Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 52. Kekesalan Yang Hakiki



Zee sempat terperangah mendengar perkataan Zayn.


Wajahnya merona, secepat mungkin Zee menyangkal itu. Namun demikian Zee tidak menyalahkan apa yang dikatakan oleh Zayn.


"Pede sekali!" ucap Zee ketus.


"Masa? Itu mukanya udah merah gitu. Malu ya?" goda Zayn.


"Aku bilang enggak ya enggak!" sungut Zee.


Zayn terkekeh, "Baiklah. Hati-hati pulangnya."


WHAT!!!


Bolehkah Zee berteriak.


"Hmmm..."


Setelahnya Zee langsung mengajak Rega pulang. Entan kenapa moodnya tiba-tiba berubah.


Di tempatnya


Zayn tersenyum simpul. Sengaja untuk tidak memunculkan dirinya di hadapan Zee selama ini. Bukan tanpa alasan. Zayn hanya ingin memberi sedikit kejutan, maksud dan tujuannya. Selama itu Zayn juga sibuk dengan pekerjaannya. Seharian hanya memandangi berkas-berkas. Membosankan!


Zayn segera menemui kliennya yang berada di ruangan VVIP restoran tersebut. Niat ingin kembali ke ruangan tersebut sehabis dari toilet ehh tidak sengaja bertemu wanita pujaannya.


Sesampainya di rumah Zee benar-benar memberikan Rega kepada sang Bunda. Moodnya benar-benar rusak. Ah, entahlah kenapa dengannya.


Brak


Zee menutup keras pintu kamar mandinya. Segera membersihkan diri berharap setelah badannya bersih kini pikirannya juga ikut bersih.


Ck!


Zee berdecak kesal mengingat kejadian tadi. Ingin Zee bertanya kemana dan dimana pria tersebut hingga kini baru menampakkan diri. Tapi, semua itu tidak mungkin Zee lakukan. Dia tau dan sadar.


Impossible


Zee akui dirinya begitu merindukan pria itu. Pria yang kini namanya masih terukir indah di dalam hatinya.


Saking asiknya melamun sampai-sampai suara ketukan pintu tidak terdengar di telinganya.


Tok tok tok


Zee terperanjat dari kasurnya dan segera membukakan pintu kamarnya.


"Eummmh...Bund?"


Sang Bunda melihat keadaan anaknya seperti tidak baik-baik saja. Wajahnya tampak kusut seperti benang.


Tapi Bunda berusaha menampik itu semua.


"Turun yuk! Makan malam sayang." sang Bunda mengelus pucuk kepala anaknya. Perlakuan itu sungguh membuat setiap anak akan merasa mendapatkan kebahagiaan yang lebih. Bukan harta dan tahta. Melainkan hanya rasa kasih sayang yang ingin mereka dapatkan. Hanya satu kata 'Perhatian.


Zee menganggukkan kepalanya mengerti, "Sebentar lagi Zee turun, Bund."


Bunda Weni pun menuruti perkataan sang anak dan kembali turun untuk menemani keluarganya makan malam.


Malam ini Zee serasa berbeda. Suasana hatinya tidak karuan.


Keesokan harinya Zee dibuat kesal karena dirinya seperti dipermainkan oleh semua orang rumah. Sangat kesal.


Seperti pagi tadi sang Bunda menyuruhnya untuk membuat sarapan. Setelah sarapan siap ehh malah diprotes.


"Kok kamu masak ini, sayang? Bukannya tadi minta di masakin opor ayam?"


Meski perkataan sang Bunda penuh tutur lembut, tapi hal itu hanya dapat membuat Zee menyembunyikan kekesalannya.


Zee memasak lagi. Tapi...


"Sayang, ini rasanya kok masih mentah?"


What!!!


Padahal Zee sudah lama memasaknya.


Zee kembali memendam kekesalannya. Tapi, tidak hanya sampai di situ.


"Zee, nanti siang temenin aku ke acara syukuran sahabat lama aku ya?"


Zee menyetujui ajakan Lora. Tapi pada saat waktunya.


"Maaf, Zee. Kayaknya acaranya udah lewat deh. Aku lupa. Hehe."


What!!!


Padahal Zee sudah capek capek berdandan dan dengan gampangnya Lora berkata seperti orang tidak punya rasa bersalah. Alamakkk!!!


Ingin Zee memukul kepala Lora menggunakan panci yang ia gunakan saat memasak opor tadi.


Zee memijat kepalanya untuk menghilangkan rasa peningnya.


Kepalanya seperti di gerogoti banyak parasit dan dalam sekejap otaknya itu tersisa seperempat saja.


"Kak, nanti malam temenin aku ketemu rekan bisnis ya? Aku gak terlalu suka berduaan sama perempuan di satu ruangan." cicit Alif sang adik.


"No!"


"Kakak udah capek. Gak emak gak anak sama aja." Zee memijat kepalanya.


"Ohh ayolah Kakakku sayang. Emangnya Kakak mau aku di culik oleh para wanita wanita sinting itu?"


"Kau yang sinting!" sahut Zee berapi-api yang sudah tidak dapat menyembunyikan kekesalannya hari ini.


Zee langsung pergi ke kamarnya berusaha agar kekesalannya itu meredam.


Brak


Pintu kamarnya tertutup kasar. Siapa lagi kalau bukan si pemilik kamar tersebut.


Sementara di bawah sana Bunda, Alif, Lora sedang asik cekikikan sambil melempar senyum puas. Sementara Rega dibawa oleh sang Kakek ke kantornya. Mumpung tidak banyak kerjaan jadi sang Kakek berniat untuk mengajak cucunya berjalan-jalan dan mengenalkannya di dunia perbisnisan.


"Oke next! Kita lihat seperti apa kelanjutannya."