
2 bulan kemudian Zee sudah sudah pulih. Ia juga bahkan sudah beraktivitas karena sudah sembuh total.
2 bulan yang lalu juga masalah dengan Reno sudah selesai. Pria itu sungguh menyesali perbuatannya. Dia juga baru tau kalau Alif adalah adik satu-satunya Zee. Kecemburuannya membawa dirinya mendekam di dalam penjara. Sedangkan Sela adiknya terkejut melihat sifat asli dari Kakak tirinya itu. Sela bersama Papanya dan Ibu tirinya meminta maaf sebesar-besarnya atas kelakuan buruk anak laki-lakinya.
Hari ini adalah hari weekend. Zee memutuskan untuk berlibur di rumahnya ditemani si kecil Rega. Hari-hari Zee seakan berwarna dengan adanya Rega. Zee juga tidak pernah bertemu lagi dengan Zayn. Ngomong-ngomong kemana pria itu? Menghilang tanpa jejak.
Zee juga baru tau orang yang mengiriminya surat waktu itu adalah Zayn. Nama dengan inisial DZ adalah dirinya Dokter Zikhri. Dan yang membayarkan makanannya di kantin rumah sakit waktu lalu adalah orang yang sama yaitu Zayn.
Zayn juga sudah mengundurkan dirinya sebagai Dokter karena ia saat ini fokus dengan pekerjaannya sebagai pemimpin perusahaan MH Company. Zayn juga tampak sangat sibuk dengan pekerjaannya. Perusahaan yang dipimpin olehnya mengalami perkembangan pesat. Sang Papa, Mahendra sangat bangga atas kinerja anak semata wayangnya. Sesekali beliau mengunjungi perusahaan yang kini sudah berada di bawah naungan Zayn. Zikhri Zaynendra.
"Rega, udah siap sayang?" tanya zee yang sudah berpakaian rapi. Weekend ini Zee mengajak Rega untuk jalan-jalan. Bermain di taman bermain, mampir di toko kuenya, dan makan siang di restoran.
"Udah, Mi." Rega berdiri dengan coolnya di ujung anak tangga.
Lora sudah mendapatkan pekerjaan. Dia melamar di sebuah butik. Lora memang memiliki dalam bidang itu. Semasa kuliahnya Lora juga mengambil jurusan desainer. Jadi, tidak sia-sia usaha dan kerja kerasnya.
Alif, adik Zee juga telah menjalani bisnisnya di bidang perbengkelan. Bengkel yang ia buka waktu lalu alhamdulillah sudah maju seiring berjalannya waktu.
"Yuk! Berangkat sekarang." Zee menggandeng tangan Rega.
Di dalam perjalanan terlihat wajah gembira Rega. Zee juga ikut bahagia melihatnya.
Tempat pertama yang mereka tuju adalah mall. Zee berniat berbelanja barang-barang kebutuhannya dan tidak lupa Rega. Hingga bagasi mobil Zee penuh dengan barang-barangnya. Lebih tepatnya mainan baru Rega. Zee berbelanja untuk kebutuhan keluarganya. Bunda, Ayah, sang adik, dan tak lupa Lora.
Selesai berbelanja Zee mengajak Rega masuk ke dalam salah satu wahana permainan yang ada di mall tersebut. Teriakan dan tertawa mendominasi wahana tersebut. Tidak lupa Zee mengabadikan momen tersebut.
Selesai dengan taman bermain Zee kembali menjalankan mobilnya dan berbelok ke salah satu restoran. Perutnya yang sudah keroncongan ditambah pemintaan Rega.
"Rega, mau pesan apa sayang?" tanya Zee lembut sembari mengelus pelan rambut Rega.
"Ini aja, Mi. Es krim boleh?" tanya Rega dengan wajah berbinar.
"Boleh kok." ucap Zee mengizinkan.
"Yeayyy."
Tidak lama makanan pesanan mereka sampai. Zee langsung melahap makanannya sesekali menyuapi Rega.
Setelah makan makanan penutup yaitu es krim, wajah Rega sudah kotor berlumuran coklat.
"Rega, kita bersih-bersih ya?" Rega hanya mengangguk menerima perintah Zee lalu menyeretnya masuk ke toilet.
Selesai membersihkan Rega, Zee kembali membawanya menuju meja tempat mereka tadi.
Pegangan tangannya di tangan Rega sudah terlepas. Rupanya balita tersebut sangat gebira seraya berlari-lari menuju meja mereka.
"Rega, jangan lari-lari, nak. Nanti jatuh!" peringat Zee. Tapi, terlambat. Rega tidak sengaja menabrak seorang pria. Beruntung tidak ada lecet di badan Rega. Tapi yang namanya insting jiwa keibuan membuat Zee panik. Zee berlari mendekati Rega yang tengah berdiri di hadapan pria tersebut. Pria tersebut berjongkok sambil menanyai Rega.
"Maaf, Mas. Anak saya tidak sengaja menabrak anda." Zee tersenyum geli saat dirinya tanpa sadar mengakui bahwa Rega adalah anaknya.
Pria tersebut berdiri kemudian membalikkan badannya.
Zee tercengang menatap pria di hadapannya itu.
Namun, Zee langsung merubah ekspresinya. Ia lalu ikut berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan badan Rega.
"Kamu gak pa-pa, sayang?" tanya Zee lembut sambil menatap khawatir Rega.
"Rega gak pa-pa kok, Mi. Maafin Rega udah nakal, Mi." Rega menatap mohon ke arah Zee.
Zee mengelus lembut kedua pipi Rega menggunakan tangannya, "Lain kali jangan diulangi lagi ya?" balas Zee sambil menoel pelan hidung kecil Rega.
"Iya, Mi. Rega janji gak nakal lagi." Zee yang gemas langsung menghujani ciuman di seluruh wajah Rega.
Zee mengabaikan seseorang tersebut yang rupanya mengikuti mereka.
"Kok pulang?"
Zee tidak menjawab. Entahlah tiba-tiba ia menjadi kesal mengingat seseorang tersebut yang menghilang tanpa kabar. Tapi, Zee punya hak apa untuk melarangnya pergi?
"Ini anak siapa?"
"Anakku."
Zayn terkekeh pelan.
"Sejak kapan kamu menikah dan sejak kapan pula kamu melahirkan?" Zee langsung melayangkan tatapan tajam ke arah Zayn.
Zayn yang ditatap seperti itu gelagapan, "Oke, oke."
"Langsung pulang? Gak mau jalan-jalan?" tawarnya.
"Nggak!"
Zayn berpikir keras agar Zee tidak langsung pulang.
"Hai ganteng." sapa Zayn pada Rega.
"Hai, Om. Maaf ya Om, tadi Rega gak sengaja nabrak Om." ujar Rega menikmati usapan lembut di kepalanya.
"Gak apa-apa kok. Lain kali jangan lari-lari di tempat ramai ya? Untung yang ditabrak bukan orang asing. Kalau orang asing nanti Rega diculik gimana?"
Rega menggelengkan kepalanya.
"Rega mau gak jalan-jalan? Atau Rega mau apa? Mobil-mobilan? Es krim?" mata Rega berbinar.
"Mau, Om."
"Izin dulu coba sama Tante itu." Zee melototkan matanya.
"Bukan Tante, Om. Itu Mami. Maminya Rega." jelas Rega.
"Oalah, Mami. Jadi, Rega boleh dong manggil Om dengan panggilan Papi?"
"Emang boleh, Om?" tanya Rega langsung mendapatkan izin dari Zayn.
"Yeayyy. Rega punya Papi. Rega juga punya Mama Papa." sahutnya gembira.
"Mami, Rega punya Papi." ucap Rega gembira.
Zee hanya tersenyum kaku.
"Sayang, kita pulang aja yuk! Nanti Nenek nyariin Rega lho?"
Rega hanya mengangguk.
"Jangan pulang dulu lah. Kasian Rega."
"Yang ngajaknya siapa?" Zee tersenyum sinis.
"Udah deh, kamu pulang aja. Sekaliam gak usah muncul di hadapanku."
Bukannya sakit hati mendengar usiran Zee, Zayn malah tersenyum.
"Kenapa? Ngambek gara-gara aku gak berkabar?" ujarnya cukup peka.