Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 29. Seseorang yang misterius



Bagaikan di sambar petir di siang bolong saat Ayah Zaki yang menelfon dirinya mengatakan bahwa sang Bunda tiba-tiba jatuh pingsan dan sekarang berada di rumah sakit.


Zee menangis sesegukan di kamarnya sambil memasukkan pakaiannya ke dalam tas ransel.


Dengan cepat Zee menghapus air mata yang membanjiri pipinya saat melihat Rega, Alif, dan Lora masuk ke dalam kamarnya.


"Mami." ujar balita tersebut sambil meminta untuk di naikkan ke atas kasur Zee.


Dengan sigap Lora langsung mengangkat tubuh mungil anaknya dan mendudukkannya di atas kasur.


"Kenapa, sayang?" tanya Zee dengan Rega yang bergelayut manja di punggungnya.


"Mami nangis?" tanya Rega dengan polosnya.


"Mami gak nangis kok. Tadi kena debu pas Mami ambil baju di lemari." kilah Zee.


"Sini, Rega tiup." si kecil Rega langsung meniup mata Zee secara bergantian.


"Udah, Mi?"


"Udah kok. Nih mata Mami gak sakit lagi." balas Zee sambil mencuri satu kecupan di pipi Rega.


"Kakak hati-hati ya nanti di sana. Aku gak bisa nemenin. Soalnya kan udah mulai kuliah. Lagi bikin skripsi juga." ujar Alif.


"Kamu tenang aja, Lif. Kamu fokus aja sama kuliah kamu."


"Kakak nitip Rega sama Mamanya. Jagain mereka." ucap Zee.


"Iya, Kak. Tenang aja. Mereka aman kok."


...***...


Blammm


Zee menutup kuat pintu mobilnya saat ia selesai memarkirkan mobilnya. Ia berlari pelan menyusuri koridor rumah sakit.


Zee menghentikan langkahnya saat melihat salah satu Suster yang baru saja keluar dari salah satu ruangan.


"Permisi, Sus. Saya mau tanya. Ruang xxx dimana ya, Sus?" tanya Zee.


"Mbak lurus aja. Nanti belok ke sebelah kanan. Terus nanti belok lagi ke sebelah kanan." jawab Suster tersebut.


"Makasih ya, Sus."


Setelah perjuangannya untuk mencari ruangan dimana sang Bunda di rawat akhirnya Zee menemukannya.


"Assalamu'alaikum." seru Zee seraya membuka pintu ruangan tersebut.


Zee celingak-celinguk. Ia tidak menemukan keberadaan sang Ayah.


Perlahan Zee mendekati ranjang pasien dimana sang Bunda tengah tertidur.


Khawatir, sedih. Tentu saja.


Lama Zee memandangi wajah sang Bunda, tiba-tiba ia di kejutkan oleh pintu yang terbuka.


"Ayah." Zee bangkit mendekati sang Ayah dan langsung memeluk Ayah Zaki.


"Kok kamu ke sini sih, Nak? Harusnya gak perlu repot-repot. Perjalanannya jauh. Kamu capek, Nak." ujar Ayah Zaki sambil mengelus kepala Zee.


"Zee gak repot, Yah. Maafin Zee." Zee menangis sesegukan. Alhasil baju Ayah Zaki menjadi basah akibat air matanya.


"Kenapa minta maaf, hmm?" Ayah Zaki mengendurkan pelukannya dan mengecup sayang kening Zee.


"Zee minta maaf, Yah. Zee minta maaf kalau selama ini Zee banyak salah sama Ayah Bunda." ujar Zee masih dengan tangisnya.


"A-ayah s..sama Bunda udah ma..afin kamu sebelum kamu m..inta maaf, Nak."


"Bunda."


Lekas Zee mem-posisikan dirinya di samping ranjang Bunda Weni.


"Bunda. Mana yang sakit?"


Tanya Zee dengan nada khawatir.


"Enggak ada. Bunda hanya rindu sama anak Bunda yang cantik ini."


Bunda Weni membelai wajah Zee dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya yang sudah tertancap infus.


"Maafin Zee, Bunda." lirih Zee sambil memegang tangan sang Bunda.


"Kamu udah makan, Nak?"


Zee menggelengkan kepalanya. Seingatnya ia makan hanya pas waktu di penerbangan. Dan itu hanya makanan yang sudah di sediakan di sana. Sampai di rumah Zee juga bahkan tidak makan apapun. Ia hanya mandi. Hanya mandi dan langsung menemui Bundanya.


"Makan dulu gih. Kamu juga harus jaga kesehatan, Nak. Bagaimana mau jagain Bunda kalau kamu nanti gak fit?"


Benar apa yang di ucapkan sang Bunda. Ia tidak boleh sampai jatuh sakit. Tidak boleh!


"Ya sudah. Zee ke kantin dulu."


Zee pamit kepada orang tuanya untuk pergi ke kantin rumah sakt yang ada di sana. Setidaknya ia harus mengganjal perutnya meski itu hanya sepotong roti.


Sesampainya di kantin rumah sakit, Zee langsung memesan makanannya. Ia terlihat lapar. Sampai-sampai ia tidak menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikan dirinya dengan ekspresi kaget. Kaget? Tentu saja.


Alhamdulillah


Ucap syukur Zee di dalam hatinya saat ia telah menghabiskan seporsi lontong sayur.


Zee mengambil dompetnya di dalam tas. Ia mengeluarkan uang berwarna hijau itu dan berniat membayar makanannya.


"Buk, semuanya berapa?" tanya Zee.


"Maaf, Neng. Makanannya udah di bayar." ujar pemilik kantin tersebut.


Zee mengernyitkan dahinya bingung. Siapa orang yang berbaik hati untuk membayarkan makanannya itu?


"Totalnya berapa, Buk?"


Tanya Zee sekali lagi.


"Makanan sama minumannya ya. Totalnya semua lima belas ribu, Neng." jawabnya.


"Kalau boleh tau siapa ya yang bayarin makanan saya, Buk?"


"Aduhhh. Saya juga gak tau itu, Neng. Intinya yang bayarin makanan Eneng itu cowok. Ganteng, putih, hidungnya mancung. Saya kurang tau detailnya. Soalnya saya juga baru buka kantin di sini." jelasnya.


Merasa kurang puas dengan jawaban sang pemilik kantin, Zee langsung meninggalkan tempat itu.


Sepanjang perjalanan pikirannya masih memikirkan hal itu. Sampai-sampai Zee hampir menabrak orang-orang yang berlalu lalang termasuk para pekerja rumah sakit.


Siapa?


Batinnya terus bertanya-tanya.


...🐢🐢🐢...


......................


Siapa yah 🤔🤔🤔