Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 40. Terluka



"Zee."


"Apa?" jawab Zee tanpa mengalihkan pandangannya. Ia terlihat fokus ketika mengadon bahan-bahan.


"Lihat sini."


"Bentar."


"Zee."


"Ada apa sih, Zayn." tanya Zee kesal sambil membalikkan badannya. Dan.... Bummmm


Tepung menghiasi wajah cantiknya.


"Buahahahaha...lucu banget. Udah kayak poci aja. Hahahaha..." tawa Zayn meledak begitu saja hingga mengundang perhatian beberapa karyawan yang masih berada di sana dan terutama Roni. Baru pertama kalinya ia melihat sang bos tertawa lepas seperti itu. Biasanya hanya tertawa kecil. Itu pun hanya sebentar. Roni juga heran. Kenapa si bos nya itu terlihat sangat akrab dengan Zee. Tidak jarang ia memergoki Zayn yang tengah menatap dalam ke arah Zee tanpa sepengetahuan wanita itu ketika sibuk mengadon kue.


Zayn terus tertawa terbahak melihat wajah Zee yang di penuhi tepung yang di sebabkan olehnya.


Tidak mau kalah, Zee juga membalas hal yang sama pada Zayn. Alhasil pembuatan kue tersebut memakan waktu yang lama. Padahal adonan kue yang di buat Roni sudah di masukkan ke dalam oven.


"Rasain!" ucap Zee sambil melumuri wajah Zay dengan tepung. Tawanya seketika meledak. Membuat suasana dapur menjadi riuh. Bahkan para karyawannya juga ikut tertawa.


"Berani ya?" ucap Zayn sambil menyeringai.


"Apa?" balas Zee masih sibuk dengan wajah Zayn. Sesaat mereka lupa bahwa bukan hanya mereka berdua yang berada di dapur. Tapi, masih ada karyawan lainnya terutama Roni dan Mona yang menjadi penonton setia.


"Sini deh deketan." pinta Zayn yang masih pasrah menerima perlakuan Zee.


"Ngapain?" tanya Zee. Seketika ia menghentikan pergerakan tangannya.


"Deketan aja dulu."


"Gak mau!" tolak Zee.


"Gak apa-apa beneran. Gak macam-macam kok."


"Udah ah, Zayn. Selesain ini dulu."


"Bentar doang kok. Aku bisikin sini."


"Ya udah, cepetan!" tanya Zee sambil mendekat.


"Kena! Buahahahahaha..." tawa Zayn terbahak karena telah berhasil mengerjai Zee.


Bughhh


Zee yang geram akhirnya memukul lengan Zayn hingga pria tersebut mengaduh kesakitan.


"Kuat banget sih." ucap Zayn sambil meringis.


"Harus!" ketus Zee.


"Ngambek?" goda Zayn.


"Nggak!"


"Beneran ih. Ngambek nih ya?" ucap Zayn sambil mencolekkan tepung di pipi kiri Zee.


Zee memilih diam sambil memasukkan adonan yang telah jadi ke dalam oven.


"Zee, ngambek ya?"


Zayn terus mengikuti pergerakan Zee.


"Jangan ngikut napa!"


"Nggak ngikut kok." kilah Zayn.


"Trus ini apa? Ngikut-ngikut segala macam."


Zayn memilih mengalah. Ia pun berdiri diam di tempatnya. Tapi, mata pria itu terus mengamati aktivitas yang Zee lakukan.


"Si bos ngapain?" gumam Roni.


"Haaa? Anda bilang apa, Tuan?" tanya Mona.


"Itu si bos. Lihat nggak? Sepertinya mereka sudah kenal lama. Itu si bos juga terlihat seperti anak-anak remaja bucin."


"Iya, Tuan. Sepertinya bos anda itu naksir sama bos saya." jawab Mona.


"Jadi?"


"Apa, Tuan?" tanya beo Mona.


"Ohh, Tuhan...tidak apa-apa, Nona."


"Mona, tolong jaga sebentar ya. Saya mau bersih-bersih dulu." pinta Zee.


"Siap, Bu. Tenang saja. Pasti nggak akan gosong kok."


Zee pun pergi meninggalkan dapur. Ia menuju ruangannya untuk membersihkan diri. Karena di dalam ruangannya terdapat kamar mandi. Ia pun memasuki ruangan kecil dimana ruangan tersebut adalah berupa kamar. Di sana sudah tersedia perlengkapannya seperti baju ganti. Kenapa di dalam ruangannya tersebut terdapat kamar dan kamar mandi? Zee sudah merencanakan semua itu. Sewaktu-waktu Rega pindah ke sini. Jadi ia tidak perlu repot-repot.


"Tuan, baju anda." tunjuk Roni ke arah lengan kemeja Zayn yang terlihat kotor. Zayn hanya mengenakan kemejanya saja. Karena sebelum itu, ia telah membuka jasnya.


"Tidak apa-apa, Ron. Hanya kotor sedikit." ucap Zayn sambil membuka celemeknya.


Setelah rapi dan bersih, Zee kembali ke dapur. Rupanya kue tersebut baru matang.


Ia pun mengambil sarung tangan agar memudahkannya untuk mengambil kue di dalam oven.


Zee meletakkan kue yang berada dalam cetakan tersebut di atas meja dapur. Ia pun membuka kembali sarung tangannya.


Pergerakan Zee tidak pernah Zayn lewatkan sedikitpun.


"Mona, ambilkan wadah untuk menempatkan kue ini." tunjuk Zee ke arah tempat yang ia perlukan. Sampai-sampai ia tidak menyadari tangannya tidak sengaja menyentuh cetakan kue yang masih hangat.


"Awww..." Zee meringis sambil memegang jari telunjuk dan jempolnya yang terlihat memerah.


Zayn yang melihat itu langsung mendekati Zee. Ia pun memegang tangan Zee yang terlihat memerah. Langsung saja ia menarik Zee ke arah wastafel yang berada tidak jauh dari sana.


Selesai mendinginkan jari Zee dengan air mengalir, Zayn meminta kepada Mona untuk mengambilkannya kotak P3K.


Mona datang tergopoh-gopoh dengan membawa kotak P3K. "Ini, Tuan." unjuknya.


"Makasih."


Zayn dengan sigap mengoleskan salap ke jari tangan Zee yang terlihat memerah.


Zee meringis pelan saat jari-jari Zayn menyentuh jarinya.


"Masih sakit?"


Tampak Zee hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara.


"Selesai." ujar Zayn sambil menutup salep tersebut dan merapikan kotak P3K yang terlihat sedikit berantakan saat ia mencari benda tersebut.


"Makasih."


"Iya."


Zee memberanikan diri untuk menatap bola mata hitam pekat tersebut.


"Lain kali hati-hati." titah Zayn.


Zee tidak menjawab melainkan memandang wajah tampan Zayn yang juga tengah menatapnya.


Sampai-sampai suara deheman Roni membuyarkan lamunan mereka.


"Maaf, Tuan, Nona. Kuenya keburu dingin." sindirnya.


"Ah, iya. Sampai lupa." Zee berjalan meninggalkan Zayn.


"Mona, tolong kamu hias ini ya. Saya mau ke ruangan sebentar."


"Siap laksanakan." ujarnya.


...***...


Hari sudah semakin sore.


Sesi membuat kue telah selesai.


"Terima kasih atas waktunya hari ini, Nona. Berhubungan hari sudah sore. Jadi, saya dan Tuan akan pulang."


"Sama-sama, Roni. Hati-hati di jalan."


Zee mengantarkan mereka sampai menuju parkiran.


Sebelum masuk ke kursi pengemudi, Roni terlebih dahulu membukakan pintu untuk sang bos.


Saat pintu terbuka, Zayn menghentikan langkahnya sebentar.


"Nanti malam ya." ucap Zayn sambil melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobil.


Sementara Zee, wanita tersebut dibuat bingung. 'Nanti malam? Batinnya bertanya-tanya.


"Sampai bertemu kembali, Nona." ucap Roni pamit.


Zee hanya menanggapinya dengan anggukan. Ia pun memasuki tokonya saat sudah memastikan mobil yang di kendarai Roni telah melesat.


Zee memutuskan untuk membantu para karyawannya. Sepertinya mereka akan lembur untuk hari ini. Mengingat besok sudah harinya.


...***...


Zee sampai ke rumahnya tepat saat adzan magrib di kumandangkan.


Saat sudah selesai dengan aktivitasnya Zee turun ke bawah dan menemukan sang Bunda yang tengah memasak jamuan makan malam.


"Bunda, ini kok banyak masaknya? Apa gak kebanyakan ya?" Zee heran saat melihat aneka ragam masakan yang sudah tersusun rapi di meja makan.


"Nggak apa-apa kok, sayang. Mending kamu masuk kamar lagi gih. Siap-siap ya. Dandan yang cantik."


"Emang selama ini Zee gak cantik ya, Bund?" teka Zee.


"Bukan gak cantik, sayang. Setiap hari juga kamu cantik. Udah gih. Jangan banyak tanya."


'Jangan banyak tanya. Zee langsung menuruti perkataan sang Bunda.


Bunda Weni mengetuk pintu kamarnya saat Zee baru saja menyelesaikan shalat isya. Buru-buru Zee membereskan sajadah dan mukenanya.


Ceklek


Pintu terbuka menampilkan sang Bunda yang telah rapi.


"Lho, kamu belum siap-siap?"


"Belum, Bund. Ini baru selesai shalat."


"Ya udah. Kamu siap-siap ya. Abis itu langsung turun ke bawah."


"Iya, Bunda."


Zee menatap wajahnya dari pantulan cermin. Dress pink motif bunga-bunga melekat indah di tubuhnya. Rambut yang ia gerai menambah kesan anggun.


Zee tidak tahu ada acara apakah. Ia hanya menuruti perkataan sang Bunda tanpa bantahan.


Tak tak tak


Suara heels nya yang bersentuhan dengan anak-anak tangga ketika ia menginjaknya.


Belum sampai di bawah Zee telah mendengar suara tawa pecah yang berasal dari meja makan.


"Zee, duduk sini, sayang." ucap Bunda Weni ketika melihat anaknya mematung di ujung anak tangga.


...~Happy reading~...