Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 20



"Papa." teriak Rega saat melihat Alif dan Lora baru saja memasuki toko kue milik Zes. Kebetulan Zee dan Rega yang saat itu sedang duduk di sofa dekat kasir.


Rega menggeliat di kursi berusaha untuk turun dari sana. Zee yang mengerti itu langsung menurunkn Rega dengan hati-hati.


"Papa." teriak Rega sekali lagi sambil berlari kecil.


Alif langsung menyambut Rega ke dalam pelukannya, "Kenapa kok teriak-teriak manggil Papa sih. Ada apa hmm?" tanya Alif sambil menciumi pipi gembul Rega.


"Papa ndak ninggalin Lega kan?" tanya Rega dengan polosnya.


"Kapan Papa bilang kalo Papa mau ninggalin Rega?" balita tersebut menggelengkan kepalanya.


"Papa kan sayang banget sama Rega. Jadi, mana mungkin Papa ninggalin Rega." balas Alif.


"Rega gak sayang Mama?" seru Lora dengan nada sedih di buat-buatnya.


"Lega cayang Mama kok." ucapnya tanpa menatap sang Mama. Tatapannya hanya tertuju kepada paras tampan Alif.


"Rega beneran gak sayang Mama." Lora langsung pergi meninggalkan Rega yang masih berada di dalam gendongan Alif.


Lora pun menuju ke arah Zee dan ikut duduk di samping wanita itu.


"Kamu kok bisa di sini, Ra?" tanya Zee.


"Bisa lah. Tadi nebeng sama Alif." jelasnya.


"Ooo gitu. Yaudah yuk ngobrol di ruangan aja." ajak Zee.


Mereka berdua pun menuju ruangan Zee yang berdekatan dengan tempat mereka duduk tadi.


Sementara di luar sana


"Pa." seru Rega.


"Kenapa, sayang?" tanya Alif sambil menatap hangat ke arah balita yang berada di gendongannya saat ini.


"Mama ngambek ya sama Lega?" tanya Rega.


Alif mengangkat kedua bahunya, "Papa gak tau. Tapi, mungkin aja Mama ngambek sama Rega." ucap Alif menakut-nakuti Rega.


"Tapi tadi Mama gak cium Lega." balasnya.


"Kan salah Rega juga. Ngapain tadi langsung peluk Papa? Harusnya kan Rega tuh meluk Mama. Jadinya Mama ngambek kan gara-gara Rega cuekin." entah mukjizat atau apa, Rega seakan-akan mengerti dengan ucapan orang dewasa. Padahal umurnya baru berusia tiga tahun. Jadi, tidak sulit untuk mengajak Rega berkomunikasi.


Mata Rega langsung berkaca-kaca saat mendengar tuturan dari Alif.


"Lho, kenapa nangis? Papa minta maaf ya. Rega gak salah kok. Ini semua salah Papa." ucap Alif menenangkan Rega agar balita tersebut tidak terlalu memikirkan ucapannya barusan.


"Papa ndak calah. Ini cemua calah Lega. Lega udah cuekin Mama. Lega lebih milih cama Papa." balas Rega dengan air mata yang mulai membanjiri pipinya.


"Jadi, sekarang Rega harus apa?"


"Minta maaf cama Mama telus bujukin Mama cupaya ndak ambek lagi." Alif pun tersenyum hangat menatap Rega. Tidak sia-sia ia mendidik Rega selama ini. Walaupun ia sadar bahwa dirinya bukan Ayah kandung Rega. Tapi, kasih sayang yang ia berikan kepada Rega sangat tulus. Bahkan Alif sudah menganggap Rega sebagai anaknya sendiri.


"Pinter anak Papa." Alif mengelus pelan kepala Rega.


"Yaudah, yuk. Kita susul Mama." Alif menurunkan pelan Rega dari dalam gendongannya. Mereka berdua pun berjalan menuju ruangan Zee dengan Alif menggandeng tangan Rega.


Sebelum mereka pergi ke ruangan Zee, terlebih dahulu Alif mengganti pakaian Rega yang sudah kotor dan menggantinya dengan pakaian yang ia bawa.


Saat mereka masuk ke dalam, sudah terlihat Zee dan Lora yang tengah bercerita entah apa yang mereka biarakan.


"Mama... Huwaaaa..." tangis Rega pecah.


"Kenapa?" tanya Lora cuek. Ia akan berpura-pura untuk marah. Lora mau melihat bagaimana cara Rega untuk meluluhkan hatinya. Susah payah ia untuk tidak menahan senyumnya agar tidak terbit.


Rega mendongkakkan kepalanya melihat Alif. Alif menganggukkan kepalanya melihat Rega yang menatapnya.


Rega yang mendapat anggukan dari Alif pun langsung melangkahkan kaki nya lebar menuju Lora. Langkah yang ia yakini sudah selebar mungkin tapi nyatanya hanya setengah langkah orang dewasa.


Saat telah sampai di samping sang Mama, Rega langsung menggoyangkan kaki Lora sambil sesekali menarik ujung baju Lora.


"Mama." panggil Rega sekali lagi. Tetapi Lora tetap dengan pendiriannya untuk melihat aksi anaknya itu.


"Mama. Maafin Lega, Ma. Lega udah cuekin Mama. Lega minta maaf, Ma. Lega cayang sama Mama. Cayang banget." ucap Rega dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.


"Mama mau kan maafin Lega?" tanya Rega sambil menatap Lora dengan memohon.


"Ada syaratnya." balas Lora dengan menunjukkan pipinya.


Lora pun menundukkan kepalanya menyamakan tingginya dengan Rega. Rega langsung mengecupi seluruh wajah Lora tanpa terkecuali.


"Mama udah ndak malah lagi cama Lega?" tanyanya polos saat melihat tawa Lora yang pecah begitu saja.


"Mana bisa Mama marah sama kamu, sayang. Hahahaa... Lucu banget, Zee. Aduhhhh... Hahaha..." balas Lora tertawa sedari tadi.


"Kamu belajar sama siapa, sayang? Kalimatnya nyentuh banget." tanya Zee yang terpukau melihat cara Rega yang membujuk sang Mama. Zee pun tidak habis pikir. Kenapa balita yang satu ini terlihat dewasa sekali. Bagaimana nanti kalau sudah besar. Mau jadi apa. Pikir Zee.


"Lega gak belajal cama ciapa ciapa kok. Cuma Papa yang ngajalin Lega buat bujuk Mama cupaya Mama ndak ambek lagi cama Lega." balas Rega sambil menatap Alif yang duduk di samping Zee.


"Tuhhh, kan. Biang keroknya." tatapan sengit yang Zee tunjukkan kepada sang adik.


"Aku gak ngajarin Rega yang aneh-aneh ya, Kak." kilahnya.


"Heleh, alasan." cibir Zee.


Mereka pun menghabiskan waktu bersama dengan Rega yang selalu membuat mereka tertawa saat melihat ada saja tingkah yang dilakukan oleh Rega.


"Pulang, yuk!" ajak Zee tiba-tiba.


"Rega juga udah kecapean banget kayaknya." ucap Zee meneliti Rega yang bermain tidak seaktif tadi.


"Rega, pulang yuk."


"Yeyyy, pulang." seru Rega semangat.


"Rega mau gak Papa gendong sampe mobil?" tawar Alif.


"Lega mau, Papa." jawab Rega yang langsung menaiki punggung belakang Alif.


"Hati-hati, Lif." peringat Zee.


"Iya, Kak."