Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 14. Stok obat pelepas lem



Pagi harinya seperti biasa Zee selalu di bangunkan oleh sang Bunda dari tidurnya. Dan sekarang mereka berada di meja makan sedang menyantap sarapan. Tatapan intens yang Zee tunjukkan kepada sang adik membuat Alif sedikit merinding di buatnya.


"A-Alif udah selesai sarapannya. Alif tunggu di depan ya, Yah, Bund." ucap Alif saat menyelesaikan sarapannya dengan cepat.


"Iya. Sebentar lagi Ayah selesai sarapannya." balas Ayah Zaki.


Secepat mungkin Alif meninggalkan ruang makan dimana keluarga nya sedang menyantap sarapan pagi.


Setelah sarapan Zee, Alif, dan Ayah Zaki pun berangkat menuju tempat tujuannya dengan Zee dan Alif di antarkan oleh sang Ayah.


Saat telah sampai di sekolah, Zee kemudian menuju kelasnya. Saat baru memasuki kelas, Zee sudah di suguhkan oleh pemandangan yang membuat mood-nya hancur berantakan.


"Minggir!" ucap Zee berdiri di samping mejanya.


Tania hanya menatapnya sebentar kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke arah Zayn yang duduk di tempatnya.


Zee yang di abaikan seperti itu semakin geram di buatnya, "Tau arti minggir gak sih?" geram Zee dengan nada pelan.


"Lo gak liat gue lagi duduk di sini. Noh duduk aja di kursi yang kosong." balas Tania.


Dada Zee rasanya naik turun dengan nafas yang tidak beraturan, "Ini tempat duduk gue. Yang harusnya pindah itu lo. Seenaknya aja ngatur-ngatur. Lha emang lo tuh siapa? Bukan kelas ini juga. Mending lo balik aja sonoh ke kelas lo!" ucap Zee.


"Yaelah bentaran doang. Duduk aja dulu di tempat lain. Masih banyak juga yang kosong noh di belakang."


"Lo!" geram Zee.


"Apa?" Zee menghembuskan nafasnya berat. Sepertinya ia harus bersaing dengan manusia yang satu ini.


"Ehhhh..." sentak Zee kaget saat dirinya yang di tarik oleh Vani sehingga ia duduk di sebelah Vani saat Vani menyuruh teman sebangkunya untuk pindah ke kursi lain sementara.


"Ngapain sih? Kaget tau." seru Zee kesal.


"Hehehe... Sorry, kagak sengaje." kilah Vani sambil menyengir.


"Sabar, beb. Sepertinya lo harus berusaha untuk nyingkirin itu orang."


Hufttf


"Kagak tau gue. Perasaan dia ada dimana-mana. Gak di halte, gak di sekolah. Untung gak sampingan sama rumah gue."


"Di halte?" tanya Vani bingung.


"Iya. Ntar deh pas istirahat gue ceritain." Vani hanya mengangguk-angguk. Sebenarnya ia juga penasaran. Tapi Vani tidak mau memaksa Zee untuk menceritakannya sekarang juga.


Bel masuk berbunyi yang membuat Zee sadar.


Zee melirik ke arah tempat duduknya dimana Tania masih betah duduk di sana sambil mengobrol dengan Zayn.


"Renzy." panggil Elsa.


"Kenapa?" tanya Renzy yang duduk di barisan kedua di samping Vani.


"Ada gak ya obat buat ngelepasin lem?" ucap Elsa sambil mengkode Renzy agar mau mengikuti rencananya.


Renzy yang di beri kode seperti itu paham, "Ada kok. Emangnya kenapa? Lo mau beli?" ucap Renzy.


"Boleh deh. Sekalian stok ya. Biar lemnya lepas trus bisa MINGGIR." sindir Elsa dengan menekankan kalimat terakhirnya.


Tania yang masih duduk di bangku Zee tepatnya di belakang Elsa pun merasa tersindir. Ia tau bahwa sahabat Zee sedang menyindirnya agar keluar dari kelas.


"Ehh, Zayn. Aku pamit dulu ya. Nanti istirahat bareng ya." pamit Tania sambil berdiri dari bangku Zee.


"Hmmm." Zayn hanya menanggapinya dengan deheman.


Setelah memastikan Tania sudah keluar, Zee segera pindah ke bangkunya.


"Emmm, Zayn. Baju lo besok aja ya gue balikinnya. Soalnya belum kering." seru Zee seraya berbalik menatap Zayn di belakangnya.


"Iya. Gak pa-pa. Santai aja." balas Zayn.


...***...


"Jadi, ceritanya lo cemburu nih?" goda Vani. Setelah bel istirahat berbunyi mereka langsung menuju taman sekolah. Tidak lupa Zee juga menceritakan secara detail tentang kejadian kemarin yang di alaminya.


"Nggak lah." jawab Zee dengan wajahnya yang bersemu merah.


"Ngaku aja gak pa-pa kok. Ya kan? Hayoo lho. Sama kita-kita doang nih." ucap Elsa. Zee tidak menanggapi perkataan para sahabatnya karena dirinya yang sudah dilanda rasa malu.


Zee langsung bangkit dari duduknya meninggalkan Vani dan Elsa yang masih duduk di kursi. Reflek Vani dan Elsa langsung mengikuti arah Zee yang menuju ke kantin.


Di kantin, Zee juga di suguhkan oleh pemandangan yang membuatnya semakin kesal. Dimana pemandangan tersebut yang memperlihatkan Zayn yang sedang menyantap makanannya. Bukan perihal itu yang membuat Zee kesal. Tapi, Tania yang selalu ada dimana Zayn berada. Beruntung Renzy yang selalu ada di sisi Zayn.


Zee dan para sahabatnya tidak menghiraukan itu. Mereka langsung memilih meja yang berjauhan dengan meja Zayn dan langsung memesan makanan.