Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 15. Belum di servis



Pulang sekolah seperti biasa Zee pulang bersama para sahabatnya. Biasanya pulang sekolah ia akan di jemput oleh sang Ayah.


"Ehhh ehhhhh. Kenapa nih?" ucap Vani yang tiba-tiba oleng membawa motornya.


"Yahhh, kok kempes sih. Gimana nih?" keluh Vani.


"Kenapa, Van?" tanya Zee.


"Ini nihh. Ban motor gue kempes. Mana bengkel dari sini jauh lagi." jelas Vani.


"Yaudah deh. Motor lo tinggalin di sini aja. Pulangnya nanti baru di ambil sama tukang bengkelnya."


"Trus gue pulangnya gimana?"


"Gini aja. Lo pulang sama Elsa. Nanti gue gampang lah." saran Zee.


"Jangan lah. Biar lo aja yang bareng Elsa." tolak Vani.


Di tengah perdebatan mereka tiba-tiba dua buah motor berhenti tepat di depan mereka.


"Kalian kenapa?" tanya Renzy saat baru saja membuka helm miliknya.


"Nihh." tunjuk Vani ke arah ban sepeda motornya.


"Oohh kempes. Yaudah kalo gitu sama gue aja." jawab Renzy.


"Bole..."


"Sama gue aja Vani nya." sela Elsa dengan cepat.


"Trus nanti Zee gimana?" tanya Vani.


"Zee biar sama Zayn aja. Boleh ya, Zayn?"


"Yeee, makasih, Zayn. Tolong anterin Zee sampe rumah ya." ucap Elsa tanpa menunggu jawaban dari Zayn.


"Yaudah yuk, Van." ajak Elsa. Vani pun hanya mengangguk patuh.


Perlahan motor yang di kendarai Elsa melesat begitu saja meninggalkan Zee yang masih berada di sana bersama Zayn dan Renzy.


'Dua kali. Batin Zee lesu. Dua kali ia di tinggalkan oleh para sahabatnya.


Zee melihat ke arah Zayn dan Renzy yang masih duduk di atas motornya.


"Ehhh. Jangan sama gue. Motor gue belum di servis. Jadi, belum bisa boncengan." kilah Renzy saat melihat gelagat Zee yang ingin pulang bersamanya.


"Tadi lo nawarin Vani. Tapi sekarang sama gue gak boleh. Gimana sih." balas Zee kesal.


"Itu... Tadi gue lupa. Yaudah deh gue balik dulu ya. Zayn, ingat! Anterin Zee sampe rumahnya. Dadahhh." pamit Renzy dengan menjalankan motornya laju.


Krikkk


Hanya keheningan di antara mereka berdua. Sudah dua kali situasi yang mereka rasakan saat ini.


Zee mengalah, akhirnya ia menaiki motor Zayn saat sang empu mengkodenya untuk menaiki motornya.


Beberapa menit berlalu hingga mereka telah sampai di kediaman Zee.


"Masuk dulu ya. Sekalian gue balikin baju lo yang kemaren. Kayaknya udah kering." ajak Zee.


"Boleh deh." jawab Zayn menyetujui ajakan Zee. Kebetulan cuaca sedang terik-teriknya. Apalagi sekarang. Mereka pulang pada pukul setengah dua. Sudah di pastikan matahari berada di puncak langit.


"Duduk dulu ya. Bentar gue ke atas dulu." Zayn hanya mengangguk paham.


Zee pun langsung menuju kamar miliknya. Saat sudah berada di ambang pintu kamarnya, tidak sengaja Zee berpapasan dengan Alif yang saat itu baru saja keluar kamarnya.


"Kak." seru Alif.


"Hmmmm..." Zee hanya berdehem.


Alif berdecak kesal saat dirinya yang di abaikan oleh sang Kakak.


Saat berada di bawah, Alif heran saat melihat pintu rumahnya yang tumen-tumbenan terbuka lebar. Biasanya hanya terbuka setengah saja.


"Ehhhh, ada orangnya ternyata." kaget Alif saat melihat ada orang lain berada di ruang tamu yang sedang memakai seragam sekolah yang sama persis dengan sang Kakak.


"Temen kak Zee ya, Bang?" tanya Alif.


"Iya?"


"Kenalin, Bang. Aku Alif adiknya kak Zee."


"Nama Abang siapa?" tanya Alif.


"Panggil Zayn aja." jawab Zayn.


"Oke, Bang Zayn."


"Kalo gitu aku keluar dulu ya, Bang. Sebentar lagi Kakak keluar dari kamarnya kok." Zayn hanya mengangguk. Rasanya sangat canggung.


Benar saja. Baru saja Alif mengatakan itu, Zee sudah terlihat dengan tangannya yang membawa paper bag yang berisikan baju milik Zayn.


Zee menyodorkan paper bag di tangannya, "Nihhh. Makasih ya. Makasih juga udah nganterin gue." ucap Zee.


"Iya, sama-sama. Kalo gitu gue pulang dulu ya." pamit Zayn. Zee pun mengantarkan Zayn sampai ke depan pintu. Setelah memastikan Zayn tidak lagi terlihat Zee masuk ke dalam rumahnya kembali.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." jawab Zee.


"Bunda, dari mana?" tanya Zee.


"Dari warung sebentar. Ehh iya, tadi ada yang datang ke rumah ya?"


"Huumm. Itu temen Zee, Bund. Yang kemaren dia minjemin baju nya ke Zee itu. Barusan udah Zee balikin bajunya." jelas Zee.


"Cowok ya? Bunda kirain cewek." seru Bunda Weni yang sudah salah paham.


"Cowok lah, Bund. Yang bilang cewek itu siapa?"


"Kirain gitu. Cowok toh." gumam Bunda Weni berjalan menuju dapur untuk meletakkan barang belanjaan yang ia beli di warung.


"Bunda mau masak apa." tanya Zee mengekori sang Bunda.


"Masak opor ayam. Kenapa? Kamu mau bantu Bunda?"


"Boleh deh, Bund. Zee ganti baju dulu ya."


"Iya."