
"Lif..." serentak Zee dan Lora dengan bibir bergetar.
Baru kali ini mereka dihadapkan dengan masalah seperti ini.
"Kalian tenang ya. Ingat! Jangan kemana-mana. Jangan turun dari mobil." ucap Alif seraya melepas seatbelt nya.
"Jangan turun, Lif!" titah Zee.
"Udah. Do'ain aja ya, Kak."
Namun, sebelum Alif keluar dari mobilnya sudaj ada salah satu dari mereka yang mengetuk kaca mobil yang masih tertutup rapat.
"Woyyy!!! Keluar lo!" hardiknya dengan wajah sangar.
Zee dan Lora yang melihat itu seketika bergetar. Sementara Rega masih tertidur lelap di kursi belakang bersama Zee.
"Keluar sekarang gak! Atau mau gue pecahin nih kaca mobil!!!"
Alif pun keluar dan berusaha untuk berbicara dari hati ke hati.
"Maaf nih, Bang. Ada apa ya?" tanya Alif.
"Nanya ada apa! Salah lo! Parkir mobil di wilayah kekuasaan kami!"
"Persoalan itu saya minta maaf, Bang. Ban mobil saya bocor. Tapi, tenang aja. Nanti ada orang bengkel suruhan saya buat memperbaikinya."
"Gak ada nanti nanti!"
"Ya udah. Saya mau tanya. Mau abang-abang ini sebenarnya apa?"
"Kami?..."
"Mau nyawa lo..." jawab salah satu dari mereka sambil tersenyum smirk.
"Kalau soal itu ya, Bang. Saya sih nggak berhak ya. Yang berhak itu cuma sang Mahakuasa. Nyawa saya hanya titipan yang harus saya jaga."
"Halah! Banyak omong lo."
Tak lama kemudian seseorang keluar dari mobil.
"Bos. Mau kita apain?" bisik salah satu anak buahnya.
"Hajar! Bila perlu bunuh!"
"Baik, bos!"
Perkelahian pun tak dapat terelakkan. Sekuat tenaga Alif bertahan sendirian. Namun, apalah daya Alif kalah jumlah. Dia hanya sendiri.
Sedangkan di dalam mobil, Zee yang melihat itu segera melaporkan kepada pihak yang berwajib.
"Ra, kamu jaga Rega ya. Pastiin dia gak terbangun."
"Kamu mau kemana, Zee? Jangan nekat!"
"Mau keluar sebentar. Jangan khawatir. Tuh, kasian Alif sendiri. Meskipun aku gak mahir bela diri tapi tau lah meskipun sedikit."
Lora memegang tangan Zee, "Zee... please... Jangan!"
"Gak apa-apa, Ra. Aku pasti balik dengan selamat. Sambil mengulur waktu menunggu polisi datang."
"Zee....Zee..." sayangnya Zee sudah keluar dari mobil.
"Bos, ada cewek cantik tuh. Mau kita apain?" tanya anak buahnya saat melihat Zee baru saja keluar dari mobil.
"Aku hanya ingin nyawa pemuda itu." lanjutnya sambil tersenyum di balik topeng hitamnya.
"B-baik, Bos."
"Wowww! Jangan bermain dengan senjata tajam. Saya hanya menggunakan tangan kosong." ujar Alif dengan nafas ngos-ngosan saat melihat salah satu dari mereka mengeluarkan senjata tajam, yaitu pisau.
"Emang kita pikirin?"
Bugh
Bugh
Srak
Alif menghindar beberapa kali supaya pisau tajam itu tidak menyentuh kulitnya.
Namun, salah satu dari mereka menyerang dari sisi belakang tanpa Alif sadari saat dia fokus dengan lawannya.
Zee yang melihat itu berteriak sambil berlari kencang ke arah Alif. Dan mendorong tubuh Alif supaya tidak terkena pisau itu.
Srakkk
"K-kak."
Anak buahnya seketika membeku karena mereka salah sasaran.
"Kalian!!!" geram sang boss dan langsung berlari ke arah Zee sambil melepaskan topengnya.
Zee terbatuk-batuk sambil tangannya memegang bagian perut sebelah kanannya dengan darah yang sudah bercucuran.
Brukkk
Alif segera menangkap bobot tubuh sang Kakak sambil menahan sakit dan perih di tubuhnya akibat pukulan dan beberapa goresan pisau.
Sambil menahan sakit yang teramat samar-samar Zee melihat pria di balik topeng itu.
Dengan terbata Zee berbicara, "R-reno. K-kau!"
Alif yang mendengar itu seketika melihat wajah pria yang tengah berdiri mematung di dekatnya. Alif mengabaikannya. Dia lebih memikirkan keadaan sang Kakak.
Tidak lama kemudian datanglah mobil polisi yang sempat Zee hubungi tadi.
Anak buah Reno yang masih berada di sana segera di tangkap dan bahkan ada yang mencoba untuk berlari. Tapi, segera di hadang oleh polisi dengan melayangkan tembakan pistol.
Sementara Lora, wanita itu sudah terisak tanpa suara. Ingin keluar tapi masih ada malaikat kecilnya yang sedang tertidur lelap.
Zee segera dilarikan ke rumah sakit menggunakan mobilnya. Karena untuk menghubungi mobil ambulance rasanya sudah tidak ada waktu. Terpaksa memakai mobilnya. Alif mengendarai mobil sang Kakak dengan kecepatan tidak biasa. Dia tidak perduli dengan keadaannya yang sekarang. Sambil beberapa kali meringis Alif tetap menjalankam mobil sang Kakak menuju rumah sakit.
Rega sudah dipindahkan ke kursi depan bersama Lora. Sedangkan Zee sudah tidak sadarkan diri di kursi belakang.
Alif pun meminta Lora untuk menghubungi orang tuanya agar menyusul mereka ke rumah sakit. Alif membawa sang Kakak ke rumah sakit semasa sang Bunda di rawat dulu.
Sesampainya di rumah sakit Zee langsung dilarikan menuju ruang IDG untuk memeriksa keadaan lebih lanjut.
Tak lama saat Zee dilarikan ke ruang IDG, kedua orang tua mereka datang dengan tergopoh-gopoh.
"Lif..." derai air mata sang Bunda tak tertahan lagi. Sementara Ayah, beliau lebih memilih untuk menahan tangis. Dia tidak mau terlihat lemah dihadapan istri dan anaknya.
"Ayah...Bunda...maafin Alif gak bisa jagain Kakak." ujar Alif sambil menangis.
...~Happy reading~...