.
"Makanya cepet cari penggantinya. Kayak gak ada pria lain aja." Zee menjulurkan lidahnya ke arah Lora.
"Mami huwaaaa..." Zee tersentak kaget saat Rega yang menangis tiba-tiba. Secepat mungkin ia naik ke atas kasur untuk menenangkan Rega.
"Cupp cupp cuppp. Kenapa nangis, sayang? Ini Mami di sini lho. Ada Mama juga." ucap Zee menenangkan Rega yang masih menangis sambil mengelus pelan kepala Rega.
Selang lima menit akhirnya tangis Rega mulai reda.
"Mama?"
"Iya, sayang. Ada Mama noh di kursi." jawab Zee.
Zee pun menuntun Rega untuk berjalan menuju Lora yang tengah tersenyum di sana.
"Kenapa, sayang?" Lora mengangkat anaknya membawa ke pelukannya.
"Mama, Lega mau mimik." rengek Rega.
"Ehhhh, Rega udah gede kenapa masih mimik? Emangnya mau nanti di ketawain Papa?" ucap Zee.
"Lega macih kecil. Jadi gak pa-pa. Ya, kan, Ma?" tatap Rega dengan masa yang berbinar memohon.
"Gemeshh banget sih. Anak siapa nih?" ucap Lora sambil mencubit pelan pipi Rega.
"Mama, Lega mau mimik." rengeknya lagi.
"Hahaha... Jadi gak tega liatnya, Ra." celetuk Zee dengan tawanya.
"Nanti abis mimik mandi ya. Rega mau ikut Mami ke toko nggak?"
"Mau." jawab Rega antusias.