
Ceklek
Pintu ruangan IGD terbuka menampakkan seorang Dokter yang mereka yakini itu adalah Dokter yang menangani Zee.
"Keluarga pasien?"
"Saya Ibu nya, Dok. Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Bunda Weni panik sambil berdiri dari duduknya.
"Untung saat ini pasien dalam keadaan kritis. Banyak darah yang keluar akibat tusukan itu. Sebaiknya kita segera melakukan tindak lebih lanjut." jelas sang Dokter yang lebih tepatnya mengarah ke operasi.
"Lakukan yang terbaik untuk anak saya, Dok." pinta Bunda Weni.
Operasi akhirnya berlangsung. Khawatir melanda Ibu dua anak tersebut. Hingga ia tersadar dengan keadaan anak laki-lakinya.
"Maaf, sayang. Saking khawatirnya Bunda sama Kakak kamu." Bunda Weni membelai wajah Alif yang terlihat lebam.
"Gak apa-apa, Bund." balas Alif memberi pengertian.
"Ini lukanya obatin dulu yah?"
Alif menyentuh sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.
"Ra." panggil Bunda Weni.
Lora yang tengah menenangkan Rega meracau seketika menoleh.
"Iya, Tante?"
"Bisa kamu obatin Alif? Rega biar dikasihin ke Kakeknya dulu. Iya kan Yah?" ucap Bunda sambil menoleh ke samping dimana sang suami berada.
"Iya. Sini, Rega sama Kakek aja." Lora pun memberikan Rega.
"Ini tidur apa kebo sih?" Ayah Zaki menoel-noel pipi Rega hingga balita tersebut menggeliat dan perlahan membuka matanya.
"Aduh! Maafin Kakek yah udah bangunin kamu sayang." ujar Ayah Zaki.
"Kek, ini dimana?" tanya Rega bingung.
"Kita lagi di rumah sakit, sayang." jawab Ayah Zaki jujur.
"Emangnya siapa yang sakit, Kek?" tanyanya lagi.
"Nanti Rega liat sendiri ya?" Rega menganggukkan kepalanya. Kini pandangannya terhenti saat melihat Mamanya yang tengah membersihkan luka di wajah Alif.
"Papa kok banyak luka-luka?"
Alif pun melihat Rega sesekali ia meringis saat lukanya bersentuhan dengan kapas.
"Makanya besok jangan manjat lagi ya, Pa." nasehat Rega seketika membuat Alif tak tahan untuk tertawa.
"Jangan berisik! Jangan banyak gerak!" titah Lora yang sedikit kesulitan mengobati Alif.
"Maaf." selepasnya Alif memilih diam sambil tertawa saat Rega berbuat usil pada Kakeknya.
Bunda Weni sangat fokus melihat pintu ruangan operasi yang masih tertutup itu. Sesekali dia mengamati interaksi Alif dan Lora yang terlihat malu-malu.
"Ini bajunya mau di ganti?" tanya Lora prihatin melihat kemeja Alif yang sudah berubah warna karena bercampur darah Zee yang telah kering.
"Iya."
"Bentar, ambilnya dulu di bagasi mobil." Alif sudah bangkit dari duduknya tapi ditahan oleh Lora. Rupanya wanita yang terpaut 3 tahun darinya itu menawarkan biar dia saja yang mengambilkan baju Alif, mengingat pria itu baru saja terlibat perkelahian sengit hingga menimbulkan korban yang tengah bertaruh nyawa di dalam ruangan operasi tersebut.
Setelah kepergian Lora, kini hanya tersisa Alif berserta kedua orang tuanya dan Rega.
"Tante." seseorang datang dengan tergopoh-gopoh yang memakai jas putih kebanggaannya.
"Bener kalau Zee itu kecelakaan?" bunda Weni menganggukkan kepalanya.
'Ya Allah.
"Berarti sekarang lagi di operasi?" tanyanya memastikan.
"Iya, Nak."
"Tante yang sabar ya." hati dan pikirannya berkata lain. Ingin ia yang menggantikan posisi itu.
"Tante selalu sabar, Nak."
"Lif, kamu?" lihatny ke atah Alif.
"Iya, Bang. Maaf, belum bisa jagain." sesalnya.
"Bukan salah kamu."
"Tante, Om. Boleh saya menyampaikan sesuatu. Tapi, tidak di sini. Nanti selesai operasinya aja." izinnya.
Ayah Zaki yang mendengar namanya dipanggil-panggil langsung mengangguk.
"Boleh, Zayn."
...~Happy reading~...