
Malamnya Zee harus terpaksa menemani sang adik. Kalau tidak didesak dan dipaksa mana mau Zee menemaninya.
Saat ini mereka sudah dalam perjalanan pulang ke rumah.
"Kak."
"Hmm..."
Alif memberhentikan mobilnya di salah satu restoran. Hal itu mengundang banyak pertanyaan di benak Zee.
Alif menyodorkan sehelai kain berwarna hitam yang semakin membuat Zee bingung.
"Pakai, Kak."
"Buat apaan?" tampak Zee menolaknya.
"Pakai aja."
"Gak! Gak mau!" tolaknya.
"Kakak jangan bandel. Sini aku pasangin!" Alif memasang kain hitam dan mengikatnya di belakang kepala Zee. Pandangannya menggelap karena tertutupi kain itu.
"Jangan dilepas. Awas aja!" ancam Alif.
"Idih! Adik durjanah." umpat Zee yang membuat Alif terkekeh.
Alif membantu sang Kakak untuk keluar dari mobil. Menggiring Zee masuk ke dalam restoran itu.
Pegangan di tangan Zee terlepas saat sudah berada di dalam.
"Lif...Alif." panggilnya berkali-kali tapi tidak ada suara sahutan dari Alif.
"Bocah nakal! Awas aja kamu!" dengan hati-hati Zee membuka kain yang menutupi pandangannya itu.
Zee menajamkan penglihatannya. Gelap.
Apakah kainnya masih menyangkut di bola mata Zee? Tidak mungkin!
Tak
Lampu seketika menyala. Menyoroti panggung di depannya. Hanya lampu itu yang menyala. Sebagiannya padam.
Memperlihatkan seorang pria yang tengah duduk di kursi membelakanginya.
Perlahan kursi itu berbalik dan...
Zee terkejut kemudian menggelengkan kepalanya.
Zayn, pria yang duduk di kursi tersebut. Dia bangkit dan berjalan pelan ke arah Zee yang terlihat mematung.
Zee celingak-celinguk melihat sekitarnya. Namun, tidak ada apa-apa yang terlihat. Semuanya gelap.
Sesaat kemudian Zee tersadar bahwa pria tersebut sudah berada tepat di depannya. Wajahnya langsung menegang. Takut-takut mereka hanya berdua di sini.
"Good night, sweety."
'*Oh God
Apa-apaan*!
Zee sudah bersiap-siap melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu. Tapi, tangannya dicekal.
"Hei, tenang. Mau kemana hem?" Zee bergidik mendengar lontaran kata yang tak biasa.
"A-aku-"
Sekuat tenaga Zayn menahan tawanya agar tidak terlepas.
Tidak banyak kata, Zayn menarik pelan tangan Zee menuju panggung. Dan Zee, hanya pasrah. Tepatnya masij dalam keadaan syok hingga ia tidak sadar dimana dia berada sekarang.
Tangan Zayn tampak mengambil sesuatu dafi balik jasnya. Sebuah kotak berwarna merah.
"Zee, will you marry me?"
"Haa???"
Tiba-tiba Zee kehilangan sebagian otaknya.
Zee menatap pria yang masih betah dengan posisinya.
"Waktu terus berjalan, Zee. Kau tau...malam ini aku nekat melakukan ini semua. Karena apa?...karena kaulah pemilik hati ini."
"Aku tidak bisa menahan itu semua. Aku bukan pria sempurna, dan bukan pria yang baik. Tapi, apa boleh aku mengungkapkan isi hatiku ini?"
Zee hanya memandangnya tanpa menjawab sepatah kata pun.
"Ingin memilikimu rasanya seperti sebuah mimpi. Seperti ingin mendapatkan bintang-bintang di langit malam. Berjauhan denganmu rasanya tidak kuat, Zee. Intinya hati ini telah berlabuh sepenuhnya denganmu, Zeyasha Alkhaira Farkhandah."
"Melihatmu terbaring tak berdaya membuat hatiku sakit. Merawatmu hingga sembuh membuat semangatku bangkit. Melihatmu tertawa adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagiku. Terpisah oleh jarak dan dipertemukan oleh takdir. Bukankah itu semua rencana Allah yang sangat indah?"
"Izinkan aku untuk mempersuntingmu malam ini. Izinkan aku untuk menjadi pria yang mengisi kekosongan hatimu. Izinkan pria ini menjadi teman hidupmu."
"Sekali lagi. Will you marry me?" Zayn mendongak seraya menyodorkan sebuah cincin yang sangat indah.
Zee hanya terdiam membisu. Dirinya seakan tidak percaya.
Apakah secepat ini?
Tidak mendapatkan jawaban akhirnya Zayn bangkit dan berdiri mensejajarkan badannya dengan Zee.
"A-aku-"
"Kenapa? Ada yang salah?"
"Apa aku membuatmu tidak nyaman dengan perlakuanku ini, Zee?"
"Maaf kalau sudah lancang berbicara seperti itu. Aku hanya ingin menyampaikan maksud dan tujuanku. Hanya itu."
"Kau juga tidak perlu menjawab dengan terpaksa. Yes or no? Hanya itu jawaban yang inginku dengar. Tapi, aku sarankan kau menjawab Yes." ucap Zayn tergelitik dengan kalimatnya sendiri.
"A-ku...aku..."
Lidah Zee kelu untuk mengucapkan sebuah kalimat.
Melihat keterdiaman Zee dan juga kegelisahannya membuat Zayn menghela nafas. Apakah dia sia-sia?
Zayn kembali berlutut di hadapan Zee. Raut wajahnya terlihat sedih.
"Apa hatimu sudah ada nama pria lain?" gumam Zayn lirih sambil menunduk. Tiba-tiba rasa percaya dirinya melebur.
"Maaf sudah lancang dengan sikapku ini, Zee. Rasanya percaya diriku luntur."
Akhirnya Zee memutuskan untuk bersuara saat telah berhasil menormalkan detak jantungnya yang berirama.
"Maaf, Zayn."
Zayn kembali menundukkan kelapanya. Air matanya tiba-tiba menggenang. Apakah itu sebuah penolakan?
#bersambung
Maaf semuanya kalau cerita ini membosankan 🙏
Rasanya percaya diriku ikut melebur 🤣
Oh iya. Satu atau dua bab lagi ceritanya akan berakhir. Maafkeun otor abal-abal ini yang belum bisa membuat cerita keren dan menarik. 😁