Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 50. Sadar



Malamnya kedua orang tua Zayn menjenguk Zee. Mereka ikut prihatin melihat Zee yang masih belum sadarkan diri. Sekaligus bahagia saat mendengar cerita dari Bunda Weni mengenai obrolannya dengan Zayn tadi.


Para orang tua tidak banyak bertanya. Biarlah itu urusan orang muda.


"Jeng, ini anak kamu belum bangun juga?" tanya Mama Anggi melihat Zee yang masih terpejam.


Bunda Weni hanya menghela nafasnya, "Belum, jeng." jawab Bunda Weni.


"Yang sabar ya. Anak kamu pasti sadar." Mama Anggi mengelus bahu Bunda Weni berusaha menguatkan calon besannya.


"Iya."


"Zayn, kamu gak pulang?"


"Nanti aja Tante." jawabnya.


"Pulanglah! Di sini masih ada Om sama Tante yang jagain."


"Tapi, Tan-"


"Kamu pulang aja dulu, sayang. Mandi, makan atau ngapain. Nanti baru ke sini lagi." saran Mama Anggi.


Zayn pun pasrah akhirnya pulang ke kediamannya.


Sepeninggalan Zayn, para orang tua kembali membahas hal yang menurut mereka penting dan seru.


"Kamu sebaiknya juga pulang, jeng. Maaf, bukan maksudnya mengusir." ucap Bunda Weni.


"Iya, gak apa-apa kok. Ya udah kalau gitu aku pulang dulu ya, jeng."


"Iya, jeng. Hati-hati."


Mama Anggi pun keluar dari ruangan Zee dan memanggil Papa Hendra yang sedang mengobrol bersama Ayah Zaki di luar ruangan.


Melihat keberadaan sang istri, Papa Hendra langsung pamit pulang ke Ayah Zaki.


Sesuai janjinya tadi, kini Zayn sudah berada di dalam ruangan Zee. Selepas kedatangan Zayn, Bunda Weni dan Ayah Zaki pamit pulang. Besok pagi mereka akan datang kembali. Mereka menitipkan Zee pada Zayn untuk menjaga anak sulungnya itu.


Di dalam ruangan tersebut hanya ada mereka berdua. Zayn duduk di sofa tidak jauh dari ranjang pasien sambil memainkan ponselnya untuk mengecek pekerjaan yang sudah ia suruh sekretarisnya mengirimkannya di email.


Hari sudah semakin larut. Tapi, Zayn masih betah menatap layar ponselnya itu.


Saat dirasa cukup Zayn mematikan ponselnya dan menyimpannya di atas meja. Sesaat Zayn meregangkan otot-ototnya yang kaku karena kelamaan duduk.


Zayn bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Zee yang masih belum sadar. Tadi saat ia baru tiba bertepatan Dokter yang menangani Zee baru saja keluar. Rupanya Dokter tersebut memeriksa keadaan Zee. Dia mengatakan tidak akan lama lagi Zee sadar.


Terbukti sekarang, jari jemari tangan Zee bergerak saat Zayn terus memandanginya.


Perlahan mata lentik itu terbuka.


"Eughhhh..." terdengar rintihan Zee saat ia menggerakkan badannya.


Dengan sigap Zayn memanggil Dokter melalui intercom.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Zayn khawatir.


Sang Dokter yang mengenali Zayn hanya tersenyum, "Keadaannya sudah lebih baik. Tinggal waktu pemulihan lukanya saja."


"Huftt! Syukurlah kalau begitu. Makasih ya, Dok."


"Sama-sama. Kalau begitu saya pamit dulu." Zayn menganggukkan kepalanya.


Zayn kembali mendudukkan dirinya di sisi ranjang dan menatap dalam wanita yang sudah sadar itu.


Ditatap seperti itu membuat Zee salah tingkah.


"K-kenapa?" tanya Zee dengan suara tercekat.


Rasanya tenggorokan Zee kering. Ia berusaha meraih gelas yang ada di atas nakas. Refleks Zayn mengambil gelas berisi air putih itu dan memberikannya.


Zayn juga membantu Zee untuk setengah duduk.


"Udah?" Zee hanya menganggukkan kepalanya.


"Om sama Tante pulang." tebak Zayn yang sudah tau melihat gelagat Zee.


"Kapan?"


"Tadi."


"Owh."


Zee menatap langit-langit ruangannya dimana sekarang ia terbaring lemah.


"Zee."


"Hmm?" Zee mengalihkan pandangannya ke arah Zayn. Sejenak mata mereka beradu kemudian Zee memutuskan kontak matanya.


"Nanti kamu sembuh kita nikah ya?" ucap Zayn gamblang.


"Haa???" Zee terbengong memandangnya.


"Kenapa? Ada yang salah?"


"Bilang apa barusan?"


"Nikah." jawab Zayn.


"Siapa yang mau nikah." ucap Zee mode lemot.


"Kita. Emang siapa lagi?"


"Kita? Aku gak mau!" tolak Zee hingga membuat raut wajah Zayn lesu.


"Kenapa gak mau?" tanya Zayn memberanikan diri.


"Mau ngelamar atau mau beli somay?" balas Zee kesal.


"Gak mau beli somay. Gak ngelamar."


"Terus???" selidik Zee.


"Ngajak." jawabnya singkat.


"Sama aja."


"Kenapa bisa kejadian kayak gini?" tanya Zayn yang sebenarnya sudah tau kronologi kejadiannya.


Zee menceritakannya dengan kalimat yang singkat.


Zayn menarik kursinya lebih dekat dengan Zee kemudian ia membawa tangan Zee dalam genggamannya.


"Lain kali hati-hati. Jangan berbuat nekat." Zayn menatap dalam.


"Jantungku hampir copot. Aku gak bisa berbuat apa-apa selain mendo'akan."


"Zee...izinkan aku untuk menjagamu dengan segenap ragaku." Zee hanya mendengarkan perkataan Zayn sampai pria tersebut menghentikan kalimatnya.


"Aku minta maaf karena dulu sudah menyia-nyiakan wanita sebaik kamu. Sekarang waktunya aku menebus kesalahanku yang dulu."


"Kamu gak salah, Zayn." hanya kalimat itu yang terlontar dari mulut Zee. Ingin berbicara tapi takut.


...~Happy reading~...