
"Assalamu'alaikum, Lif." ucap Zee di seberang sana yang menampakkan paras cantik sang Kakak, Zee.
"Wa'alaikumsalam." jawab Alif beserta orang-orang yang berada di sekitarnya.
"Kok keliatannya rame banget? Kamu lagi dimana?" tanya Zee.
"Aku lagi makan malam bareng Bunda, Ayah trus rekan kerja Ayah." jawab Alif.
"Duhhh, maaf ya. Kakak ganggu kayaknya. Yaudah deh besok aja lanjut telfonnya." ucap Zee tidak enak hati.
"Gak ganggu kok, sayang." seru Ayah Zaki yang mendengar dengan jelas suara Zee karena mereka semua meminta Alif untuk menghidupkan loudspeakernya.
"Ehhh, Ayah. Hehe. Apa kabar, Yah? Bunda juga gimana kabarnya?" tanya Zee sambil menyengir.
"Ayah baik. Bunda juga sehat. Semuanya sehat kok. Kamu tenang aja di sana. Jangan khawatir." jawab Ayah Zaki.
Alif langsung mengubah kamera depan menjadi kamera belakang yang otomatis menampakkan orang-orang yang berada di sekitar Alif. Terutama Zayn yang duduk di hadapannya.
Deggg
Seketika Zee membeku di tempatnya. Orang yang selama ini yang selalu ingin ia lupakan kini tiba-tiba nampak di matanya.
Dan kenapa juga. Mama Anggi? Dugaan Zee adalah yang menjadi rekan kerja Ayahnya adalah keluarga Zayn.
Langsung saja Zee mengubah ekspresinya agar Alif tidak melihat ekspresi kagetnya tadi.
"Kakak masih di toko?" tanya Alif.
"Iya, Kakak lagi di toko. Kenapa? Kamu mau lihat Rega?"
"Tapi, Rega gak ada sama Kakak. Dia di apartemen. Kalau mau lihat nanti kamu telfon Lora aja."
"Enggak deh, Kak. Nunggu aku ke sana aja." canda Alif.
"Tega banget sih kamu, Lif. Tadi pagi aja Rega udah nangis kejer. Katanya kangen sama kamu."
"Becanda doang kok, Kak. Secepatnya deh aku ke sana. Waktu libur semester juga udah mau habis."
Sejenak mereka mengobrol dengan orang-orang yang di sekeliling Alif menjadi pendengar setia obrolan adik kakak tersebut.
"Zee." panggil Bunda Weni.
"Iya, Bund?"
"Kamu kapan pulang ke sini?" sendu Bunda Weni.
"Maafin Zee ya, Bund. Secepatnya Zee bakal pulang kok. Bunda tunggu aja kedatangan Zee." balas Zee dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Ia tidak begitu sanggup saat melihat wajah sedih sang Bunda. Rasa rindu tentu saja ada. Ia ingin memeluk tubuh hangat sang Bunda, ia ingin menangis di pundak Bundanya, ingin bercerita sepanjang hari tanpa mengenal waktu siang dan malam. Memang sulit berjauhan dengan kedua orang tua. Tapi, kondisi yang membuatnya belum bisa pulang dan menetap di sana.
"Bunda selalu menunggu kehadiran kamu, Nak." lirih Bunda Weni.
Saat mereka asik-asiknya bertukar kabar tiba-tiba Mama Anggi berkata, "Nak, Tante mau lihat coba Kakak kamu boleh?" Zee gelagapan saat mendengar permintaan Mama Anggi.
"Tante mau lihat? Boleh." ucap Alif memberi izin.
Sebelum hal itu terjadi Zee langsung cepat mencari alasan untuk menghindarinya.
"Kayaknya udah duluan ya, Lif. Soalnya ada yang mau ketemu sama Kakak. Kalau gitu Kakak tutup dulu ya. Assalamu'alaikum."
Tuttt
Panggilan video yang Zee matikan tiba-tiba tanpa mau mendengar balasan.
"Iya, gak pa-pa kok. Lain kali aja. Lagian masih ada waktu kok." balas Mama Anggi.
Tidak terasa mereka telah menghabiskan waktu malam dengan penuh cerita. Jam juga sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Mereka pun memutuskan untuk pulang ke kediamannya masing-masing.
Bunda Weni dan Ayah Zaki pulang satu mobil. Sedangkan Alif? Pemuda itu berkendara sendiri dengan membawa motor besarnya.
Mama Anggi dan Papa Hendra juga bergitu. Mereka pulang terlebih dahulu meninggalkan Zayn. Karena Zayn membawa mobilnya sendiri.
Alif berjalan menuju tempat motornya yang ia parkirkan. Saat tengah melangkah tiba-tiba pundaknya di tepuk pelan.
"Ehhh??" sentak Alif kaget.
"Alif ya?"
"Iya, Bang."
"Masih ingat saya?"
"Abang Zayn bukan sih?" tanya Alif. Zayn pun menganggukkan kepalanya. Akhirnya ada waktu untuk mereka berbicara empat mata.
"Alhamdulillah, kamu nggak lupa." seru Zayn.
"Abang kali lupa sama aku?"
"Bukan lupa sih. Lebih tepatnya bingung. Abang bingung liat wajah kamu berubah banget." jelas Zayn.
"Wajah Abang juga berubah kok. Makin ganteng." ucap Alif cekikikan.
"Ahh, bisa aja kamu."
"Kenapa Abang manggil aku?" tanya Alif kembali ke topik awal.
"Emmm itu..." jawab Zayn sedikit terbata.
"Kenapa, Bang?" tanya Alif sekali lagi.
"Kakak kamu kemana?" akhirnya Zayn pun memberanikan dirinya. Zayn yang sekarang adalah bukan Zayn yang dulu. Zayn yang dulu sangat gengsi. Tapi, sekarang ia berusaha untuk menghilangkan itu.
"Kakak aku? Kak Zee?" tebak Alif.
"Emang kamu ada Kakak selain dia?" jawab Zayn datar.
"Hehe, enggak sih. Tapi, kenapa Abang tiba-tiba nanyain Kak Zee. Jangan-jangan?" selidik Alif dengan matanya yang terus memandang Zayn yang membuat pria itu sedikit risih di buatnya.
"Tinggal bilang aja sih." Alif menggelengkan kepalanya pertanda menolak untuk memberitau keberadaan sang Kakak. Karena Zee sudah mewanti-wanti agar Alif tidak membocorkan keberadaannya yang sekarang kepada semua orang terutama kepada kedua sahabatnya. Bukan maksud hati Zee untuk melupakan kedua sahabatnya. Tapi, nanti suatu saat mereka pasti bertemu. Pikir Zee.
"Cari sendiri ya, Bang. Makanya dari dulu tuh ungkapin tuh perasaan. Nanti kalau pergi lagi kan bahaya." tebak Alif asal seolah-olah ia tau permasalahannya. Tapi, memang benar.
"Kamu juga tuh. Jangan nunda-nunda juga. Nanti perempuan yang kamu cintai itu kabur." celetuk Zayn membalas ucapan Alif. Seketika Alif skak mat di buatnya saat ia menyadari bahwa ia berada di posisi tersebut.
"Nah, lho. Ngatain Abang sendiri. Kan kamu juga yang ngerasain." ucap Zayn.
"Gimana kalau kita saling bantu. Nanti kamu bantuin Abang trus Abang bantuin kamu buat dapetin wanita yang kamu cintai." tawar Zayn. Alif mengangguk-anggukkan kepalanya setuju. Tersadar dari responnya ia kembali menggelengkan kepalanya.
"Nggak! Nggak. Abang usaha sendiri aku usaha sendiri. Gitu baru bener. Dah lah Bang. Udah malam nih aku mau pulang. Babayyy. Semangat ya, Bang. Tenang aja. Aku ngerestuin kok. Jadi gak usah khawatir." Alif berteriak dengan mengangkat jari tangan jempolnya.
"CK! Susah banget di ajak kompromi." gumam Zayn sambil menyaksikan motor yang di kendarai Alif melesat begitu saja melewati malam yang sunyi.