
Begitu sampai di rumah sakit, Zee dan kedua sahabatnya langsung menuju ruangan dimana sang Bunda tengah di rawat.
"Assalamu'alaikum." seru mereka kompak.
Mereka tidak menyadari bahwa di ruangan tersebut bukan hanya ada Ayah Zaki dan sang Bunda. Tapi, ternyata ada tamu yang berkunjung untuk menjenguk Bundanya.
"Wa'alaikumsalam."
Mereka bertiga berjalan mendekati Bunda Weni dan para tamu untuk sekedar menyapanya.
Satu per satu dari mereka menyalami Bunda Weni dan tamu tersebut.
Sedari tadi sepasang mata terus melirik pergerakan Zee. Tapi, wanita dua puluh tiga tahun itu tidak menyadarinya.
"Kalian kok bisa barengan gitu?" seru Bunda Weni.
"Tadi ketemu di depan rumah."
Zee menjawab pertanyaan snag Bunda.
"Oohh, gitu. Ehhh... Iya. Kenalin ini temen Bunda."
Bunda Weni memperkenalkannya.
"Hallo, Tante. Ketemu lagi ya, hehe. Udah lama gak ketemu sama Tante. Wajahnya makin awet aja." puji Elsa.
"Masa sih. Perasaan Tante aja udah punya uban." gelaknya.
"Beneran ihh, Tan. Gak percaya sih." celetuk Elsa.
"Ohh, iya, Tante. Zayn nya ada?"
Ternyata yang menjadi tamu tersebut adalah Mama Anggi.
"Zayn ada kok. Sekarang dia lagi di kantor." balas Mama Anggi.
"Sibuk banget kayaknya." seru Vani.
"Biasalah anak muda. Kerjaannya kerja, kerja, kerja mulu. Gak niatan mau cari calon istri."
Detik itu juga Zee tersedak ludahnya sendiri. Entah apa penyebabnya. Padahal ia memilih untuk diam.
Tersedak air ludah sendiri rasanya nikmat sekali epribadeh...
"Kamu gak apa-apa, Nak?" tanya Bunda Weni khawatir.
Terlihat Zee menggelengkan kepalanya pertanda dirinya baik-baik saja.
"Ini anak kamu, jeng?" tanya Mama Anggi sambil menunjuk Zee yang tengah duduk di sisi ranjang.
"Iya, jeng. Ini anakku yang pertama."
"Oalah... Baru tau aku, jeng. Bukannya waktu itu lagi di luar negeri ya, jeng?"
"Udah pulang kemarin siang." Mama Anggi hanya mengangguk mengerti.
"Kenapa? Kamu kenal sama anakku, jeng?" tanya Bunda Weni memastikan.
"Kenal lah. Mereka temen anak semata wayangku. Dulu mereka sering ke rumah buat ngerjain tugas sekolahnya. Anak kamu juga sering bantuin aku masak. Masakannya enak banget persis seperti masakan kamu. Nggak ada duanya." puji Mama Anggi yang membuat Zee tersenyum simpul.
"Alhamdulillah kalau sudah kenal."
Di tengah-tengah obrolan mereka tiba-tiba Zee yang mendapat pesan dari teman Alif yang di utus Alif untuk membantu sang Kakak mempersiapkan perpindahan toko kuenya.
"Bunda, Zee pamit ya?" seru Zee.
"Kamu mau kemana, Nak?" tanya Bunda Weni.
"Zee ada urusan di luar sebentar. Gak apa-apa kan Zee tinggal?"
"Kalau gitu Zee pamit dulu ya, Bund, Tante." Zee pamit menyalami tangan Bundanya dan Mama Anggi.
"Iya, Nak. Hati-hati." balas Mama Anggi.
"Vani sama Elsa juga pamit ya, Tante. Soalnya mau kerja." sahut Vani dan Elsa berpamitan.
...***...
"Lo mau kemana, Zee?" tanya Elsa saat mereka melewati koridor rumah sakit menuju parkiran.
"Biasa. Ada urusan dikit. Ya udah yuk! Gue anter kalian dulu." Mereka mengangguk menyetujui karena saat mereka berangkat ke rumah sakit mereka menggunakan satu mobil saja.
"Dahhhh..." Zee melambaikan tangannya saat mobilnya berhenti tepat di depan rumah Vani.
Zee langsung menancapkan pedal gas mobilnya untuk menuju ke lokasi pertemuan pertama mereka.
Sesampainya di sana, Zee langsung keluar dari mobilnya. Ia tampak celingak-celinguk mencari keberadaan orang yang katanya teman Alif.
"Sini, Kak." teriak seorang gadis yang seumuran dengan adiknya.
Rupanya tempat pertemuan mereka adalah di salah satu taman.
"Sela?" tanya Zee memastikan.
Gadis yang bernama Sela itu pun mengangguk.
"Iya, Kak. Aku Sela. Kenalin..." Sela menyalami tangan Zee layaknya seperti Kakak.
"Ahh, iya. Maaf, soalnya Kakak kurang tau wajah kamu. Beda banget ya sama yang di foto." ujar Zee.
"Gak ada yang beda kok, Kak. Hehe... Sama aja kok." balasnya.
"Ternyata ramah ya. Persis yang di bilang Alif."
"Owh, iya, Kak. Alif nya gak pulang ya?"
"Iya, belum. Soalnya dia lagi bikin skripsi. Kamu gak sibuk kan? Takutnya Kakak gangguin waktu kamu." ucap Zee tidak enak hati.
"Nggak kok, Kak. Aku gak sibuk. Free hari ini. Hehe, butuh refreshing, Kak." celetuk Sela.
"Ya sudah. Biar mempersingkat waktu dan gak buang-buang waktu. Gimana kita langsung ke lokasi aja. Kamu udah nemuin lokasi yang bagus kan?"
"Iya, Kak. Kebetulan juga tempatnya baru di bangun. Kebetulan juga itu punya Papa." balas Sela tersipu.
"Kakak makasih banyak buat kamu. Makasih udah mau bantu Kakak." ujar Zee.
"Iya, Kak. Santai aja. Boleh kan aku anggap Kakak seperti Kakak sendiri. Soalnya aku cuma punya Kakak cowok." pintanya.
"Boleh kok. No problem. Kamu boleh hubungin Kakak kapan aja selagi Kakak ada waktu luang."
"Makasih banyak, Kak." Sela berhamburan ke pelukan Zee. Sigap Zee mengelus pundak Sela seperti adiknya sendiri.
"Yaudah, yuk, Kak." Sela melepaskan pelukannya.
"Ehh, iya. Kamu naik apa ke sini?"
"Tadi di anterin sama Papa. Gak apa-apa kan, Kak, kalau aku nebeng sama Kakak?" jawab Sela sambil menyengir.
"Gak apa-apa dong."
Mereka pun langsung menuju ke lokasi yang sudah di carikan oleh Sela.
Sesampainya di sana, Zee langsung tertarik perhatiannya. Tidak sia-sia ia meminta bantuan kepada sang adik.
Setelah mengecek seluruh ruangannya, Zee akhirnya menyetujui itu. Ia pun langsung mentransfer uang ke rekening Sela sebagai tanda bukti tempat tersebut sudah menjadi miliknya.
...~Happy reading gaes~...