Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 49. Bicara



Selesai operasi, kini Zee sudah dipindahkan ke ruang rawat. Zee masih belum sadarkan diri sedari perjalanan menuju rumah sakit tadi. Ditambah efek obat bius saat menjalani operasi.


Kedua orang tuanya berada di sisi ranjang, sementara Alif diperintahkan pulang oleng Ayah Zaki. Hal itu dikarenakan keadaan Alif juga tidak memungkinkan.


Pintu ruangan tersebut terbuka menampakkan seorang dokter yang masuk sambil menenteng kantong kresek.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." jawab Bunda dan Ayah.


"Tante, Om." ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk salam.


"Hari udah mau malam. Tante sama Om pasti belum makan. Nih, aku bawain makanan. Sebaiknya Om sama Tante makan dulu. Biar Zee aku yang jaga." saran Zayn.


"Takutnya ngerepotin kamu, Nak. Pasti kamu juga ada pasien yang harus diperiksa." balas Bunda Weni.


"Gak apa-apa kok, Tan. Gak ada pasien juga yang harus di periksa karena tadi sore udah selesai."


"Baiklah, kalau itu mau kamu."


Bunda dan Ayah pun menyantap makanan yang sudah dibawakan oleh Zayn.


Zayn menggantikan Bunda yang tadinya duduk di kursi dekat ranjang. Zayn terus menatap pucat wajah wanita yang terbaring lemah di ranjang pasien dengan tangan yang tertancap infus.


Sesaat sebelum Alif pulang, Zayn sempat menanyakan sebab kejadian itu yang mengakibatkan Zee tertusuk pisau. Alif menjelaskannya tanpa harus ditutup-tutupi termasuk Reno si pelakunya. Reno sudah dibawa ke kantor polisi bersamaan dengan anak buahnya. Reno ditangkap tanpa perlawanan karena saat itu dia masih dalam keadaan syok karena anak buahnya telah lalai.


Sebagai seorang Dokter tentunya hati Zayn sangat teriris melihat itu. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia hanya Dokter umum bukan Dokter spesialis bedah. Hanya do'a yang terus Zayn lantuntan di dalam hatinya berharap wanita yang ia cintai segera sembuh.


Zayn merapikan anak rambut Zee dengan menyelipkannya ke belakang telinganya.


Setelah di operasi dan diperiksa ternyata Zee telah melewati masa-masa kritisnya. Alif dengan senang hati mendonorkan darahnya untuk sang Kakak karena Zee telah kehilangan banyak darah.


Tidak lama kemudian Zayn dikagetkan oleh suara Bunda Weni yang tenyata sudah selesai memakan makanan yang telah ia berikan tadi.


"Kata kamu tadi ada hal yang mau di omongin?" ucap Bunda Weni.


"Iya, Tan. Di sini aja ya? Kalau mau keluar takutnya gak ada yang jagain Zee." tatapannya tertuju pada Zee.


"Kan ada Om. Biar kamu ngobrol sama Bundanya Zee aja. Om biar di sini nemanin Zee." Zayn menggelengkan kepalanya.


"Aku mau bicara dengan Om sama Tante. Bertiga."


"Duduk dulu biar nyaman mau ngobrolnya." Ayah Zaki menyuruh Zayn duduk di sofa single di dalam ruangan itu.


Seketika Zayn gagap, cemas, jantungnya dag dig dug tidak karuan. Entahlah rasanya seperti sedang dalam medan pertempuran. Bahkan jika di lihat medan pertempuran saja rasanya akan terkalahkan dengan rasa itu.


"Ayok, Nak! Mau bicara apa?" tanya Bunda Weni saat melihat Zayn hanya terdiam membisu.


Dipanggil tidak merespon akhirnya sebuah tepukan mendarat di bahunya. Zayn tersentak.


"Tante, Om. Maaf kalau aku lancang...bolehkah aku menjaga dan merawat anak Tante sama Om?" Bunda Weni dan Ayah Zaki mengernyitkan dahinya bingung. Namun, sesaat kemudian Ayah Zaki menanggapinya berbeda.


"Boleh saja. Kamu bisa merawat Zee di sini sampai sembuh. Om malah mau berterima kasih. Tapi, kamu juga mempunyai kesibukan sendiri bukan?" Zayn menggaruk kepalanya tidak gatal mendengar respon Ayah Zaki. Sedangkan Bunda Weni hanya menahan senyumnya.


"Bukan begitu maksudnya, Om."


"Terus...bagaimana?"


"Om kurang paham dengan maksud kamu." lanjut Ayah Zaki lagi.


Sekali lagi Zayn menggaruk kepalanya tidak gatal.


"Maaf sekali lagi Om, Tante."


"Kenapa kamu minta maaf terus sedari tadi?" heran Ayah Zaki yang memang mendengar kata maaf terus diucapkan Zayn.


"Di sini...di hadapan Om sama Tante. Dihadapan barang-barang yang ada di ruangan ini. Atas nama saya Zikhri Zaynendra ingin meminta restu dari Om, Tante untuk meminang anak kalian. Mungkin Om sama Tante akan kaget saat memdengarnya. Tapi, itu semua adalah ucapan penuh kesadaran diri dari saya."


Tampak respon santai yang ditunjukkam oleh Ayah Zaki.


"Om?"


Puk


Puk


2 tepukan di bahu Zayn.


"Om bangga sama kamu. Lelaki gentle."


Ayah Zaki melirik istrinya yang tengah memasang wajah ceria.


"Kami merestui. Tapi, berbalik lagi pada kalian. Kami selaku orang tua hanya dapat membimbing dan mengarahkan hal-hal yang menurut kami itu baik. Selebihnya itu ada di diri kalian masing-masing." jawab Ayah Zaki.


"Makasih banyak Om, Tante. Tapi, saya perlu waktu untuk itu semua. Harus menaklukkan hati anak kalian dulu." candanya.


"Jangan sia-siakan restu yang sudah Om sama Tante berikan pada kamu. Ya?" ujar Bunda Weni.


"Pasti Tante."


"Aduh, Yah. Gak lama lagi kita bakal gendong cucu." kikik Bunda Weni pelan.


Zayn perlahan mulai merasakan lega dan tenang. Tenang sudah mengutarakan isi hatinya. Tidak takut lagi untuk meminta restu kedua kalinya nanti. Hanya tinggal membereskan satu hal lagi. Yaitu, Zee...wanita itu.


...~Happy reading~...