Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 22. Pulang



Paginya di apartemen Zee serasa ramai karena Alif yang bolak-balik keluar kamarnya untuk membereskan barang-barang miliknya. Alif membawa sedikit perlengkapannya karena di rumah tertinggal banyak barang yang tidak ia bawa ketika pergi ke London.


Bahkan pagi ini Alif lebih sibuk dengan urusannnya. Rega, Alif bahkan sekedar menyapanya saja. Tidak ada aktivitas yang biasa ia lakukan kepada Rega setiap paginya.


Rega hanya menatap Alif bingung.


"Papa, kok sibuk banget?" tanya Rega heran.


Alif berhenti sejenak, "Maaf ya, sayang. Papa lagi sibuk. Soalnya Papa mau pulang." jelas Alif.


"Papa mau pulang kemana?"


"Papa mau pulang ke Indonesia. Rega tau? Kalo Rega gak tau nanti suatu saat Rega pasti tau. Intinya Papa ada urusan di sana."


"Bentar ya, sayang. Papa beresin ini dulu. Dikit lagi kok." ucap Alif kemudian melanjutkan aktivitasnya.


Benar saja. Tidak sampai lima menit Alif sudah selesai dengan aktivitasnya. Kini ia tinggal membersihkan diri saja. Selesai membersihkan diri, Alif keluar kamarnya untuk menemui Rega.


"Papa udah mandi?" tanya Rega saat melihat wajah Alif yang terlihat lebih segar dengan rambutnya yang masih basah tetapi sudah ia sisir dengan rapi.


"Kok Rega tau? Rega ngintipin Papa mandi ya?"


"Ndak kok. Keliatan dari muka Papa. Makin ganteng." puji Rega.


"Masa sih? Rega juga ganteng kok. Malahan gantengan Rega dari Papa." kilah Alif.


Pagi ini Zee tidak pergi ke toko nya karena biasa ia akan pergi ke toko kue miliknya hanya di waktu siang. Lora bahkan izin untuk tidak bekerja dari sore kemarin. Mereka akan mengantarkan Alif ke bandara.


"Rega udah siap buat anterin Papa?"


"Anterin kemana, Pa?" tanya Rega bingung.


"Liat aja ya nanti." jawab Alif.


"Udah siap, Lif?" tanya Zee saat baru keluat dari kamarnya selesai membersihkan dirinya dan Lora juga sama.


"Udah, Kak."


"Berangkat sekarang ya. Nih juga udah jam setengah sembilan."


"Iya, Kak." jawab Alif.


Mereka pun langsung memasuki mobil milik Alif karena mobilnya akan ia titipkan kepada sang Kakak. Alif pun langsung memasukkan barang-barang miliknya di bagasi mobil.


Di dalam perjalanan mereka banyak mengobrol sebelum Alif yang akan meninggalkan mereka. Lora? Bahkan Alif seakan-akan tidak menganggap wanita itu berada di antara mereka. Alif lebih banyak menanggapi celotehan yang keluar dari mulut Rega. Dan sesekali ia menjawab pertanyaan sang Kakak.


Tidak lama akhirnya mereka sampai di bandara. Mereka pun menunggu waktu sekitar satu jam sebelum pemberangkatan.


"Sehat-sehat ya di sana, Lif. Kakak nitip salam sama Bunda trus Ayah. Kakak bakal pulang tapi belum sekarang. Soalnya nanti kalo Kakak pulang pasti gak ada yang ngurusin toko kue Kakak. Kalo ngandalin Lala terus, nanti Kakak gak enak." cerita Zee panjang lebar.


"Iya, Kak. Kakak juga sehat di sini. Jaga kesehatan. Aku nitip Rega ya, Kak. Nanti kalo kangen tinggal VC aja."


"Pasti kok."


Kini saatnya Alif berpamitan kepada Rega yang berada di dalam gendongan Lora.


"Rega sayang. Papa pamit ya. Nanti kalo gak ada Papa di sini Rega harus jadi anak yang kuat ya. Gak boleh nangis, gak boleh nyusahin Mama, Mami, Rega harus sehat terus. Rega sayang kan sama Papa?"


"Rega sayang banget sama Papa." jawab Rega.


"Ingat kata-kata Papa ya. Jangan nakal selama Papa gak ada di sini." Alif menarik pelan hidung Rega hingga membuat balita itu tertawa.


Alif melirik ke arah Lora yang sedari tadi menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Aku titip Rega. Kamu jaga kesehatan di sini. Aku usahain nanti pulang ke sini cepat. Nanti kalo kamu gak mau juga aku bakal lama pulangnya." seru Alif dengan nada pelan. Hanya ia dan Lora lah tau. Dan Rega? Balita tersebut pasti tidak akan mengerti obrolan orang dewasa khusus saat ini.


Lora masih dalam diamnya. Melihat Lora diam Alif sudah menandakan bahwa wanita itu cuek cuek saja.


Suara pemberitahuan pemberangkatan telah terdengar di telinga semua orang termasuk Alif. Sebelum ia pergi, Alif terlebih dahulu memeluk sayang Rega yang masih berada di dalam gendongan Lora. Alhasil Lora masuk ke dalam pelukan pria itu.


Alif mengecup seluruh wajah Rega dengan perlahan. Setelah di rasa perpisahan ini baginya cukup, Alif segera meninggalkan tempatnya. Ia sesekali berbalik untuk melambaikan tangannya ke arah Rega.


"Mama, Papa mau kemana?" tanya Rega polos.


"Papa kamu pergi, sayang." Rega yang mendengar kata pergi langsung menangis histeris di dalam pelukan Lora yang berusaha menghiburnya.


"Huwaaaa... Papa ninggalin Rega." tangis Rega begitu pilu saat mendengarnya.


"Cupp cupp cupp. Jangan nangis, sayang. Papa pasti pulang kok. Rega masih ingat kan kata Papa apa? Jadi anak yang kuat kata Papa." ucap Lora masih menenangkan Rega yang masih menangis sesegukan.


"Zee, gimana ini? Rega gak mau diam." sendu Lora. Ia juga harus merelakan kepergian Alif. Apakah semalam ucapannya begitu menyakiti hati pria itu?


"Rega sayang. Sini sama Mami, nak." Zee pun langsung mengambil alih Rega ke dalam gendongannya.


Mereka memutuskan untuk jalan-jalan sebentar supaya mereka bisa mengalihkan perhatian Rega. Banyak macam cara yang mereka lakukan alhamdulillah Rega sudah mulai tenang. Tidak ada air mata yang mengalir di pipinya. Hanya terdengar sisa sesegukan dari Rega. Sampai-sampai balita tersebut tertidur akibat kelelahan menangis. Lora menatap iba ke arah anaknya yang tertidur di atas kasur. Setelah Rega tenang tadi mereka langsung pulang ke apartemen Zee.


Zee masuk ke dalam kamar Lora dan melihat tatapan wanita itu terlihat kosong. Benar dugaannya bahwa Lora menyimpan rasa terhadap sang adik. Tapi, itu hanya dugaannya saja sebagai naluri seorang wanita. Ia juga pernah merasakannya.


"Ra." panggil Zee tetapi wanita itu seakan tidak sadar bahwa Zee berada di dalam kamar miliknya.


Satu kali


Dua kali


Ketiga kalinya di tambah Zee yang menepuk pelan bahu Lora baru wanita itu tersadar.


"Kenapa, Zee?"


"Jangan ngelamun." peringat Zee.


"Nggak kok." kilahnya.


"Aku tau kok. Aku dukung keputusan kamu gimana terbaiknya."


"T-tau apa?" tanya Lora gelagapan.


"Gak perlu aku kasih tau pasti kamu udah ngerti kan."


"Aku masak buat makan siang dulu, ya. Nanti jangan lupa ke meja makan." lanjutnya sambil melangkahkan kaki keluar kamar Lora.