Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 31. Drama



Paginya Zee bangun pagi. Ia memasak, membereskan rumah, dan terakhir mandi.


Rumahnya tidak berubah sama sekali saat ia meninggalkannya tepat 5 tahun yang lalu.


Zee keluar dari rumahnya dengan pakaian santainya. Ia duduk di pekarangan rumahnya sambil melihat ke seberang sana. Zee memutuskan untuk menyiram tanaman yang ada di samping rumahnya.


Selesai dengan aktivitasnya Zee memutuskan untuk masuk ke dalam rumahnya dan berangkat ke rumah sakit lagi.


Saat ia baru saja memegang gagang pintu terdengar sebuah pekikan yang memanggil namanya.


Zee berbalik


Dua wanita yang masih memakai celana training dan baju kaus berwarna polos serta handuk kecil di lehernya masing-masing berlari ke arahnya.


Greppp


Mereka menangis. Menangis terharu melihat sahabat yang selama ini mereka cari berada di dalam pelukannya.


5 tahun bukanlah waktu yang singkat. Seperti mimpi. Mereka mencubit pipinya masing-masing agar tersadar dari mimpinya. Tapi... Ternyata itu nyata. Sungguh!


Mereka tidak bisa berkata-kata. Lidahnya seakan kelu untuk mengucapkan sepatah kata. Hanya tangisan lah yang bisa mereka tunjukkan.


Mereka kemudian tersadar saat sebuah tepukan yang melayang di pundaknya masing-masing. Rupanya itu tepukan yang berasal dari Zee. Wanita itu kehabisan nafasnya. Ia merasakan sesak saat dua orang yang memeluknya secara bersamaan.


"Jahat!" ujar mereka dengan wajah yang sudah sembab.


Zee terkekeh kecil.


Merasa bahwa ini akan ada bencana besar yang akan ia dapatkan, segera Zee masuk ke dalam rumahnya dan mempersilahkan tetangganya juga masuk.


Zee menarik pergelangan tangan mereka menuju kamarnya.


"Jahat!"


Kalimat yang entah berapa kali terlontarkan.


Zee akui ia memang sedikit kejam. Sedikit?


"Cengeng banget sih nangis-nangis gitu. Udah gede lho bukan anak kecil lagi."


Zee membuka suaranya.


Mereka hanya diam. Zee prediksi itu pertanda ngambek.


"Gak mau bicara?"


Mereka diam


"Ya udah. Biar aku pergi lagi." gertak Zee sambil memasukkan pakaiannya ke dalam tas ransel. Ia hanya menggertak.


Spontan saja kedua wanita tersebut langsung berteriak.


Enak saja. 5 tahun tanpa kabar sekarang malah mau menghilang lagi.


"Jahat banget!"


Zee malah tergelak


"Ngomong dong para bebebku." ucap Zee.


Mereka diam lagi. Muncul lah otak jahil Zee.


"Ya udah kalau gak mau ngomong. Percuma aku bawa kalian ke sini."


Zee melangkahkan kakinya berniat untuk keluar dari kamarnya. Namun baru beberapa langkah ia berjalan tubuhnya sudah di tahan dan mereka membawa Zee ke pelukannya lagi.


Zee membalas pelukan mereka


Sungguh! Ia mati-matian menahan tawanya. Ia juga terharu. Perlahan tetesan demi tetesan air mata melelehi pipinya.


"Maaf."


Hanya satu kata yang dapat Zee ucapkan sebagai ungkapan perasaannya saat ini.


"Kalian bau." ujar Zee mencairkan suasana.


Mereka pun melepaskan pelukannya dan beralih mencium badannya sendiri kemudian terkekeh.


Elsa melesat begitu saja masuk ke dalam kamar mandi di dalam kamar Zee.


"Sekalian pinjam bajunya." teriak Elsa.


Zee hanya menggelengkan kepalanya.


"Kemana aja?"


Tatapan sinis Vani tunjukkan.


Zee hanya menyengir. Sepertinya ia akan di sidang habis-habisan oleh para sahabatnya.


"London."


"What!!!" teriak Vani kaget.


"Why not?" ucap Zee dengan santainya.


"Kenapa jauh banget sih. Tega banget lo ninggalin gue sama Elsa."


"Tapi, sekarang udah ketemu kan?"


"Iya, sih."


Vani mengangguk.


"Tapi, cara lo gak gitu juga kali." ucap Vani kesal.


"Mana gak ngasih kabar apa-apa. Nomor telfon ganti-ganti. Pakai sembunyiin segala."


"Ya mau gimana lagi. Keputusan yang gak bisa di ganggu gugat." kilah Zee.


"Pokoknya setelah ini lo gak boleh kemana-mana!"


"Lha, di kira gue burung pakai di kurung segala macem."


"Bukan gitu maksudnya. Maksudnya tuh lo gak boleh pergi jauh atau ke luar negeri."


"Maybe."


"Kalian mau di sini atau ikut gue ke rumah sakit?" ujar Zee mengubah topik pembicaraan mereka.


"Ngapain ke rumah sakit? Lo sakit?"


Vani meletakkan telapak tangannya di dahi Zee.


"Nggak panas." celetuknya.


"Ya iya lah gak panas. Orang yang sakit bukan gue."


Vani belum tau mengenai kabar Bundanya. Padahal mereka bertetanggaan.


"Trus, siapa yang sakit?" tanya Vani kepo.


"Bunda."


Sesaat kemudian Vani terpekik. Salahkan dirinya yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang sekarang yaitu sebagai pengacara. Sementara Elsa? Wanita itu menjadi seorang desainer.


"Ihhhh, kok gue gak tau sih?"


"Lo tuh sibuk. Jarang ada di rumah." ejek Zee.


"Namanya cari duit ya pasti sibuk lah." balas Vani menyengir.


"Alasan aja."


Elsa pun keluar dari kamar mandi Zee dengan memakai pakaian sahabatnya itu.


"Gantian gue, minggir sana!" Vani langsung menyingkirkan Elsa yang masih berdiri di ambang pintu kamar mandi.


"Santai aja kali, Van." balas Elsa kesal.


...----------------...