Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 39. Belajar



"Ini, Bu." ujar Mona sambil membawa kue yang telah di tata rapi di dalam kotaknya.


Dengan kaku Zee mengambilnya lalu ia letakkan di atas meja. "Silahkan di makan."


"Terima kasih, Nona." ucap Roni.


"Tuan, mau?" tanya Roni menawarkan kue tersebut.


"Kamu aja, Ron." tolaknya dengan tatapan yang lekat menatap Zee.


"Ah, baiklah, Tuan." Roni pun kembali memakan kue yang telah Zee berikan tadi.


"Enak sekali, Nona." pujinya.


"Makasih, atas pujiannya, Roni."


"Iya, Nona."


Zee yang di tatap seperti itu sedari tadi menjadi risih.


"T...tuan, kenapa anda tidak makan kuenya?" tanya Zee berusaha mengalihkan tatapan pria itu.


"Saya sudah kenyang, Nona."


"B...baiklah."


"Sepertinya saya pamit ke toilet dulu, Tuan, Roni." pamit Zee berlalu begitu saja.


Lebih baik Zee pergi daripada ia di tatapan seperti itu terus menerus.


Sebelum Zee berlalu, ia terlebih dahulu meminta Mona untuk menemani tamunya tersebut.


"Tuan, mau kemana?" tanya Roni saat melihat sang bos bangkit dari duduknya.


"Haishh...aku mau ke toilet dulu, Ron. Kamu di sini saja lah."


"Ahh, baiklah, Tuan. Saya akan menunggu di sini sambil makan ini." ucap Roni sambil mengunjukkan kue di tangannya.


"Ekhemm...maaf, Tuan. Ada perlu apa di sini. Atau anda perlu bantuan?" tanya salah satu karyawan Zee yang kebetulan lewat saat melihatnya berdiri bersandar di dinding sambil sebelah tangannya yang ia masukkan di saku celananya.


"Tidak ada. Saya hanya menunggu seseorang." Karyawan tersebut akhirnya mengalah dan memutuskan untuk pergi.


Suasana toilet tersebut sangat sepi. Hanya suara gemercik air di dalamnya saat Zee membasuh tangannya di wastafel.


Ceklek


Pintu toilet terbuka menampakkan Zee yang baru saja selesai dengan aktivitasnya sambil sesekali ia membenahi penampilannya. Ia tidak menyadari bahwa bukan hanya dirinya saja di toilet tersebut. Melainkan ada seorang pria yang tengah asik bersandar di dinding.


"Sudah?" Zee terkaget saat mendengar suara bariton yang berasal dari pria tersebut.


Hufttt!


"Kenapa ngikut?" ketus Zee.


"Siapa yang ngikutin hmm? Orang aku juga baru selesai dari toilet." kilahnya. Seketika Zee merasa salah tingkah. Benar juga apa yang di bilangnya.


Zee berlalu begitu saja. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan tangannya sudah di cekal oleh genggaman pria tersebut.


"Kenapa sih?!" ucap Zee.


"Gak kenapa-kenapa kok."


"Ya udah, lepasin!" pinta Zee. Tapi, pria tersebut menggelengkan kepalanya.


"Jangan marah-marah nanti lekas tua." candanya. Tangannya terulur untuk membelai rambut panjang Zee. Namun, segera Zee menepisnya. Ia heran apakah makhluk yang ini kurang obat atau ada gangguan kejiwaan yang tidak ia ketahui? Ahh, entahlah.


"Yang tua aku, yang sewot kok kamu?"


"Jelas dong. Kalau kamu menua bersama orang lain ya aku pasti protes. Kalau kamu menua bersamaku?"


"Stop! Gak usah di lanjutin. Lepasin! Aku mau balik. Nanti Roni lama menunggu."


"Oh, ya? Jadi, kamu naksir sama sekretarisku? Aku saranin jangan deh. Dengar-dengar Roni itu penyuka sesama jenis." bisiknya. Seketika Zee dibuat merinding.


Sementara di tempat Roni. Ia yang tengah asik-asiknya memakan kue tiba-tiba tersedak.


"Kata orang dulu kalau keselek tiba-tiba berarti ada yang ngomongin. Siapa sih manusia lak nat itu?" Batinnya sambil menerima segelas air putih yang Mona berikan untuknya.


"Kenapa? Gak percaya?"


Tampak Zee menggelengkan kepalanya. Masa pria setampan itu penyuka sesama jenis. Udah tampan, mapan. Kurang apa lagi coba?


"Yahh, sayang banget."


"Udah deh, jangan nuduh orang sembarangan!" ucap Zee.


"Gak nuduh kok. Kelihatannya aja gitu. Secara Roni tuh gak pernah dekat sama perempuan. Yang ada di otaknya tuh cuma kerja, kerja, kerja."


"Kalau Roni gitu trus kamu apa?" todong Zee.


"Suka mainin perempuan?"


"Mana mungkin aku seperti itu." kilahnya.


"Tuh gimana rasanya di tuduh? Gak enak kan. Makanya jangan asal ngambil kesimpulan kalau enggak mau di tuduh juga."


"Iya, enggak lagi deh."


"Lepasin!" pinta Zee sekali lagi.


"Apanya yang di lepasin?" tanyanya.


Seketika Zee menyorot tangannya yang sudah terbebas dari genggaman pria itu. Zee malu. Sangat malu.


"Nggak." ujar Zee sambil tertunduk kemudian ia berbalik.


"Eitss...mau kemana hm?" tanyanya sambil mencekal tangan Zee kedua kalinya.


"Mau balik." jawab Zee masih tertunduk.


"Kenapa nunduk?" ujarnya sambil mencondongkan sedikit tubuhnya.


"Nggak pa-pa. Lepasin ih!"


"Malu ya?" tebaknya.


"Lepasin! Nanti ada yang masuk." ucap Zee pelan. Takut-takut nanti karyawannya masuk ke dalam toilet juga.


"Gak ada yang berani masuk ke sini."


"Plis, lepasin, Zayn." pinta Zee yang sudah lelah.


"Jangan nangis."


"Siapa yang nangis coba?"


"Kamu lah. Siapa lagi emang? Di sini tuh cuma kita berdua." Zee bergidik. Ia sadar bahwa mereka berdua yang berada di situ.


"Makanya cepetan keluar. Gak baik laki-laki sama perempuan cuma berdua."


"Ya udah, yuk keluar." ucap Zayn berjalan keluar sambil mengenggam tangan Zee.


"Ini lepasin dulu. Takut orang salah paham."


Zayn mengalah, akhirnya ia melepas genggamannya.


"Gitu dong. Dari tadi kek." gerutu Zee.


Sesampainya mereka di meja, mereka menemukan Roni yang masih betah dengan kuenya.


"Jangan banyak-banyak, Ron. Nanti kebablasan." peringat Zayn.


"Eh, hehe, soalnya enak banget, Tuan. Untung Tuan bilangin, kalau enggak mah satu toko pasti bakalan habis nih." candanya.


"Langsung ke dapur, yuk. Waktunya mepet juga. Saya harus bantu-bantu karyawan lain buat nyiapin semuanya. Takutnya besok nggak sampai target." ucap Zee.


"Mona, bahan-bahan di dapur sudah kamu siapin semuanya?" tanya Zee.


"Semuanya sudah beres, Bu." jawab Mona.


"Baiklah, Nona. Mari Tuan." ujar Roni.


Mereka berjalan menuju dapur dengan Zayn yang berjalan di samping Zee. Sedangkan Roni dan Mona berada di belakang.


Sesampainya merekandi dapur, semua karyawan di toko Zee menundukkan kepalanya hormat saat melihat sang bos dan tamu pentingnya.


"Silahkan, Bu." ucap salah satu karyawan Zee. Segera ia menepi untuk memberi ruang kepada Zee.


"Makasih semuanya. Maaf kalau saya menganggu pekerjaan kalian. Jadi hari ini kita kedatangan pihak dari perusahaan MH Company yang akan melakukan peninjauan bagaimana cara pembuatan kue di toko kita. Saya minta ruangnya sebentar." ucap Zee.


"Salam kenal, Tuan-tuan." sapa para karyawan menundukkan kepalanya hormat.


"Terima kasih atas waktunya. Saya selaku pemimpin perusahaan MH Company yang bergerak di bidang perindustrian sangat berterima kasih kepada kalian semua yang telah menyambut kedatangan saya dengan hormat. Perkenalkan saya Zayn. Dan di samping saya ini Roni sekretaris saya." ujar Zayn.


Tidak bertele-tele, mereka pun akhirnya memulai kegiatannya.


Celemek yang melekat di tubuh masing-masing menambah kesan luar biasa. Apalagi Zee yang terlihat sangat cantik. Tatapan lekat yang Zayn tunjukkan tidak pernah teralihkan. Hal itu membuat Zee melototkan matanya. Tapi, percuma. Zayn malah menanggapinya dengan senyuman manisnya yang membuat kaum hawa meleleh di buatnya.


"Ini apanya dulu yang di masukin?" tanya Zayn sambil memegang wadah tempat mengolah bahan-bahan pembuatan kue.


"Margarinnya dulu." jawab Zee memberi arahan kepada Zayn. Sedangkan Roni pria itu di arahkan oleh Mona.


"Trus di apain?" tanya Zayn sekali lagi. Karena baru pertama kalinya ia bertempur dengan bahan-bahan pembuatan kue. Biasanya ia hanya tau sedikit perihal memasak.


"Di aduk sampai rata."


"Ini di apain lagi?"


"Trus masukin apa lagi?"


"Ini gimana? Udah cukup nggak?"


Dengan telaten Zee terus memberi arahan. Ia tidak marah sedikitpun. Zee paham bahwa pria tersebut baru pertama kalinya berkutat dengan bahan pembuatan kue. Hanya saja ia kesal di saat Zayn yang sesekali jahil kepadanya.


...~Happy reading~...


...Makasih yang udah stay di sini...


...🤗🤗🤗...