
Seminggu sejak kejadian itu, kini Zee telah membuka toko kuenya yang baru. Zee bangung pagi sekali. Seperti biasa ia membantu sang Bunda di dapur. Setelahnya ia pamit pergi ke toko kuenya.
Zee juga merekrut asisten untuk membantunya mengurus tokonya tersebut.
"Pagi." sapa Zee ketika baru saja masuk ke dalam tokonya.
"Pagi, Bu." serentak mereka. Zee menganggukkan kepalanya merespon.
Kemudian ia berjalan menuju ruangan miliknya dengan Mona asistennya yang setia mengikutinya di belakang.
"Bu, tadi pagi ada telfon yang meminta Ibu untuk menemuinya." ujar Mona saat Zee baru saja duduk di kursinya.
"Siapa, Mon?" tanya Zee sambil menumpu dagunya menggunakan kedua tangannya.
"Perusahaan dari MH Company, Bu."
"Baiklah. Kamu atur saja pertemuannya."
"Baik, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu." Zee menganggukkan kepalanya pertanda iya.
"Siapa ya?" gumam Zee.
Zee pun keluar dari ruangannya memutuskam untuk pergi ke dapur. Ia ingin melihat kinerja karyawan yang telah diekrutnya.
Melihat kedatangan sang bos mereka menyapanya dan menundukkan kepalanya.
"Lanjutkan saja. Saya hanya ingin melihat-lihat."
Mereka pun kembali mengerjakan pekerjaannya dengan sesekali Zee memberikan arahan.
Drttt
Ponsel di dalam saku celana Zee berbunyi menandakan ada panggilan masuk.
Zee keluar dari dapur dan berjalan menuju ruangannya.
Rupanya panggilan video dari sang adik. Lama mereka tidak bertukar kabar.
"Mami!!!" Zee langsung meringis saat mendengar suara teriakan Rega yang menggema.
"Jangan teriak-teriak, Rega."
"Hehe, maaf, Mi."
"Rega kangen." seru bocah itu dengan antusias.
"Rega kangen?" tanya Zee.
Tampak Rega menganggukkan kepalanya.
"Tahan ya, sayang." ucap Zee tersenyum.
"Papa dimana?" tanya Zee.
"Hai, Kak." sapa Alif.
"Kabar kamu gimana, Lif?"
"Alhamdulillah, baik, Kak. Kakak di sana sehat kan?" Zee mengangguk.
"Dua minggu lagi aku pulang, Kak."
"Serius?" tanya Zee terkaget.
"Iya, Kak."
"Trus Rega sama Lora gimana? Apa mau di sana?"
"Emmm... Aku gak tau, Kak." ucap Alif.
"Coba kasih HP nya ke Lora bentar." pinta Zee.
"Hai, Ra." sapa Zee saat ponsel Alif sudah berada di tangan Lora.
"Ada apa, Zee?" tanyanya.
"2 minggu lagi Alif kan mau pulang ke sini. Jadi, kamu mau ikut atau tinggal di sana?" tawar Zee.
"Kamu ke sini aja deh ya? Nanti di sana cuma kalian berdua aja. Lagian kalau kamu kerja nanti Rega gak ada yang jagain."
"Bener juga sih apa yang kamu bilang."
"Kenapa?" tanya Zee melihat gelagat Lora. "Kamu tenang aja kalau soal tempat tinggal. Nanti kamu tinggal di rumah aja. Kalau kamu gak nyaman nanti aku cariin kosan yang dekat. Gimana?"
"Ummmm... Emangnya gak masalah?" ragu Lora.
"Gak apa-apa kok. Tenang aja. Di rumah juga masih ada kamar kosong kok."
Akhirnya Lora pun menyetujui penawaran yang Zee ajukan. Jelas ia tidak mau berada sendirian di apartemen Zee. Sendiri, berdua bersama Rega nantinya.
"Nanti biar kamu bantu-bantu ngurusin toko kue yang ada di sini aja.
"Oke deh. Makasih ya, Zee."
"Sama-sama."
Setelahnya Lora lamgsung memberikan ponsel Alif.
"Rega, kamu mau gak tinggal bareng Mami di sini?" ucap Zee.
"Mau, Mi. Rega mau. Bareng Kakek Nenek ya, Mi?" Tanya Rega tiba-tiba.
"Iya dong, sayang." balas Zee seraya tersenyum.
"Tapi, nunggu Papa dulu ya?"
"Siap, Mi."
"Pinter. Jangan nakal ya di sana. Mami tutup telfonnya dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Sambungan terputus.
"Ada apa, Mon?" Tanya Zee. Ia memutuskan telfonnya karena Mona yang seperti ingin menyampaikan hal yang penting.
"Tadi saya sudah memberi tahu pihak perusahaan yang ingin bekerja sama dengan toko kue kita sekaligus acara pergantian presdir baru mereka." jawab Mona.
"Presdir baru?" teka Zee.
"Iya, Bu. Dengar-dengar anaknya yang menggantikan posisi presdir yang lama itu."
Zee menganggukkan kepalanya paham. Ia tidak mau tahu banyak tentang masalah orang lain.
"Trus mereka bilang apa?"
"Mereka bilang apa bisa Ibu pergi menemui pihak dari mereka."
"Bisa. Kapan?" tanya Zee.
"Nanti siang, Bu."
"Baiklah. Nanti suruh mereka share location aja. Nanti kamu kirim ke saya ya?"
"Iya, Bu. Kalau begitu saya pamit lagi." pamit Mona.
...***...
Sesuai waktu yang di sepakati bersama. Sekarang Zee tengah duduk di salah satu restoran tempat pertemuan pertama mereka.
"Maaf, apa benar ini dengan Nona Zee?" tanya seseorang dengan pakaian formalnya.
"Iya."
"Maaf, saya terlambat."
"Tidak apa-apa." jawab Zee.
"Perkenalkan saya Roni. Saya perwakilan dari perusahaan MH Company." ucapnya memperkenalkan diri. Tidak lupa jabatan tangan tanda perkenalan mereka.
"Silahkan duduk." ujar Zee.
Roni pun membahas kepentingan pertemuan mereka.
"Jadi, begitu, Nona. Apa bisa perusahaan kami memakai barang atau jasa dari Nona. Sekaligus saya juga mengajukan kerja sama. Karena yang saya dengar toko milik Nona yang baru dibuka itu sangat laris di kalangan masyarakat. Bahkan tidak sampai satu minggu toko tersebut sudah berkembang pesat."
"Alhamdulillah. Saya bersyukur perusahaan ini mau menjalin kerja sama dengan toko kue milik saya."
"Kalau boleh tau kapan acaranya di mulai?" tanya Zee.
"Dua hari lagi, Nona."
"Owh. Baiklah kalau begitu."
"Sebelumnya saya minta maaf, Nona. Apa boleh kami melakukan tinjauan terlebih dahulu. Karena ini acara yang sangat penting. Jadi, pihak kami harus memastikan terlebih dahulu. Hitung-hitung bisa belajar membuat kue langsung dari pemilik tokonya." ujar Roni dengan sedikit kekehan di akhir kalimatnya.
"Boleh sekali. Jadi, kapan mau survey nya?"
"Besok pagi boleh? Karena waktunya juga sangat terbatas."
"Silahkan. Besok pagi-pagi saya usahain sudah berada di toko. Jadi, pihak dari anda tidak menunggu lama."
"Baiklah, Nona. Silahkan tanda tangan di sini." ujar Roni sambil menyodorkan proposal kerja sama yang telah ia buat sebelum pertemuannya.
Zee menganggukkan kepalanya dan mentandatangani proposal tersebut.
Keduanya pun bangkit dari duduknya dan saling berjabat tangan.
"Terima kasih atas kerja samanya, Nona." ujar Roni.
"Terima kasih kembali." balas Zee sambil menundukkan kepalanya.
Akhirnya setelah memakan waktu yang lumayan pertemuan penting mereka sudah selesai.
Selesai pertemuan itu, Zee langsung pulang ke rumahnya untuk beristirahat.
Sepertinya besok ia akan sibuk. Sangat sibuk karena harus membuat kue dengan banyak. Bisa saja ia menyuruh karyawannya untuk melakukan itu semua. Tapi, kalau di pikir-pikir apa salahnya membantu karyawannya. Lagi pula pasti mereka akan sangat kerepotan karema harus membuat banyak macam kue. Sudah di pastikan besok toko kuenya akan ia tutup untuk sehari saja.
Zee juga penasaran siapa yang akan pergi menemuinya untuk melakukan tinjauan.
Tidak terasa Zee telah memejamkan matanya. Saking lelahnya ia sampai lupa untuk membuka ponselnya. Bahkan sudah ada beberapa pesan masuk tanpa ia ketahui siapa.
...***...
"Hai, cantik. Kita bertemu lagi bukan?"
"Sudah ku katakan pasti kita akan bertemu kembali."
"Tersenyumlah sepanjang waktu."
"Jangan tunjukkan senyum mu itu kepada siapa pun."
"Hanya aku. Hanya aku yang boleh melihatnya."
"Jangan terlalu capek."
"Sampai bertemu besok."
"Hahhhhhh..." Zee langsung membuka kedua matanya. Nafasnya bergemuruh.
Zee mengusap wajahnya kasar. Kenapa bisa ia bermimpi seperti itu?
Dan apa maksud dari kalimat terakhirnya?
...~Happy reading~...
...Maaf kalau ceritanya membosankan...
...☺☺☺...