
Zee masih menatap kesal ke arah Vani dan Elsa. Vani yang ditatap seperti itu sedari tadi menjadi risih, "Zee, tatapannya biasa aja. Takut gue." cicit Vani pelan.
"Kalia..." belum sempat Zee melanjutkan kalimatnya, sudah ada guru yang memasuki kelas mereka.
"Assalamu'alaikum. Pagi, anak-anak." sapa Buk Yeni guru mata pelajaran Biologi saat memasuki kelas mereka.
"Wa'alaikumsalam. Pagi, Buk."
"Materi kita sampai dimana?" tanya Buk Yeni.
Semua murid di kelas mereka terdiam. Tidak ada satupun dari mereka yang menjawabnya. Mereka hanya malas untuk berbicara kalau sudah jam pelajaran. Entah itu pelajaran apapun.
"Materi bab dua, Buk."
"Kalau begitu, Ibuk ada tugas untuk kalian." ucap Buk Yeni.
"Tugas apa, Buk?" tanya Diwa.
"Ibuk belum selesai ngomong jangan di potong." tegur Buk Yeni.
"Hehe, maap Buk." balas Diwa nyengir yang di dapati sorakan oleh semua murid.
"Ini tugas kelompok. Jadi, yang mau milih kelompok ini Ibuk atau kalian yang milih sendiri anggotanya?"
Mereka pun menimbang-nimbang tawaran dari sang guru.
"Ibuk aja deh yang milihnya supaya adil, Buk. Biar nanti kami gak berdebat." jawab Andre.
"Oke, kalau gitu. Biar Ibuk yang milih anggotanya siapa-siapa aja."
"Jumlahnya ada 35 ya kan? Jadi, tiap-tiap kelompok beranggotakan 7 orang. Nanti setelah Ibuk sebutin anggota kelompoknya masing-masing baru Ibuk kasih tau apa tugasnya."
"Siap, Buk."
Setelah menyebutkan beberapa kelompok, akhirnya tinggal 2 kelompok yang belum di sebutkan. Zee terus berdo'a dengan mulutnya yang sudah berkomat-kamit. Ia berdo'a supaya tidak satu kelompok dengan Zayn. Tangan nya sudah dingin sedari tadi padahal matahari pagi sudah terik.
"Kelompok 4..."
"Andre, Elsa, Indah, Renzy, Vani, Zee,,,"
"Dan yang terakhir..."
'Ya Allah semoga aja nggak. Batin Zee seraya melihat ke atas seperti berdo'a.
"Zayn."
Zee meringis saat orang yang paling ia hindari sekarang malah satu kelompok dengannya.
"Jadi, sisa nama yang belum Ibuk sebutin berarti itu kelompok 5 ya."
"Iya, Buk."
Sang Guru pun menjelaskan apa tugasnya.
"Berarti minggu depan dikumpulkan ya? Siapa yang cepat ngumpulinnya atau gak besok kalau bisa. Nanti Ibuk kasih nilai plus plus."
"Oke, kalau begitu. Ini masih ada sisa waktu sekitar 25 menit. Silahkan kalian kerjakan latihan soal halaman 18. Nanti kalau bel sudah berbunyi, kalian sudah boleh keluar."
"Ibuk tinggal ya? Ibuk ada urusan sebentar." lanjut Buk Yeni seraya keluar dari dalam kelas.
"Iya, Buk."
"Ehhh, busetttttt. Banyak amattt njrrrr." ucap Leon si tukang ngeluh. Apa-apa ngeluh.
"Ibuk kalo ngasih tugas itu kayak lagi makan ayam geprek aja. Tinggal makan, tulangnya buang... Selesai!" celetuk Bobi si tukang makan. Badannya yang berisi tapi tidak terlalu gendut. Apa-apa teori pelajaran selalu di kaitkan dengan perihal makanan.
"Yakali besok? Yang bener aja." ucap Amar yang satu server dengan Leon. Belum di lihat saja sudah di bilang susah.
"Taulah. Ngantuk gue. Mending tidur aja." seru Ikhsan si tukang tidur. Dia suka tidur saat-saat jam pelajaran di mulai. Tidak segan-segan ia tidur saat guru menjelaskan materi. Alhasil guru tersebut memfoto dirinya dan mengirimkannya kepada Buk Yesi wali kelas mereka.
"Mabar, yok! By one ya?" ajak Aidil yang suka nge-game bahkan saat jam pelajaran berlangsung.
"Oke! Siapa takut." balas Andre si ketua kelas.
"Ehhh gaess. Foto kuy? Nih gue nemu filter cantik banget sumpah." ajak trio senglek yaitu Andin karena semalam dirinya yang baru saja menemukan filter Instagram yang keren.
"Wuihhhh mana-mana?"
"Sini lah!" berkumpullah trio senglek dalam satu meja itu.
"Lha, kan belum jam istirahat? Nanti di hukum gimana?" pikir Delon. Delon si Raja plin plan. Suka bimbang dalam memilih keputusan. Misal, hari ini iya, nanti sorenya tidak.
"Bodo amat. Gak usah dipikirin. Sikat aja. Gue traktir."
"Beneran mau traktir kita?"
"Bener lah. Tapi, satu gelas es teh ya, bagi-bagi lah."
"Etdahh. Ogahhh satu gelas bagi rame-rame. Pelit amat sih idup lo." ejek Randy.
"Yaelah untung-untung gue traktir lo pada."
"Nggak ahh."
"Aelahhh becanda bro. Yuk lah gue traktir beneran."
"Bener ya? Gak boong kan."
"Iya, enggak. Yaudah yok."
"Woyyyyy... Kalian mau kemana?" teriak Andre saat melihat Diwa, Delon, dan Randy yang mau melangkahkan kaki nya keluar kelas.
"Ke kantin bro. Kenapa? Mau ikut? Yoklah gue traktir."
Andre yang mendengar kata 'traktir langsung saja mengiyakan ajakan sahabatnya itu. Duh duhh Ketua Kelas nya gampang tergoda.
"Zayn." panggil Renzy dengan duduk di sebelahnya.
"Kenapa?" tanya Zayn tetapi masih fokus ke arah soal-soal Biologi yang tertera di buku lks nya.
"Tatap gue dulu napa."
"Ishhhh ogah natap lo. Gue masih lurus ya nggak belok." balas Zayn.
"Bukan gitu maksud gue bambang. Maksud gue tuh, kalo ngomong itu liat lawan bicaranya. Gak sopan banget kayak gitu!" Zayn tersenyum tipis saat mendengar penuturan dari Renzy. 'Tumben banget ini anak ngomongnya bener? Batin Zayn.
"Ck! Yaudah apa?" tanya Zayn yang sudah merubah posisi nya menjadi duduk menyamping untuk melihat Renzy.
"Kapan ngerjain tugas kelompok ini?" Zayn semakin di buat heran. Tumben banget ini anak membahas tentang tugas. Biasanya yang ia bahas hanyalah game, game dan game.
"Emmm... Kapan ya? Tanya anak-anak yang lain deh. Biar gampang kita diskusinya dan di rumah siapa?"
"Oke, deh. Ntar gue tanya ke mereka."
"Van."
"Hmmm?" balas Vani berdehem tapi masih fokus menulis jawaban di buku tulisnya.
"Ntar. Dikit lagi nih kelar." ucap Vani yang seakan mengerti keadaan.
"Selesai. Kenapa?" Vani merubah posisinya menjadi duduk menyamping ke sebelah kanan.
"Ngerjainnya kapan?"
"Terserah. Gue mah bisa aja."
'Terserah. Jawaban para wanita ketika di tanya. Itu yang membuat para pria bingung di buat nya oleh pemikiran wanita. 'Intinya susah ditebak. Pikir Renzy.
"Kalo lo, Zee?" Zee yang tengah fokus ke soal jadi tersentak kaget.
"Kapan ngerjain tugas kelompok tadi?" tanya ulang Vani.
"Terserah, deh."
Zayn tersenyum simpul mendengar jawaban dari para wanita yang menjawab 'terserah. Seperti tidak ada kalimat lain yang bisa di ucapkannya.
"Terserah." cibik Elsa yang berada di depan menuruti gaya bicara Zee dan Vani. Seketika ia mendapat timpukan buku di bahu nya.
"Heh, suka banget mukul orang. Gue laporin ke KUA baru tau rasa lo." balas Elsa seraya berbalik.
"Trus, kenapa bisa singgah ke KUA?"
"Biar lo pada di nikahin. Capek gue jadi sasaran amukan kalian. Nanti kalo kalian udah pada nikah kan terserah tuh mau ngapain laki kalian. Mau pukul kek, cubit kek. Terserah deh."
"Hadehhhh. Masih bocil woyyy, yakali ngomongin nikah-nikahan. Capek juga gue. Gak di rumah, gak di sekolah. Omongannya pada nikah mulu." balas Zee kesal.
"Fix ya. Kalian bilang terserah. Berarti ngerjainnya nanti sore di rumah Zayn." seru Renzy tanpa bantahan.