Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 33. Mimpi



Keesokan harinya sepulang Zee dari mengurus toko kuenya yang baru, ia berniat menjemput sang Bunda karena hari ini sudah diperboleh pulang karena keadaan Bundanya sudah sehat total. Kata Dokter yang menangani sang Bunda.


"Gak ada barang yang ketinggalan kan, Bund?" tanya Zee sambil membereskan perlengkapan sang Bunda.


Ayah Zaki yang berada di kantor. Alhasil ia sendiri yang menjemput Bundanya.


"Sepertinya nggak ada." jawab Bunda Weni.


"Ya udah yuk. Kita pulang." seru Zee.


Perlengkapan Bunda Weni hanya sedikit. Hanya setengah tas ransel yang berisikan baju ganti sang Bunda.


Tangan kiri Zee yang menenteng tas ransel dan tangan kanannya menuntun sang Bunda.


"Bunda udah sehat, Nak. Kamu gak perlu khawatir." ujar Bunda Weni yang melihat sang anak seperti kesusahan membawa tas ransel di tambah sebelah tangannya menuntun tangan sang Bunda dengan perhatian.


"Gak apa-apa, Bund."


Namun, di tengah perjalanan mereka tidak sengaja bertemu Dokter yang menangani Bunda Weni selama beliau di rawat.


Doktef tersebut menggunakan masker. Ya, masker.


"Apa kabar, Tante. Udah siap mau pulang nih?" sapanya.


Dokter dengan name tag Zikhri. Ia bekerja sebagai dokter umum di rumah sakit tersebut. Dokter muda yang mendapatkan gelar dokter dalam waktu yang terbilang lumayan singkat.


"Iya, Nak. Tante udah sehat nih berkat kamu."


Sejenak mereka mengobrol dengan dokter tersebut beberapa kali melirik wanita yang berada di sebelah Bundanya. Sungguh! Ingin ia memperlambat waktu. Detik, menit, jam. Bahkan hari.


"Kamu kenapa pakai masker, Nak?" tanya Bunda Weni heran yang langsung membuat dokter yang seumuran dengan anaknya itu langsung kelabakan.


Beruntung ia memiliki alasan yang terbilang cukup nyata. Ia baru saja menangani pasien yang baru saja kecelakaan. Dan sedikit batuk.


"Oohh, ini. Tadi aku baru aja nanganin pasien kecelakaan. Sedikit batuk juga, Tan." jelasnya.


"Dokter jangan sampai sakit lho. Minum obat ya, Nak. Jangan lupa!"


"Iya, Tante. In sya Allah nggak lupa."


"Kalau begitu Tante pamit dulu ya, Nak. Takutnya di omelin sama yang di samping Tante."


Seketika mata Zee melotot. Kenapa namanya di bawa-bawa. Ia sadar sang Bunda tengah membicarakannya. Emang siapa lagi yang berada di samping sang Bunda kecuali dirinya. Dan... Dokter itu...


Suara, postur tubuh, bola mata, rambutnya membuat Zee sangat penasaran. Ingin ia melihat siapa orang yang memakai masker tersebut.


"Hahaha... Jaga baik-baik ya Tante anaknya. Jangan sampai di embat sama orang lain." candanya seakan-akan perintah.


"Iya, tenang aja. Tante jagain sampai nanti ada yang datang untuk meminta restu dari Tante." gelak Bunda Weni.


"Yaudah kalau gitu. Tante pulangnya hati-hati ya. Jaga kesehatan. Jangan sampai asam lambungnya sampai naik. Jaga pola makan, makan makanan yang sehat dan bergizi. Jangan lupa vitaminnya." tambahnya dengan penjelasan panjang lebar.


"Iya, iya. Tante pulang dulu. Yuk, Nak." ajak Bunda Weni sesudah pamit dan sempat Dokter tersebut mencium punggung tangannya.


Sesampainya di parkiran, Zee langsung membukakan pintu mobilnya untuk sang Bunda setelah ia menyimpan tas ransel itu di kursi bagian belakang.


Saat Zee ingin berputar dan bersiap-siap untuk membuka pintu mobilnya tiba-tiba datang seorang anak kecil laki-laki yang memberikannya sepucuk surat.


"Dari siapa, Dek?" tanya Zee heran. Anak kecil itu menggelengkan kepalanya. Yang ia tau ia hanya di suruh oleh seorang pria untuk memberikan surat itu kepada Zee. Hanya permen yang di jadikan imbalan ia sudah setuju. Permen memang ampuh.


"Kalau gitu makasih ya, Dek." ucap Zee.


Anak kecil itu langsung berlari meninggalkan Zee yang masih terpatung di tempatnya.


Sementara di tempat lain seorang pria tengah tersenyum saat melihat surat yang ia titipkan telah sampai di tangan sang empu.


Zee kemudian tersadar dari lamunannya saat sang Bunda memanggilnya.


"Ada apa, Nak?" tanya Bunda Weni saat Zee memasang SeatBelt nya.


"Nggak ada apa-apa kok, Bund." jawab Zee.


"Tadi kemana aja?" tanya Bunda Weni saat mereka masih di dalam perjalanan pulang.


"Zee lagi ngurusin toko, Bund. Palingan seminggu kedepan baru bisa di buka. Soalnya masih banyak yang belum di beresin."


"Kamu jangan capek-capek. Jaga kesehatannya. Jangan sampai sakit." titah Bunda Weni.


"Iya, Bunda. Zee bakal jaga kesehatan kok. Bunda tenang aja." ujar Zee sambil sesekali melirik Bundanya.


Tidak lama akhirnya mobil yang di kendarai Zee telah sampai di halaman rumahnya.


Zee keluar terlebih dahulu kemudian membukakan pintu untuk sang Bunda. Dengan cepat ia menuntun Bundanya memasuki rumah dan menuju kamar.


"Bunda istirahat dulu ya di sini. Jangan kemana-mana. Nanti kalau ada apa-apa tinggal panggil Zee." ucap Zee menuntun Bundanya untuk berbaring di atas kasur.


"Zee ke kamar dulu, Bund. Mau bersih-bersih."


Bunda Weni hanya mengangguk mengiyakan. Setelah memastikan keadaan sang Bunda nyaman, Zee langsung pamit ke kamarnya.


Selesai membersihkan badannya kemudian Zee turun. Ia memutuskan pergi ke dapur untuk memasak. Saat membuka kulkas ia baru tersadar bahwa stok bahan-bahan makanan telah menipis. Ia pun berencana untuk berbelanja besok pagi di pasar atau di supermarket terdekat.


Saat sedang memasak tiba-tiba deru mesin mobil terdengar di telinganya saat mobil tersebut masuk ke dalam garasi. Mungkin Ayah Zaki. Pikirnya.


Tidak lama kemudian terdengar ucapan salam yang ia yakini adalah sang Ayah. Dan benar saja...


"Bunda kamu dimana, Nak?" tanya Ayah Zaki sambil menuangkan air ke dalam gelas.


Setelahnya kembali sunyi. Ia pikir Ayahnya pergi ke kamar.


...***...


Makan malam terasa berbeda malam ini. Biasanya ia hanya melihat sang adik, Rega dan Lora. Kini ia bisa merasakan suasana yang telah lama ia rindukan. Yaitu makan bersama kedua orang tuanya. Sepanjang makan malam senyum itu terus terbit. Ia bahagia. Sangat bahagia. Hanya saja seperti ada satu kekurangan. Yaitu kehadiran sang adik. Ahhh... Rasanya Zee merindukan setiap ocehan Rega.


Selesai makan malam Zee langsung pamit kepada orang tuanya untuk kembali ke kamarnya.


Seperti malam biasanya Zee lakukan. Membuka sosmed atau YouTube untuk mempelajari resep-resep masakan.


Setelah hampir satu jam Zee sibuk dengan aktivitasnya ia mulai merasakan bosan.


Zee baru teringat dengan surat yang ia terima tadi sore. Rasanya ia sangat penasaran.


Zee bangkit dari tidurnya dan berjalan mendekati tasnya ia yang letakkan di atas meja rias. Kemudian ia mengambil sebuah amplop kecil dari dalam tasnya itu. Ia pun kembali naik ke atas kasur.


Perlahan tapi pasti surat itu di buka oleh Zee. Ia was was, takut surat tersebut berupa teror.


Zee mengernyitkan dahinya bingung saat ia telah berhasil membuka surat itu dan membacanya.


[Sampai bertemu kembali cantik]


From: DZ


Hanya itu?


DZ?


Apakah Zee mengenalnya? Ia rasa tidak.


Apakah ia mempunyai penggemar rahasia?


Dua kali. Sudah dua kali Zee di buatnya penasaran. Yang pertama, siapa yang membayarkan makanannya? Kedua, surat dari siapa.


Lama Zee memikirkan itu sampai-sampai ia tidak menyadari ia sudah tertidur dengan tangannya yang masih memegang surat itu.


Tapi, kenapa? Kenapa saat ia membaca surat itu hatinya terasa menghangat. Ia juga tidak tahu itu.


...***...


"Hai..."


"Apa kabar? Lima tahun, hehe. Lima tahun bukanlah waktu yang singkat."


Zee hanya mematung menyaksikan pria yang telah lama mengisi hatinya berbicara. Rasanya sangat aneh!


Ia hanya diam. Memilih untuk diam. Lidahnya seakan kelu untuk berbicara.


"Rindu? Tentu saja! Maaf... Maaf, telah membuatmu kecewa. Aku benci... Aku benci kepada diriku sendiri. Bagaimana bisa aku terlambat menyadari perasaan ini?"


"Bahkan... Aku telah menyia-nyiakan wanita sebaik kamu


Mencarimu bagaikan mencari bulan, bintang, dan terutama sang Pencipta seluruh alam semesta...


Hanya angan... Hanya bayangan... Khayalan... Ilusi yang aku dapatkan.


Aku hanya bisa berdo'a... Meminta kepada sang Pencipta... Agar suatu saat nanti kita bisa di pertemukan...


Di pertemukan di jalan yang sudah Allah tetapkan...


Jika waktu bisa di putar kembali. Aku ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi.


Mungkin ini sudah terlambat. Tapi, tidak ada kata terlambat untuk seseorang yang ingin berubah...


Beribu maaf akan aku ucapkan. Semoga maafku ini di terima olehmu terutama sang Pencipta."


"Zeyasha Alkhaira Farkhandah... Mau kah kamu menerima lamaranku? Menjadi makmum dalam setiap sujudku. Menjadi Ibu dari anak-anakku kelak nanti?"


"Aku..."


Gubrakkk


Zee meringis saat dirinya yang terjatuh dari kasur empuknya.


Zee menggosok kedua matanya. Mimpi?


Sungguh... Terasa sangat nyata


'Astaghfirullah. Mimpi apa ini ya Allah?


Bahkan orang yang di dalam mimpinya tersebut belum selesai menyebutkan namanya.


Terpotong. Kalimatnya terpotong...


Zee melirik jam dindingnya. Pantas saja. Sudah waktunya shalat subuh... Sebentar lagi.


Zee pun langsung bangkit dari posisinya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Ia berjalan dengan sempoyongan.


Hancur... Mimpinya hancur seketika.


Pertanda apakah itu?


***


Nyehhhh 😂😂