Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 43. Kepulangan Alif



Sepanjang perjalanan pulang suasana mobil tersebut sunyi.


Ya, setelah selesai acara makan siang yang terganggu tadi Zayn langsung mengantarkan Zee pulang. Dalam benaknya masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang mau ia lontarkan.


Zee melirik Zayn sebentar. Kenapa pria tersebut diam semenjak makan siang tadi?


"Ekhemmm..." Zee berdehem.


"Kenapa, Zee. Kamu haus?" tanya Zayn sambil mengambil sebotol aqua yang berada di dashboard.


Zayn menyodorkan botol aqua yang masih tersegel. "Nih." ucapnya.


"Nggak." Zee menolak tapi tetap mengambil botol tersebut.


Flashback on


"Zee. Gak nyangka bakalan ketemu di sini." ucapnya sambil duduk di tengah-tengah antara Zayn dam Sela sang adik.


Zee tersenyum kaku. Ia bingung harus menanggapinya bagaimana. Secara sifatnya sangat berbeda saat berdua dengan Zee ketika berada di luar negeri.


"I-iya, Reno."


Flashback off


"Kamu kenapa, Zayn?"


"Maaf, Zee. Aku bingung mau bicara apa. Aku takut hatimu sudah tercantum nama pria lain. Aku nggak mau jadi perusak hubungan orang lain. Maaf...setidaknya aku harus menanyakan hal itu. Tapi, kapan?"


Masing-masing hati mereka menjerit. Hingga mereka tidak sadar saat mobil yang dikendarai Zayn berhenti di jalan depan rumah Zee. Pria tersebut pamit.


"Aku pamit, Zee. Makasih udah mau menemani. Makasih udah mau meluangkan waktumu."


"Makasih juga atas makan siangnya, Zayn." Zee langsung melepaskan seatbelt nya dan keluar dari mobil Zayn.


Namun, baru saja ia membuka pintu tersebut tangannya ditahan oleh Zayn.


"Hati-hati." ucapnya yang seharusnya Zee ucapkan kepada pria itu.


Zee menganggukkan kepalanya. Ia pun keluar saat tangannya sudah terlepas dari genggaman pria tersebut.


***


Tring


Satu pesan muncul disaat Zee baru saja keluar dari kamar mandi.


[Kak, aku udah sampai bandara.]


Zee baru teringat bahwa hari ini sang adik telah pulang dan menetap di sini.


^^^[Apa mau Kakak jemput?]^^^


[Nggak usah, Kak. Aku cuma mau ngabarin aja. Oh, iya. Sampaikan juga ke Bunda sama Ayah ya, Kak.]


^^^[Ya udah kalau itu mau kamu. Hati-hati di jalan ya.]^^^


[Iya, Kak.]


Zee segera memakai bajunya dan turun ke lantai bawah.


"Bunda." panggil Zee saat berada di depan kamar orang tuanya.


Ceklek


"Kenapa, sayang?" tanya Bunda Weni.


"Alif udah sampai di bandara, Bund. Palingan sebentar lagi sampai." seru Zee.


"Aduh! Bunda belum masak lagi. Ya udah. kamu bantuin Bunda ya. Yuk!" Zee mengikuti sang Bunda dari belakang.


Waktu yang mepet membuat Bunda Weni harus memasak yang simpel saja dan yang pastinya waktu memasak tersebut tidak memakan waktu yang lama.


Sekitar 35 menit akhirnya acara masak-masak tersebut selesai.


"Bunda, Zee bersih-bersih dulu ya." ucap Zee.


"Iya, sayang. Bunda juga mau bersih-bersih juga."


Zee langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Bersiap-siap untuk menyambut kedatangan sang adik. Tidak lupa si kecil Rega dan Lora. Zee baru teringat kamar yang berada di lantai bawah belum di bersihkan.


Ceklek


Zee tersenyum menyambut kedatangan mereka.


"Kak." Alif langsung memeluk sayang sang Kakak.


"Mami...mami..." panggil Rega yang memberontak di pelukan sang Mama.


Zee langsung melepaskan pelukannya dan beralih ke si kecil.


"Sini sama Mami. Kangen ya?" ucap Zee sambil menciumi pipi gembul itu.


"Kangen Mami." seru Rega sambil memeluk erat leher Zee.


"Eh. Masuk yuk." ajak Zee.


Zee pun mempersilahkan mereka masuk.


"Kak, aku anterin barang-barang dulu ke kamar ya." izin Alif.


"Barang-barang Rega sama Lora simpan di kamar Kakak aja."


"Iya, Kak." Alif pun pamit ke kamarnya sambil menenteng dua koper dan tas yang berada di pundaknya.


"Ra, kamu sementara tidur di kamar aku dulu ya. Soalnya aku lupa mau beresin kamar yang ada di bawah." ucap Zee sambil duduk di ruang tamu.


"Iya, Zee. Maaf udah ngerepotin dengan kehadiranku di sini." balas Lora tidak enak hati.


"Nggak pa-pa, Lora. Kamu santai aja. Jangan dibawa pikiran. Anggap aja ini rumah kamu." ucap Zee.


Di sela-sela percakapan mereka, Bunda Weni datang dengan wajah yang berseri-seri. Rupanya wanita paruh baya itu bahagia saat melihat anak-anaknya telah berkumpul.


"Rega? Duh lucunya." seru Bunda Weni sambil merentangkan tangannya ke atah Rega. Karena selama ini Bunda Weni hanya mendengar kabar tentang Rega tanpa bertemu langsung. Paling-paling hanya sesekali melihat Rega melalui video call.


Rega yang dipanggil malah menyembunyikan wajahnya di tubuh Zee.


"Mau sama Nenek, Rega?" tanya Zee lembut sambil mengelus kepala Rega yang memeluknya erat.


Rega langsung mengangkat kepalanya menatap wajah Zee. "Nenek?" ujarnya.


Zee menganggukkan kepalanya. "Iya,sayang. Mau ya digendong nenek?" Rega mengangguk sambil merentangkan tangannya ke Bunda Weni.


Bunda Weni langsung menggendong Rega. "Uluhh...sini sama Nenek. Kita jalan-jalan ke depan ya. Mau gak?" ajaknya.


"Mau, Nek." ujarnya dengan wajah yang gembira.


"Yuk, kita jalan-jalan."


Bunda Weni pun mengajak Rega keluar rumah dan berkeliling di sekitar rumah.


Kini tinggallah Zee dan Lora yang tengah duduk berhadapan.


"Mau ke kamar?" tawar Zee.


"Boleh. Aku juga mau bersih-bersih bentar." jawab Lora.


"Yuk, aku antar." Zee pun mengantar Lora ke kamarnya sambil berkeliling sebentar untuk memperkenalkan bagian-bagian dalam rumahnya.


Sampailah mereka di lantai atas tepatnya di depan kamar Zee. "Nah, ini kamarku trus di sampingnya kamar Alif. Kalau kamar Ayah sama Bunda ada di lantai bawah. Kamar yang kosong juga di bawah. Besok pagi deh baru dibersihin." jelas Zee bertepatan Alif keluarnya dengan pakaian yang berbeda. Rupanya pemuda tersebut telah mandi.


"Rega mana, Kak?" tanya Alif.


"Rega ada sama Bunda. Katanya mau ajak jalan-jalan Rega sekitaran rumah. Sekalian pendekatan biar Rega gak takut sama orang baru." jawab Zee.


"Owh, gitu. Kalau gitu aku nyusul Rega aja deh. Kasian, capek abis penerbangan jauh. Rega juga belum mandi." ujar Alif kemudian menyusul Rega. Alif memberhentikan langkahnya menuruni tangga, "Oh, ya. Barang-barang Rega udah aku simpan di kamar Kakak." ucapnya kemudian berlalu.


Zee dan Lora langsung masuk ke kamarnya.


"Kamu mandi dulu aja, Ra. Biar aku yang beresin pakaian Rega." seru Zee saat melihat Lora yang membongkar pakaian Rega dari dalam koper. Sementara pakaiannya masih tersimpan di dalam koper.


"Makasih, Zee. Kalau gitu aku mandi dulu." ucap Lora mengambil handuk di dalam kopernya dan berjalan menuju kamar mandi.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


...~Happy reading~...