Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 23. Berdamai



"Papa."


Berulang kali nama itu terus di sebutkan oleh balita umur empat tahun itu.


"Kenapa, sayang?" tanya Zee sambil mengelus pucuk kepala Rega.


"Papa, Mi."


"Papa kan gak ada di sini, sayang." balas Zee.


"Ndak mau. Rega mau Papa. Huwaaa." begitulah hari-hari yang di lewati Rega. Menyebut-nyebut nama Alif bahkan sampai mengigau. Sudah satu minggu ia tidak mendapati kabar dari Alif. Rasa rindunya membuncah kala mengingat hari-hari yang biasa ia lalui dengan Alif. Bahkan Lora sampai mengundurkan dirinya dari pekerjaannya untuk mengurus Rega. Lora bekerja hanya di waktu pagi dan pulangnya siang sekitaran jam dua.


Dan Zee. Wanita itu juga bahkan lebih sibuk mengurus toko kuenya dikarenakan toko kuenya mengalami perkembangan yang pesat. Setiap hari Zee memantau tokonya dengan Rega yang selalu ia bawa. Beruntung balita itu tidak rewel. Hanya saja ketika mengingat Alif, Rega akan menangis tiba-tiba.


"Sabar ya, sayang. Papa pasti pulang ke sini kok. Gak mungkin Papa gak pulang." dengan telaten Zee memenangkan balita yang sudah ia anggap anaknya sendiri.


"Rega mau Papa." rengeknya.


"Yaudah. Biar Mami telfon Papa ya." Rega pun mengangguk.


Zee pun mengambil ponselnya yang berada di dalam kamarnya.


Terlihat Zee mengotak atik ponselnya untuk mencari kontak adiknya.


Panggilan pertama tidak di angkat. Panggilan kedua juga sama. Padahal panggilannya tersambung. Mungkin Alif sedang sibuk di sana. Pikir Zee.


"Gak di angkat sama Papa. Mungkin Papa lagi sibuk." ucap Zee yang masih berusaha menghubungi Alif.


"Nanti malam aja ya sama Mama." bujuk Zee.


"Kata Papa harus nurut lho sama Mami Mama. Jangan bandel ya, sayang." ucap Zee ketika melihat jaut wajah Rega yang hampir menangis. Bocah empat tahun itu pun hanya mengangguk pasrah.


"Nahh, pinter anak Mami." Zee mengusap kepala Rega.


"Rega, yuk mandi. Udah hampir siang nih." Zee mengangkat Rega untuk ia gendong dan menuju kamarnya. Selama Lora bekerja, Zee akan membawa Rega ke kamarnya entah itu tidur atau mandi. Saat ada Lora, Rega akan bersama Mamanya.


...***...


Terlihat seorang pria yang tengah duduk di kursi kebesarannya sambil membolak-balikkan berkas-berkas yang ia periksa.


"Zayn."


Terlihat juga seorang Satpam yang berlari terengah-engah mengejarnya, "Maaf, Pak. Nona Tania memaksa masuk. Padahal sudah saya cegat tadi." ucap Satpam tersebut meminta maaf.


Pria tersebut langsung mengangkat kepalanya.


"Kenapa lagi, Tania?"


Ya, yang duduk di kursi kebesarannya adalah Zayn. Zayn adalah pewaris satu-satunya perusahaan MH Company. Sayangnya Zayn belum menyetujui saat sang Papa mau mengalihkan semua saham atas namanya. Jadi, saat ini Zayn hanya menggantikan kedudukan sang Papa untuk sementara waktu. Nanti ada saatnya ia akan benar-benar memegang kuasa tersebut. Hanya menunggu kesiapan dan kesanggupan Zayn untuk mengurus semua itu.


"Zayn, kamu kok tega sih sama aku. Aku salah apa coba?" Zayn mengkode agar Satpam meninggalkan tempatnya. Satpam tersebut mengangguk dan pamit undur diri.


Zayn tidak memperdulikan keberadaan Tania. Ia kembali fokus kepada berkas-berkas yang ada di tangannya. Tidak lupa kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.


"Zayn! Aku ada di sini lho. Kok kamu jadi cuek gini sih?" ucap Tania kekeh.


"Cuek? Aku salah apa?" balas Zayn dengan nada yang terkesan menyindir.


Memang Zayn akui selama ini ia lah yang selalu mendiamkan Tania. Tidak mudah baginya untuk menerima seseorang yang tidak ia cintai.


Sudah tiga tahun Tania yang selalu mengejar-ngejar dirinya saat dua tahun yang lalu Zayn memutuskan hubungan mereka. Zayn memergoki Tania yang berselingkuh. Zayn diam. Ia menunggu waktu yang tepat.


Saat kepergian Zee, selama ini Zayn bersikap acuh. Bahkan ia sudah lupa bagaimana caranya tersenyum ramah saat saat dulu yang ia lakukan setiap waktu.


Zayn menyadari hatinya telah terpaut kepada Zee. Tidak mudah baginya untuk menemukan keberadaan Zee. Bahkan para sahabatnya saja tidak mengetahui keberadaan Zee.


"Maaf, Zayn. Jika kamu enggak cuekin aku selama ini. Aku gak bakal duain kamu." kilah Tania sambil menundukkan kepalanya.


CK!


Zayn hanya berdecak, "Intinya hubungan kita udah berakhir jauh. Aku rasa kita gak cocok. Tolong lah, Tania. Mari, kita berdamai dengan keadaan yang sekarang. Oke, aku cinta maaf kalau selama ini aku selalui nyuekin kamu. Selama ini juga aku bahkan tidak pernah menaruh rasa cinta sedikit di hatimu. Rasa sayang yang aku tunjukin itu murni sebagai rasa sayang terhadap saudara. Kalau kamu menanggapi itu sebagai rasa cinta... Maaf, aku gak bisa. Aku rasa keputusanku ini udah tepat untuk menegaskan hubungan kita. Berdamailah, Tania. Aku rasa kamu juga ngerasain apa yang aku rasain. Carilah! Carilah seseorang yang bisa mencintai kamu dengan tulus. Carilah seseorang yang bisa kamu cintai juga. Aku rasa kamu udah ngerti tanpa aku jelaskan secara rinci."


Tampak Tania yang sedang mencerna setiap ucapan yang Zayn ucapkan itu. Ia nampak menimbang-nimbang. Memang benar. Selama ini ia hanya terobsesi terhadap Zayn. Bahkan ia telah menghancurkan hati seseorang yang telah lama sabar menantinya.


Memang tidak mudah untuk seseorang menghilangkan rasa egoisnya. Apalagi rasa gengsinya. Intinya kita harus melawan rasa itu semua. Ubahlah! Ubahlah seiring berjalannya waktu. Bukan waktu yang menentukan akan hal itu. Itu lah yang berlaku kepada Zayn. Ia mengaku bahwa ia sangat gengsi. Akibat gengsinya itu ia telah kehilangan seseorang yang sangat berarti untuknya selama ini. Ia juga mengaku. Bahwa ketegasan itu perlu. Ia harus menjadi orang yang tegas. Ia harus merubah sikapnya yang salah selama ini.


Zayn rasa inilah waktu yang sangat tepat untuk berkomunikasi secara baik dengan Tania. Ia harus menyadarkan Tania bahwa bukan hanya dirinya lah pria yang ada di muka bumi ini. Jangan sampai Tania menutup mata hatinya akan hal itu.