Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 36. Gagal



Zee keluar dari mobilnya saat sudah sampai di lokasi yang diberikan oleh para sahabatnya.


Mereka bilang mereka ingin have fun dengan Zee. Hanya mereka bertiga. Katanya!


Zee sempat terperangah saat melihat pemandangan yang menarik matanya. Rasanya sangat indah. Sempurna.


Hari yang gelap menjadi indah kala lampu hias itu berkedip-kedip di sepanjang jalan menuju kursi. Di tambah bunga-bunga segar yang tumbuh di sekitarnya. Belum lagi air mancur kecil yang terletak di sisi kursi.


Zee bingung. Apakah ia salah tempat atau para sahabatnya yang keliru.


Zee berjalan perlahan mendekati kursi kayu yang di sekelilingnya terdapat lampu hias berkedip-kedip membuat matanya berbinar sekaligus pusing.


Zee mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ia mengetik pesan di grup WhatsApp yang beranggotakan Vani dan Elsa.


^^^[Gue udah sampai. Kalian dimana? Kok sepi?]^^^


Tringg


Bunyi balasan saat ia mengirim pesan itu.


@Elsa


[Kita berdua ada di resto. Lo kelamaan. Jadinya lapar gue.]


^^^[Trus gue gimana? Masa sendirian di sini. Pulang aja ya?]^^^


@Vani


[Jangan!!!]


^^^[Kenapa? Lagian kalian juga gak ada di sini. Ngapain juga gue sendirian. Ntar di culik nanti kalian juga yang repot.]^^^


@Elsa


[Ihh! Lebay amat. Lagian gak ada yang mau nyulik lo yang galak😜]


^^^[Wah.. Udah berani ya?😏]^^^


@Vani


[Gini aja. Lo tungguin kita berdua bentar. Udah mau selesai kok ini.]


^^^[Ya udah. Cepetan!]^^^


Zee kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Terpaksa ia harus menunggu sahabatnya itu.


Entah matanya yang terlalu teliti atau apa. Zee menemukan dua orang berhadapan dengan wajah pria itu berdekatan dengan wanita tersebut.


Zee yang penasaran langsung mendekati itu.


"Ekhem... Mbak, Mas. Ngapain gelap-gelapan berdua gini?" Spontan saja dua orang tersebut langsung terlonjak. Dan pria tersebut langsung menjauhkan wajahnya dan melepaskan tangannya yang berada di kepala wanita tersebut.


Lampu yang mati tersebut tiba-tiba menyala. Pria tersebut langsung berbalik. Dan...


Zee terkejut. Matanya mulai mengembun. Ia tidak tahu ada apa dengan perasaannya saat ini. Hati dan pikirannya jauh berbeda.


"Emmm... Maaf, sepertinya saya telah mengganggu. Maaf sekali lagi..." Zee langsung berbalik dan meninggalkan dua orang tersebut yang masih dalam keadaan kaget. Seperti telah di pergoki berbuat hal macam-macam.


"Zee, tunggu!" teriak wanita tersebut tapi tidak membuat langkah Zee terhenti.


"Zayn! Lo kok diam sih. Kejar sana!"


Saking kesalnya dengan sikap Zayn, Tania sampai memanggilnya dengan sebutan 'Lo.


Zayn terperanjat. Ia tersadar. Segera ia berlari mengejar Zee yang baru saja menjauh dari tempat mereka.


Rencananya gagal total.


Vani, Elsa, dan Renzy pun keluar dari tempat persembunyian mereka.


"Lho, Zayn mana? Pasti berhasil ya kan?" ucap Elsa.


"Gagal total euyyy. Gara-gara serangga nih. Duh! Mana masih sakit lagi mata gue. Kayaknya serangganya belum keluar deh." lirih Tania.


"Zee. Tunggu." seru Zayn yang sudah berada di belakang Zee.


'Degggg


Zee menghentikan langkahnya sejenak. Sesaat kemudian ia berbalik untuk memastikan bahwa pria tersebut benar-benar memanggilnya.


Sejenak. Mata mereka beradu. Zee langsung menunduk saat matanya kembali mengembun mengingat kejadian yang baru terjadi. Entahlah. Ia sudah berpikiran yang tidak-tidak.


Zee pun mengambil ancang-ancang untuk berbalik. Tapi, bukannya berbalik. Tangannya malah di tarik oleh pria itu.


Zee pun memandang pergelangan tangannya yang masih berada di dalam genggaman pria itu seakan-akan mengkode supaya melepaskan tangannya.


Paham dengan Zee, Zayn segera melepaskan genggamannya secara perlahan. Rasanya ia tidak rela.


"Maaf." satu kata terlontarkan.


Sementara di tempat tidak jauh dari mereka, para sahabatnya menjadi penonton bagaimana kelanjutan dari kisah asmara pasangan tersebut.


"Apa kabar?" tanya Zayn dengan manik matanya yang tidak terlepas dari wajah wanita yang ada di hadapannya tersebut.


"Alhamdulillah, baik."


"Kenapa kabur?"


"Gak pa-pa. Gak mau ganggu aja." jawab Zee.


"Hanya itu?"


"Ya?"


"Gak ada yang lain?"


"Gak."


"Beneran?"


"Iya."


"Iya apa?"


Zee yang malas melanjutkannya hanya diam tanpa menjawab.


Sunyi. Seketika suasana menjadi sunyi. Rasanya sangat canggung. Bertahun-tahun tidak pernah bertemu apalagi bertukar kabar. Rasa rindu seakan-akan membuncah dari perasaan masing-masing.


Hanya bisa menatap lewat mata yang menunjukkan betapa besar rindu itu tersimpan lama.


"Kenapa menghilang?"


"Gak apa-apa."


Sementara di belakang sana, para sahabatnya terlihat geram. Mereka gemas melihat tingkah pasangan tersebut yang malu malu.


Angin malam berhembus menerpa tubuh masing-masing. Seakan-akan mengkode bahwa hari sudah semakin larut. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.


Zee berbalik. Niat hati ingin pulang ke rumahnya. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, tubuhnya mematung. Berusaha mencerna apa yang terjadi. Menormalkan detak jantungnya. Tapi, lagi-lagi ia mengingat kejadian tadi yang membuat hatinya seakan teriris. Ia harus sadar keadaan yang sekarang tak lagi sama. Mungkin saja pria tersebut sudah mendapat wanitanya sendiri.


"Sebentar saja."


Pov author


Melihat Zee yang berbalik seakan mau pulang membuatnya galau.


Zayn yang sudah tidak dapat menahan rasa rindunya yang membuncah langsung memeluk Zee begitu saja. Dapat ia rasakan wanita tersebut memberontak berusaha agar terlepas dari pelukannya.


"Sebentar saja."


Pov author end


Para sahabatnya yang melihat dari kejauhan langsung bersorak ria tanpa mengeluarkan suara. Tidak lupa mereka mengabadikan moment langka tersebut.


"Lepas!" lirih Zee. Ia berusaha menormalkan detak jantungnya yang berirama.


Apalagi posisi mereka yang membuatnya tidak bisa menoleh ke arah kanan ataupun kiri. Ia hanya menundukkan kepalanya.


Tampak Zayn menghembuskan nafasnya panjang yang membuat nafas hangatnya itu menerpa pipi Zee.


Ia lega


Harus siap-siap menerima resiko setelahnya.


"Zayn, lepasin!"


"Sebentar, Zee."


"2 menit."


"5 menit lagi."


"Seben..."


Bughh


"Arghh..." Refleks Zayn memegang perutnya. Alhasil pelukan itu langsung terlepas.


Tampak Zayn meringis. Zee langsung berbalik.


Sebenarnya ia tidak tega melakukan itu. Tapi, ia harus melakukannya.


"Kenapa?" ketus Zee tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Sakit? Salah sendiri!"


"Sakit beneran?" tanya Zee khawatir saat melihat Zayn yang masih mengaduh sedari tadi.


Zayn menganggukkan kepalanya pertanda iya.


"Sebelah mana yang sakit?"


"Di sini." tunjuk Zayn di dadanya.


Bughh


"Aduhhh."


Sekali lagi ia mendapat timpukan. Bedanya sekarang Zee menggunakan tas miliknya. Sedangkan tadi ia memakai sikunya.


"Galak amat jadi cewek." ucap Zayn masih meringis.


"Biarin!"


Zayn terkekeh kecil. Sepertinya rencana tadi yang gagal membawa dirinya menuju keberuntungan.


"Udah larut malam."


"Mau pulang?" Zee hanya mengangguk.


"Mau di anterin?"


"Gak usah. Aku bawa mobil sendiri."


"Hati-hati pulangnya."


"Iya."


"Zee, mau kemana?" teriak Elsa. Itu dia si biang keroknya.


"Pulang."


"Hati-hati, bebeb." ujar Vani.


"Ya."


Perlahan mobil yang dikendarai Zee melesat begitu saja meninggalkan para sahabatnya yang masih berada di sana.


Vani, Elsa, Renzy, dan Tania langsung berjalan mendekati Zayn.


"Gagal deh." gumam Renzy. Padahal ia paling semangat.


"Gara-gara lo sih." tuduh Elsa sambil melayangkan pukulan pelan di lengan Zayn.


"Kok jadi gue sih? Salahin noh." tunjuk Zayn ke arah Tania.


"Jangan salahin aku ya. Salahin serangganya nih. Demen amat nemplok di mata." ujar Tania sambil menggosok matanya.


"Tolongin dong." pintanya.


"Sini!" dengan sigap Vani langsung mengeluarkan serangga yang masih berada di mata Tania.


"Nah, udah." Tania langsung menghela nafas lega.


"Trus sekarang gimana?" ucap Renzy.


"Pulang aja deh." ujar Tania.


...~Happy reading~...


...Makasih udah mampir...


...😘😘😘...