Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 42. Asal kamu suka



Terlihat mobil yang baru saja terparkir di halaman rumah Zee. Turunlah seorang pria yang memakai pakaian formalnya. Tidak lupa senyum yang terus terpancar sejak ia keluar dari rumahnya sendiri.


Tok tok tok


"Assalamu'alaikum."


Ia pun melirik jam tangannya untuk melihat jam.


"Wa'alaikumsalam."


Pintu terbuka menampakkan seorang wanita paruh baya.


"Eh! Zayn. Silahkan masuk, nak."


Zayn pun masuk ke dalam mengikutinya.


Sampailah di ruang tamu. Ia duduk dengan Bunda Weni berhadapan dengannya.


"Zee nya ada, Tan?" tanyanya.


"Ada kok. Dia di dalam kamar."


Tampak Zayn menganggukkan kepalanya. Sebelum berangkat ia terlebih dahulu mengirim pesan kepada Zee bahwa ia tengah dalam perjalanan.


Ya, tadi subuh Zee telah memberi jawaban atas ajakan Zayn.


"Tunggu sebentar ya, nak. Biar Tante panggil dulu." Bunda Weni bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar Zee yang terletak di lantai atas.


Tok tok tok


"Sayang."


Ceklek


"Iya, Bund?"


"Zayn ada di bawah tuh."


"Ya udah. Bilangin tunggu sebentar ya, Bund. Zee mau sambil tas dulu."


Bunda Weni kembali ke ruang tamu.


"Tunggu sebentar ya, nak. Bentar lagi Zee nya keluar kok." ujar Bunda Weni.


"Iya, Tante."


Benar saja, Zee turun dari kamarnya. Ia mengenakan dress selutut berwarna Peach yang kontras dengan jas yang di pakai Zayn. Entah direncanakan atau tidak. Intinya mereka tidak menduga.


Zee tampil cantik dengan balutan dressnya. Tidak ketinggalan rambutnya yang selalu ia biarkan tergerai. Sangat jarang Zee keluar dengan mengikat rambutnya terkecuali kalau berada di rumah.


Zayn yang melihatnya sempat terpana.


"Cantik." batinnya sambil menatap ke arah Zee yang sedang berjalan menuju ruang tamu.


Melihat Zee sudah tampil cantik, Zayn segera pamit. "Tante, aku pinjam Zee ya?" ucapnya meminta izin.


"Iya, nak. Nitip anak Tante ya." balas Bunda Weni memberi izin.


"Makasih, Tante. Kalau gitu Zayn sama Zee pamit ya, Tan." Zayn pamit dengan menyalami tangan Bunda Weni.


"Zee pamit ya, Bund." Zee mengecup singkat pipi sang Bunda.


Bunda Weni pun mengantarkan anak-anaknya keluar rumah.


Setelah seatbelt sudah terpasang di badan masing-masing, Zayn langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Udah sarapan?" tanya Zayn memcah keheningan.


"Udah."


"Udah mandi?" Zee langsung mendelikkan matanya ke arah Zayn yang fokus dengan jalanan.


Merasa diperhatikan Zayn langsung menoleh sebentar ke arah Zee.


"Kenapa? Ada yang salah?" tanyanya.


"Ada! Banyak yang salah!" Zee langsung mengalihkan pandangannya ke luar kaca mobil yang tertutup rapat.


Zayn terkekeh kecil saat telah berhasil mengerjai wanita yang ada di sampingnya. "Bercanda, Zee."


Zee tidak merespon. Ia lebih memilih memandang ke luar.


Zee bingung. Hati dan pikirannya berkata lain. Pikirannya berkata ingin menjauhi pria itu. Tapi, hatinya berbanding terbalik.


***


Setelah acara tersebut usai, kini mereka berdua berada di dalam perjalanan. Karena hari sudah siang Zayn memutuskan untuk mengajak Zee mekan siang.


Zayn membelokkan mobilnya ke arah salah satu restoran.


"Mau makan apa?" tanya Zayn.


"Ahahaha...baiklah."


Zayn pum memanggil salah satu pelayan. Pelayan tersebut mencatat pesanan apa yang Zayn sebutkan.


Tidak lama dua porsi makanan tersebut sudah nangkring di atas meja mereka.


"Di makan, Zee. Nanti kalau kurang bilang aja."


Saat mereka tengah asik memakan makan siangnya, seorang gadis mendatangi meja mereka.


"Hai, Kak."


Zee langsung mendongakkan kepalanya memandang gadis yang tengah berdiri di samping meja.


"Sela?" tanya Zee memastikan.


"Syukurlah kalau Kakak masih ingat. Hehe...kirain udah lupa." celetuknya.


"Lupa-lupa ingat sih." balas Zee menyengir.


"Duduk dulu." ucap Zee sambil menepuk kursi di samping kirinya.


"Kamu sama siapa ke sini?" tanya Zee penasaran.


"Sama Kakak laki-laki yang waktu itu aku ceritain, Kak."


"Owh, gitu. Trus dimana Kakak kamu?"


"Lagi ke toilet sebentar, Kak."


"Kamu mau pulang atau baru mau pesen?" tanya Zee lagi.


Mereka berdua mengobrol tanpa menyadari ada pria yang merasa telah diabaikan. Ia hanya diam menunggu para wanita selesai cepika-cepiki tidak jelas. Maklum yang namanya perempuan.


"Hehe, sebenernya baru sampai sih, Kak." jawab Sela.


"Gak apa-apa kan aku satu meja sama Kakak?" pintanya.


"Emmm..." tampak Zee berpikir dan melirik Zayn yang tengah duduk di sisi kanannya. Tersisa satu bangku kosong yang memisah jarak antara Zayn dan Sela.


"Zayn?"


"Gak apa-apa. Asal kamu suka aku nurut aja." jawab Zayn.


"Ya sudah. Kamu boleh duduk di sini bareng Kakak. Udah pesen makan belum?" ujat Zee mengizinkan.


"Yeayyyy. Makasih, Kak. Aku belum pesen makanan. Kan nungguin Kakak aku dulu." Zee memgangguk-anggukkan kepalanya.


"Nah itu Kakak." ujar Sela tiba-tiba saat melihat sang Kakak yang seperti mencari keberadaannya.


"Sini, Kak!" ucap Sela melambaikam tangannya ke atas.


"Maaf, dek, kamu lama nunggunya." ucapnya sambil mengelus pucuk kepala sang adik.


"Iya, Kak. Gak apa-apa kok."


"Kita duduk di sini ya, Kak?"


"Oh, iya. Aku mau ngenalin seseorang ke Kakak."


"Kak, kenalin ini Kak Zee."


"Kak Zee, kenalin ini Kakak aku."


Zee mengangkat kepalanya sedikit ke atas untuk melihat paras Kakaknya Sela. Dan...


Deggg


*Ternyata


Zee berpikir keras. Bagaimana sikap kedua Kakak beradik itu sangat berbeda*?


"Zee. Gak nyangka bakalan ketemu di sini."


Zayn memandang keduanya dengan tatapan penuh tanya. Zayn juga kesal kepada Kakak laki-laki Sela yang sepertinya memiliki perasaan pada Zee. Nampak dilihat dari bola matanya yang menatap Zee dengan tatapan berbeda. Ingin Zayn membokem wajah Kakaknya Sela. Tapi, ia tidak punya alasan yang membuatnya untuk melakukan itu semua.


Sepertinya ia mempunyai saingan yang tidak mudah untuk dikalahkan. Sepertinya.


Zayn juga sadar dirinya jugasalah kalau seandainya hati Zee telah tertambat pada pria lain. Perpisahan mereka tidaklah singkat. 5 tahun. Bayangkan.


Kepergian Zee juga salahnya. Mungkin karena Zee telah kecewa kepadanya. Zee memilih untuk menenangkan hatinya dan berusaha melupakan pria tersebut. Tapi, nyatanya Tuhan sudah memiliki skenario yang berbeda.


Sulit untuk Zee melupakan Zayn. Bahkan bayangan-bayangan ketika hatinya hancur berkeping-keping muncul di setiap malamnya. Zee pusing. Ia membagi pikirannya. Kuliah dan memikirkan pria itu. Ralat...tapi bayangan itulah yang selalu datang tanpa izin dari pemilik tubuhnya.


Tapi, Zee berusaha semampunya untuk mencari cara agar pikirannya tidak tertuju pada satu tujuan yakni pria itu.


...~Happy reading~...