
"Z-Zayn, a-aku..." ucap Tania.
"Bicaralah, Tania. Aku rasa ini waktu yang tepat untuk kita membicarakan hal ini."
"Berdamailah, Tania. Buanglah rasa obsesimu itu. Bukan hanya aku laki-laki yang ada di muka bumi ini. Aku hanyalah manusia biasa yang di ciptakan oleh sang Mahakuasa yang memiliki banyak kekurangan."
"Aku minta maaf kalau sudah menoreh luka di hatimu. Jujur, tidak ada niatan sedikitpun aku untuk melakukan itu. Aku hanya ingin, aku hanya ingin kamu menyadari semua ini sebelum terlambat. Jangan kamu tutup mata hati kamu, Tania. Kita masih bisa menjadi teman."
Tampak Tania menitikkan air matanya. Ia terharu. Ternyata masih ada yang mengerti perasaannya. Ia juga menyadari perbuatannya selama ini salah.
"M-maaf, Zayn. Aku minta maaf."
Hanya kalimat itu yang terucap dari bibir Tania.
"Tapi, apa bisa kita menjadi teman?" Tania mendongkakkan kepalanya.
"Tentu saja." dengan senang hati Zayn menerima tawaran Tania.
"Makasih, Zayn. Apa boleh aku meluk kamu untuk terakhir kalinya?"
Zayn tampak tidak enak hati untuk menolak itu. Ia pun menganggukkan kepalanya.
Greppp
Tangisan haru Tania pecah. Ia tidak menyangka hal ini bisa berakhir. Ia harus ikhlas. Harus!
Setelah di rasanya cukup puas, akhinya Tania melepaskan pelukannya.
Zayn menyodorkan sapu tangan dari saku celananya, "Nihhh... Hapus dulu. Jelek banget kalo lagi mewek gitu." terdengar kekehan Tania.
Tania mengambil sapu tangan yang Zayn berikan kepadanya.
"Udah puas? Ini terakhir kalinya ya kamu meluk-meluk saya." ucap Zayn formal.
"Nyebelin banget kamu, Zayn. Tapi, makasih. Makasih udah nyadarin aku."
"Iya, sama-sama. Lain kali kalau ada masalah apa-apa boleh cerita ke aku. In sya Allah aku bakal jadi pendengar yang setia." balas Zayn.
Mereka pun duduk di sofa ruang kerja Zayn.
"Jadi, gimana? Udah dapat kabar dari dia?" tanya Tania. Memang selama ini ia sudah mengetahui perasaan Zayn terhadap Zee. Sering Zayn keceplosan memanggil dirinya dengan sebutan nama Zee.
Zayn menggelengkan kepalanya pertanda tidak.
"Ehh, iya. Aku denger-denger sekolah bakal ngadain reunian Akbar."
Terlihat Zayn mengingat hal itu, "Ahh iya, hampir aja lupa." ucapnya.
"Parah sih! Ketosnya lupa. Maklum lah ya udah tuir." ejek Tania. Tampak Zayn tidak terima dengan penuturan sahabat sekaligus mantan kekasihnya itu.
"Maklum. Nohh, banyak kerjaan." kilah Zayn.
"Alasan pakai kerjaan segala. Belum juga nanti jadi pemimpin beneran. Bilang aja sibuk mikirin Zee." sindir Tania.
"Gak boleh su'udzon gitu."
Sejenak mereka melupakan kejadian yang barusan terjadi.
Tok toktok
"Masuk!"
"Maaf, Pak. Ada Tuan di luar." jawab sekretaris Zayn.
"Kalau begitu suruh masuk aja." Sekretrisnya pun berlalu keluar dari ruangan Zayn.
Tania hanya tersenyum canggung, "Hai, Om." sapanya.
"Kalian ngapain?" tatap Papa Mahendra.
"Gak ngapa-ngapain kok, Pa. Barusan ngelarin masalah." jelas Zayn.
"Tania?"
"iya, Om. Bener kok apa yang di bilang Zayn. Kita hanya nyelesain masalah kok."
"Yasudah. Om percaya." jawab Papa Mahendra.
"Aku mau jelasin, Om. Aku sama Zayn udah damai kok. Jadi, Om gak perlu khawatir. Aku janji bakal berubah kok, Om." tampak Papa Mahendra menimbang-nimbang apa yang di bicarakan mantan kekasih anaknya itu. Orang tua Zayn juga sudah mengetahui hubungan keduanya dari mulai Zayn yang memutuskan Tania gara-gara Tania berselingkuh dan Tania yang mengejar-ngejar Zayn sampai sekarang.
"Syukurlah. Om khawatir kejadiannya nanti akan berlanjut dan berdampak buruk." balas Papa Mahendra.
"Papa sampai lupa, Zayn. Nanti malam jangan lupa ya."
"Iya, Pa. Zayn gak akan lupa kok."
...***...
Sore sekitar jam lima sore Alif baru pulang ke rumah. Ia harus mengurusi soal pemindahan bengkelnya. Memang cukup memelahkan dan menguras tenaganya. Ia harus mencari tempat yang strategis. Belum lagi tadi ia tidak sengaja bertemu dengan salah satu sahabat semasa SMK nya. Jadi, mereka mengobrol cukup lama.
Alif memutuskan untuk membersihkan dirinya sat merasa tubuhnya berkeringat. Setelah selesai Alif mencoba untuk melihat ponselnya. Saat baru saja membukanya terlihat banyak panggilan masuk dari nomor sang Kakak. Ia pun menelfon balik nomor sang Kakak. Mungkin ada perihal penting yang ingin Zee sampaikan.
Tuttt tuttt
Panggilan pertama tidak di angkat. Alif pun mencoba sekali lagi.
Tuttt
ππ²"Assalamu'alaikum, Kak."
ππ²"Wa'alaikumsalam. Ada apa, Lif?" tanya Zee di seberang sana.
ππ²"Kakak tadi nelfon aku ya? Maaf, tadi aku lagi di lokasi."
ππ²"Iya, gak pa-pa kok. Itu tadi Rega kangen sama kamu."
ππ²"Soal Rega sampein maafku ya, Kak. Soalnya aku sibuk banget ngurusin pindahan bengkel. Harus nyari tempat yang cocok dulu." jelas Alif.
ππ²"Iya, gak pa-pa kok. Kamu tenang aja. Yang penting jaga kesehatan. Titip salam juga sama Bunda, Ayah."
ππ²"Makasih ya, Kak. Nanti pasti aku sampein kok. Ohh iya. Nanti kalau mau nelfon nanti aja ya, Kak."
ππ²"Kamu istirahat aja dulu."
ππ²"Kakak lagi di toko?" tanya Alif saat melihat di sekitaran belakang Kakaknya.
ππ²"Iya, Kakak lagi di toko. Rega di rumah sama Mamanya." jawab Zee.
ππ²"Sekalian sampaikan salamku juga ya, Kak."
ππ²"Bilang sendiri lah. Wlekkk... Orang kalau kangen itu bilang." ejek Zee.
ππ²"Hmmm... Aku tutup ya, Kak. Assalamu'alaikum."
ππ²"Wa'alaikumsalam."
Alif hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Kakaknya. Mana mungkin ia selancang itu? Mungkin benar apa yang di bilang Lora waktu lalu. Ia bocah! Ia kecewa. Sangat kecewa dengan tanggapan Lora. Tapi, Alif juga sadar diri ia siapa. Biarlah berjalan dengan arus air yang tenang. Apabila arusnya kuat? Kita harus melakukan suatu tindakan agar tidak terombang ambing terbawa arus yang deras.