
Selesai berbelanja beberapa keperluan Rega dan tidak lupa bahan kebutuhan rumah, mereka memutuskan untuk mampir ke sebuah taman bermain. Itu semua adalah rengekan Rega yang terlihat antusias kala melihat taman bermain di Indonesia untuk pertama kalinya. Ia tidak melewatkan barang sedikit pun yang tertinggal.
"Mami, Rega mau naik itu." tunjuk Rega ke sebuah ayunan.
"Boleh." Zee langsung menaikkan Rega ke ayunan yang berupa kursi. Sangat aman untuk balita seperti Rega. Tapi, itu semua harus dilakukan di bawah pengawasan orang dewasa. Supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Hari sudah semakin sore. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Wajah Rega terlihat masam karena balita tersebut belum puas bermain di taman bermain. Iming-iming agar nanti malam tidur bersama Alif membuat Rega tidak bisa menolaknya.
Dalam perjalanan pulang terlihat jalanan yang sangat macet membuat mereka menunggu lama. Sampai ada seorang polisi yang kebetulan baru saja tiba. Alif membuka kaca mobilnya untuk menanyakan perihal jalanan berubah menjadi macet. Wajah saja kalau sore karena banyak orang-orang pulang bekerja. Tapi, macet ini sungguh berbeda.
"Permisi, Pak. Saya mau nanya. Di depan ada apa ya, Pak." tanya Alif.
Polisi tersebut reflek menoleh ke arah Alif, "Ada kecelakaan besar, Dek." jawabnya.
"Masih lama ya, Pak?" tanya Alif sekali lagi.
"Waduh, saya tidak tau juga. Soalnya ini saya mau menuju ke sana membantu time anggota yang lain."
"Baiklah, kalau begitu. Terima kasih ya Pak atas infonya."
"Iya, Dek. Sama-sama."
Mendengar itu Alif mempunyai ide. Ia tahu bahwa ada jalan pintas untuk kembali ke rumah. Tapi, jalanan tersebut lumayan sepi. Hanya ada beberapa saja yang berlalu lalang. Beruntung ada beberapa warung makan di sana yang membuat suasana tidak terlalu horor.
Alif berinisiatif untuk menelfon sang Kakak yang berada di belakang mobilnya karena Zee membawa mobilnya sendiri.
"Ra, kamu bisa telfon Kakak gak? Bilangin ikutin mobil aku di belakang. Kita pulang lewat jalan pintas aja." ucap Alif sambil menoleh.
Lora menganggukkan kepalanya dan menelfon Zee.
"Udah. Kata Zee dia ngikut aja di belakang."
"Makasih."
"Ehhh...ehhh...ehhh. Kenapa nih?" gumam Alif yang mengendarai mobilnya sedikit oleng.
"Kenapa, Lif?" tanya Lora saat Alif memberhentikan mobilnya. Otomatis Zee ikut berhenti.
"Gak tau nih tiba-tiba oleng. Kamu tunggu di sini sebentar ya? Aku mau meriksanya dulu." Rega tertidur dengan lelap di pangkuan Lora.
Zee yang bingung melihat adiknya kelur dari mobilnya pun ikut turun mendekati Alif.
"Kenapa, Lif?" tanya Zee heran.
"Gak tau, Kak. Tiba-tiba oleng." jawab Alif sambil memeriksa bagian-bagian mobilnya hingga penglihatannya tertuju pada ban mobil depan sebelah kanan kempes.
"Yahhh...bocor nih kayaknya, Kak." ujar Alif dengan nada lesu.
"Ya udah. Kamu telfon bengkel kamu aja. Suruh mereka datang ke sini. Kamu sama Lora ikut mobil Kakak aja." saran Zee yang mendapatkan persetujuan Alif.
"Biar Rega nanti di belakang sama Kakak. Nanti kamu sama Lora di depan." ucap Zee begitu Alif dan Lora datang bersamaan tidak lupa juga Rega yang terlihat anteng di dalam gendongan Alif.
"Biar aku sama Rega aja yang di belakang, Zee." tolak Lora.
"Kamu di depan sama Alif. Aku sama Rega di belakang." suruh Zee sekali lagi.
"Zee, please..."
"Ah, baiklah. Ngalah aja aku tuh." celetuk Zee melihat ruat wajah Lora yang memohon.
Perdebatan soal tempat duduk sudah clear. Kini Alif yang mengemudikan mobil sang Kakak. Sedangkan mobilnya ia taruh di pinggir jalan dekat warung makan.
Baru beberapa meter mobil mereka bergerak, kini sudah berhenti lagi karena ulah segerombolan anak-anak badung yanh menghadang jalan mereka. Bahkan sampai ada yang membawa benda tajam tanpa mereka ketahui.
...~Happy reading~...