Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 9. Terjebak



Setelah beberapa waktu mereka menguras otak dan tenaga akhirnya tugas mereka selesai berkat otak pintar yang di miliki mereka terutama Zee dan Zayn. Sudah tidak di ragukan lagi.


"Pegel banget uhhh! Pinggang gue rasanya mau encok karna kelamaan duduk." keluh Indah dengan kedua tangan yang ia rentangkan ke atas.


"Hooh. Tapi, alhamdulilah bisa selesai satu hari. Gue kira ini ampe berhari-hari baru selesai. Soalnya banyak gini." kira Andre.


"Ehhh udah jam segini. Pulang yuk?" ajak Andre.


"Iya juga ya. Gak kerasa banget udah sore gini." balas Indah.


Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Terlebih dahulu mereka membereskan peralatan yang berserakan di lantai.


"Udah mau pulang?" tanya Mama Anggi yang baru datang dengan raut wajah yang terlihat segar sehabis mandi.


"Huummm. Iya, Tan. Udah sore." balas Indah.


"Makan dulu yuk sebelum kalian pulang. Kapan lagi coba nyobain masakan di rumah Tante." ucap Mama Anggi.


"Kalian juga pasti lapar kan?" lanjutnya. Mereka pun menganggukkan kepalanya. Memang sedari tadi perut mereka yang terus berbunyi keroncongan.


Dan di sinilah mereka semua berkumpul. Di ruang makan dengan aneka makanan tersaji di atas meja. Masakan semuanya sangat sederhana, ada tumis kangkung, sambal goreng tempe, dan sup ayam.


"Gimana? Enak gak?" tanya Mama Rania saat melihat mereka yang baru saja memakan suapan pertamanya.


"Enak, Tan. Enak banget malah." puji Andre yang lahap memakan makanannya.


"Ini Tante yang masak?" tanya Indah.


"Bukan." jawab Mama Anggi seraya tersenyum.


"Ini mahh masakan calon mantu." ucap serentak Vani, Elsa, dan Renzy. Sontak saja Zee tersedak saat mendengar penuturan dari para sahabatnya. 'Apa-apaan mereka. Batin Zee sambil mengeluh saat merasa tenggorokannya sedikit perih.


Beruntung Vani yang dengan cepat memberikan Zee segelas air putih untuk meredakan tenggorokannya.


"Gak pa-pa, Zee?" tanya Vani yang bersebelahan dengannya dan Elsa yang bersebelahan dengan Vani. Jadi posisi mereka bertiga saat ini adalah Vani yang berada di tengah-tengah, Elsa di sebelah kiri dan Zee di sebelah kanan.


"Udah mendingan?" tanya Mama Anggi.


"Iya, Tan." jawab Zee dengan nafasnya yang tersengal-sengal.


"Lain kali hati-hati ya." peringat Mama Anggi dengan nada yang terkesan khawatir. Zee hanya menanggapinya dengan anggukan kepala.


"Calon mantu siapa?" celetuk Indah yang masih belum memahaminya.


"Iya, calon mantu." jawab Renzy.


"Lo mau jadi calon mantu emak gue?" lanjutnya.


Indah menaikkan kedua alisnya, "Idihhhh ogah." balas Indah jengah.


"Lho kenapa? Emak gue gak galak kok. Yang pastinya sayang ama mantu." canda Renzy.


"Tuhh tanya Tante. Iya kan, Tan?" Mama Anggi hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan tetangga samping rumahnya itu.


"Tuhhh kan. Tante aja bilang iya." seru Renzy dengan pede nya.


"Di gituin malah ngelunjak." cibir Indah.


"Trus yang masak ini semua siapa, Tan?" tanya Andre.


"Tuhhh." Mama Anggi menunjuk ke arah Zee.


Byurrrr


Kali ini Zayn lah yang menyemburkan air yang ia minum. Dengan cepat Zayn memasang wajah datar nya.


'Gak enak kah? Batin Zee.


"Kenapa, Zayn?" tanya Mama Anggi pada anaknya.


"Gak pa-pa kok, Ma." jawab Zayn.


"Trus kenapa nyembur gitu?"


"E-enggak kok, Ma. Tadi Zayn cuma keselek aja." ucap Zayn yang memberikan alasan yang tabu. Mama Anggi hanya menganggukkan kepalanya percaya dengan perkataan sang anak.


...***...


"Kami pulang dulu ya, Tan. Makasih atas jamuan makanannya hehe. Enak banget, lain kali boleh ya, Tan?" canda Andre.


"Boleh kok. Pintu rumah Tante terbuka untuk kalian kapan aja." ucap Mama Anggi.


"Pamit dulu, Tan. Assalamu'aikum."


Mereka pun pamit menyalami Mama Anggi.


"Wa'alaikumsalam." jawab Zayn dan Mama Anggi yang menyaksikan kepergian mereka. Mama Anggi pun mengajak Zayn masuk ke dalam rumah setelah memastikan kendaraan yang mereka bawa sudah hilang dari pandangannya.


"Lho, Zayn ini HP punya siapa?" tanya Mama Anggi yang melihat sebuah ponsel yang tergeletak di atas meja ruang tamu.


"Gak tau, Ma." jawab Zayn yang memang tidak mengetahui ponsel itu milik siapa.


"Coba buka deh, Ma. Siapa tau nggak di kunci." lanjut Zayn.


"Mama coba ya." Mama Anggi pun membuka ponsel itu yang ternyata tidak di kunci.


"Zee?" gumam Mama Anggi saat melihat wallpaper ponsel tersebut yang memperlihatkan foto Zee dan sang adik dengan Zee yang merangkul bahu Alif.


"Punya siapa, Ma?" tanya Zayn.


"Nihhh kamu liat sendiri. Bener gak itu punya Zee?" Mama Anggi menyodorkan ponsel pada Zayn.


Dengan sigap Zayn mengambil ponsel tersebut dan mengecek nya, "Iya, Ma. Ini punya Zee." ucap Zayn dengan pandangan yang masih tertuju pada wallpaper ponsel Zee.


"Gimana, Ma?"


"Nanti kamu balikin lah. Siapa tau Zee ada keperluan dengan HPnya." jelas Mama Anggi.


Dengan cepat Zee menuruni anak tangga untuk mencapai lantai bawah.


"Mau kemana, Kak?" tanya Alif Yang duduk di ruang tengah dengan buku yang berada di tangannya. Zee tidak tau itu buku apa, entah komik atau apalah itu.


"HP Kakak ketinggalan di rumah temen Kakak." jawab Zee.


"Nanti kalau Bunda nanya kamu bilang ya kalo Kakak pergi sebentar ke rumah temen Kakak buat ambil HP." lanjut Zee.


"Iya, Kak. Hati-hati. Jangan lama, nih sudah mau malam. Udah mendung juga takutnya kehujanan di jalan." cerocos Alif.


"Iya, iya Adek Kakak yang paling ganteng. Kakak pergi dulu ya. Assalamua'alaikum." ucap Zee dengan berlari cepat keluar.


Alif hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kakak sulungnya itu, "Wa'alaikumsalam." ucap Alif yang tentu saja tidak terdengar oleh Zee.


Tujuan Zee yang pertama adalah ke rumah Vani atau Elsa. Zee melihat Mamanya Vani yang berada di teras dengan Mamanya Elsa yang tengah menggosip ria di sore hari.


"Tante, Vani sama Elsa nya ada gak?" tanya Zee.


"Lho, bukannya mereka pergi ke toko buku." Zee langsung menepuk dahi nya. Ia lupa bahwa tadi sahabatnya itu sempat pamit kepadanya. Mereka sempat mengajak Zee, tapi Zee sudah menolak alasannya capek.


"Hehe lupa, Tan. Yaudah kalo gitu Zee pamit ya."


Zee langsung berlari menuju ke rumahnya lagi untuk mengambil motornya yang ia simpan di halaman rumahnya.


'Uudah mau hujan. Sempet gak ya? Batin Zee.


Zee langsung melajukam motornya dengan kecepatan sedang. Beruntung jarak rumahnya menuju rumah Zayn itu tidak terlalu jauh. Hanya memakan waktu sekitar 10 menit Zee sudah sampai di kediaman Zayn.


Langsung saja Zee memasukkan motornya ke halaman rumah Zayn yang cukup luas.


"Assalamu'alaikum." ucap Zee yang masih berada di luar.


Sementara langit sudah mulai menurunkan butir-butir air hujan yang jatuh ke tanah. Memang tidak terlalu deras, tapi kalau di perjalanan itu akan membuat semua tubuh basah terkena hujan.


Tidak lama Zee menunggu di luar sudah terdengar suara seorang laki-laki yang membalas salamnya dari dalam. Jantung Zee serasa jedag jedug membayangkan mereka berinteraksi berdua tanpa adanya Mama Anggi. Zee berdoa semoga Mama Anggi juga menyadari kedatangannya.


Sebelum Zayn membukakan pintu rumahnya, sudah terdengar suara sang Mama yang menanyakan siapa orang tersebut.


"Mungkin Zee mau ngambil HP nya?" ucap Mama Anggi.


"Cepet bukain pintu, Zayn. Di luar udah mulai hujan." titah Mama Anggi.


Zee pun menuruti permintaan sang Mama untuk membukakan pintu.


"Silahkan masuk." Zee pun mengangguk kaku sambil mengikuti langkah Zayn.


"Ehh, Zee. Udah lama sampainya? Maaf ya bukain pintunya lama. Soalnya hujan jadi gak kedengaran." jelas Mama Anggi.


"Iya, gak pa-pa kok, Tan. Zee cuma mau ngambil HP yang ketinggalan tadi hehe." balas Zee dengan cengiran khas nya.


"Nihhh." Zayn memberikan ponsel Zee. Dengan kaku Zee menerima ponsel miliknya dari tangan Zayn.


"Makasih." ucap Zee yang di balas anggukan oleh Zayn.


Tanpa di prediksi di luar sana hujan malah semakin melebat. Zee duduk dengan gusar merasa kurang nyaman dengan kondisinya yang sekarang. Apalagi Mama Anggi yang berada di dalam kamar untuk mengurus sesuatu. Jadi hanya mereka berdua saja. Canggung? Tentu saja. Udara dingin yang menyeruak masuk serasa sampai ke tulang-tulang membuat Zee mengeratkan kedua tangan yang ia genggam.


Drttt


Suara panggilan telfon yang berasal dari ponsel Zee yang ia letakkan di atas meja ruang tamu. Segera panggilan tersebut.


πŸ“žπŸ“²"Waalaikumsalam." jawab Zee membalas salam.


πŸ“žπŸ“²"Kamu dimana, Zee?" ucap sang Bunda.


πŸ“žπŸ“²"Ini, Bund. Zee lagi di rumah temen. Tadi HP Zee ketinggalan jadinya Zee ambil deh. Ehhh tiba-tiba hujan." cerita Zee.


πŸ“žπŸ“²"Tapi kamu gak kehujanan kan?"


πŸ“žπŸ“²"Enggak kok, Bund. Untung tadi sebelum hujan turun Zee udah nyampe."


πŸ“žπŸ“²"Yaudah kalau gitu. Kamu hati-hati ya, Zee. Nanti pulangnya biar nunggu hujan berhenti aja." nasehat Bunda Weni.


πŸ“žπŸ“²"Iya, Bunda."


πŸ“žπŸ“²"Bunda Tutup telfonnya ya? Assalamu'alaikum."


πŸ“žπŸ“²"Iya, Bund. Wa'alaikumsalam."


Tuttt


Zee langsung mematikan sambungannya dan meletakkan kembali ponsel miliknya ke atas meja.


Zee langsung mengangkat kepalanya ke depan. Degggg. Tidak sengaja pandangan mereka bertemu. Secepat mungkin Zee mengalihkan pandangan nya dari bola mata berwarna hitam pekat itu.


Zee tidak tau. Apakah hanya ia yang merasakannya? Memang sakit. Tapi Zee tidak mau berharap lebih. Lebih baik ia segera melupakan seseorang yang telah mengisi hatinya selama ini. Tapi ia butuh waktu. Tidak cukup baginya waktu sehari dua hari. Bahkan satu tahun pun rasanya mustahil. Itu sudah terbukti adanya.


Langsung saja Zayn berdehem untuk mencairkan suasana mereka. Memang Zayn ini typical orang yang bodo amat. Itulah pandangan dari Zee.


"Mau pulang?" tanya Zayn memecahkan keheningan mereka.


"Mending jangan dulu. Tunggu hujannya berhenti aja." lanjutnya. Zee hanya menganggukkan kepalanya kaku. Bagaimana rasanya ketika berinteraksi dengan orang yang selama ini kita kagumi dalam diam dan orang itu juga tau tapi dia juga ikut diam. Yahh, rasanya akan sangat canggung bercampur malu saat orang tersebut mengetahuinya dari mulut orang lain lebih tepatnya sahabat di depan mata kepala kita sendiri. Bahkan untuk mengelak rasanya itu akan percuma saja.


Zayn bangkit dari duduknya dan meninggalkan Zee sendirian di ruang tamu yang sepi itu. Hanya terdengar suara hujan deras yang menerpa atap-atap rumah yang membuat suara itu menjadi sangat jelas.


Zee menghela nafasnya panjang saat merasa dirinya di tinggalkan seorang diri. Rupanya tebakan Zee salah. Buktinya Zayn kembali dengan membawa selimut dan di belakangnya di ikuti oleh Mama Anggi yang membawa segelas minuman hangat, entah itu teh atau coklat panas, Zee tidak bisa menebak itu apa.


Zayn kembali duduk dan menyodorkan selimut tebal yang ia pegang. Zee yang mengerti itu langsung mengambil selimut dari tangan Zayn tapi tidak ia pakai melainkan hanya menaruhnya di samping ia duduk.


"Di minum ya, Zee. Supaya hangat badannya." ucap Mama Anggi yang duduk di sampingnya sambil memberikan segelas teh hangat.


Dengan ragu Zee mangambilnya dan menyeruputnya seidikit. Tidak terlalu panas. Sangat pas di lidah. Pikir Zee.


Tidak lama samar-samar terdengar suara adzan magrib yang berkumandang di masjid yang bersahutan dengan suara hujan lebat.