Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 10. Bad mood



Zee berlari kecil saat melewati lorong-lorong kelas yang sudah terlihat sepi. Karena jam pelajaran pertama sudah di mulai. Sebagian ada yang masih nongkrong di depan kelasnya. Hal itu karena guru yang mengajar sedang berhalangan hadir karena sakit.


Zee menarik nafasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan sebelum memasuki kelasnya, "Hufttttt. Untung kagak telat. Kalo telat mah pasti bakal di hukum." lirihnya.


Saat sudah berada di depan kelasnya, Zee baru menyadari bahwa tidak ada guru yang mengajar di kelasnya. Itu adalah hal yang sudah biasa. Tidak heran apabila melihat anak-anak murid di kelasnya riuh piuh.


Zee berjalan dengan lesu menuju bangku dimana ia duduk.


"Tumben lo datengnya agak telat." seru Elsa.


Merasa tidak ada tanggapan dari Zee, Elsa langsung menepuk pelan pipi Zee.


Mendapat tepukan di pipinya, Zee langsung menepis itu, "Apa sih?" tanya Zee.


"Lo gak sakit kan?" ucap Elsa yang mendapat gelengan dari Zee.


"Haiii guyss." sapa Renzy yang tiba-tiba duduk di samping Zayn.


"Nanti keluar yuk." ajak Renzy.


"Kemana?" tanya Elsa.


"Ya gak kemana-mana sih. Kita nyantai ke cafe gimana? Gak pernah lho kita main bareng-bareng."


"Huummm. Boleh juga sih." pikir Elsa.


"Vani." panggil Elsa.


Vani yang tengah sibuk dengan pensil dan buku gambarnya pun menoleh, "Apa?" tanya Vani.


"Renzy ngajak kita ke cafe. Mau ikut gak?" ucap Elsa meminta persetujuan dari sahabatnya.


"Boleh deh. Mumpung gak ada PR."


"Oke. Berarti aku, Zayn, Vani, Zee, trus lo." tunjuk Renzy ke arah Elsa.


"Jam setengah dua ya. Kumpulnya di rumah siapa dulu?"


"Rumah lo aja. Gimana, Van?" tanya Renzy. Vani hanya mengangguk dan kembali melanjutkan aktivitasnya.


Zee mencoba untuk menoleh ke belakangnya. Tidak di sangka Zayn juga menoleh ke arahnya. Zee melihat ekspresi Zayn yang terlihat biasa-biasa saja. Tidak ingatkah dirinya dengan kejadian semalam. Zee yang terjebak hujan di kediamannya. Alhasil malam hari Zee baru pulang ke rumahnya.


"Zayn lo..."


"Gue gak mau." sela Zayn.


"Pokoknya harus. Berani lo nolak? Gue bilangin sama Tante!" ancam Renzy. Zayn akhirnya mengalah dan menuruti ajakan temannya itu. Bisa bahaya kalau di laporkan kepada sang Mama. Pikir Zayn. Zayn juga bingung apa salahnya. Renzy, temannya itu benar-benar menguasai pergerakannya.


...***...


Saat bel istirahat berbunyi, Zee dan teman-temannya langsung menuju kantin untuk mengisi perut mereka.


"Zee, lo kenapa diam mulu?" tanya Vani.


Pagi hari ini entah kenapa Zee rasanya sangat malas untuk berinteraksi dengan siapa pun itu. Ucapan yang terlontar dari bibirnya hanya sekata dua kata. Hal itu menimbulkan tanda tanya dalam benak kedua sahabatnya.


"Gak pa-pa. Lagi gak mood aja." Vani dan Elsa hanya mengangukkan kepalanya agar tidak membuat mood sahabatnya semakin memburuk. Mereka paham apabila sahabatnya itu sedang dalam kondisi bad mood akan ada dampaknya yang akan mereka dapatkan.


Hanya keheningan yang menyelimuti mereka karena makanan pesanan mereka sudah sampai.


"Zayn, tolongin gue yuk. Ambil minuman." pinta Renzy saat dirinya yang di panggil oleh Ibu kantin untuk mengambil minuman mereka berlima.


Zayn hanya mengangukkan kepalanya dan bangkit dari duduknya berjalan mengikuti Renzy.


Tidak lama mereka pun datang dengan lima gelas minuman. Jus alpukat kesukaan Zee, dan minuman milik teman-temannya.


"M-maaf, gak sengaja." sontak saja Zee, Vani, dan Elsa melihat arah suara itu yang terdengar sangat dekat di telinga mereka.


Sakit! Itu lah yang dirasakan Zee saat ini, melihat pemandangan yang sungguh membuat hati Zee terasa panas.


"Iya gak pa-pa. Ada yang luka?" tanya Zayn kepada seorang gadis yang memakai bando pink di kepalanya. Rasanya Zee sangat insecure melihat itu. Tiba-tiba rasa percaya dirinya pecah begitu saja.


"Nggak kok... Ssttt." ucapnya setengah meringis sambil memegang sikunya yang terlihat memar.


"Duduk di sini dulu ya."


"Gak pa-pa kan?" tanya Zayn meminta persetujuan teman-temannya yang melihat dirinya aneh.


Tanpa mendengar jawaban dari teman-temannya, Zayn langsung berlari menuju ruang UKS untuk meminjam kotak P3K.


Selang beberapa menit Zayn sudah kembali dengan tangannya yang memegang kotak P3K.


"Sakit gak?" tanya Zayn mengolesi salap.


"Dikit." balasnya.


"Nah, udah." ucap Zayn dengan menutup salap yang ia pegang.


"Harusnya kamu gak usah repot-repot gini. Kan aku yang salah."


"Gak pa-pa. Gak repot kok. Lain kali hati-hati kalo jalan." seru Zayn.


"Ehhh iya. Kita belum kenalan. Kenalin aku Tania. Tania Putri Sartika. Anak IPA 2 kelas X." ucap Tania sambil mengulurkan tangannya.


'Gak sekalian alamat rumah, nama orang tua trus tanggal lahir. Batin Zee kesal.


Zee akui memang Zayn adalah type cowok yang bertanggung jawab, perhatian dan ramah. Rasanya Zee ingin menjambak rambut tebal milik Zayn karena terlalu kesal pada pria itu.


Zee mengeratkan pegangan tangannya di rok nya itu.


"Iya, salam kenal. Gue Zayn, kelas X IPS 4." ucap Zayn membalas uluran tangan Tania. Rasanya Zee ingin menghilang dari muka bumi ini saat melihat adegan yang menurutnya sangat jarang dilakukan Zayn selama ia mengenal pria itu walaupun jarang berinteraksi.


"Makan, Zayn." sindir halus Renzy.


"Lo aja deh yang makan. Gue kenyang." tolak Zayn.


"Ehhh iya, lo udah pesen?" Tania menggelengkan kepalanya.


"Gak jadi deh." Zayn kembali mengambil makanan miliknya dari hadapan Renzy, Zayn langsung menyodorkan makanan miliknya ke hadapan Tania, "Nihh, lo aja yang makan. Gak pa-pa kan? Belum gue sentuh sama sekali kok." ucapnya.


"Iya, gak pa-pa. Makasih ya." balas Tania.


"Sama-sama."


Zee yang sedari tadi mati-matian menahan kekesalannya kini akhirnya tidak tertahankan lagi.


Zee bangkit dari duduknya tanpa berpamitan. Vani dan Elsa dengan sigap mengikuti langkah Zee padahal makanan mereka saja belum terhabiskan.


Vani dan Elsa memikirkan bagaimana caranya agar bisa menghibur sahabatnya yang tengah kesal.


"CK! Keterlaluan." cibik Elsa saat mereka sudah berada di wastafel toilet.


Zee segera membasuh mukanya untuk meredam segala perasaan yang menyelimuti hatinya saat ini.


Zayn orangnya memang sangat perhatian. Semua masuk ke dalam golongannya. Tapi, tidak tau dengan hatinya. Semua bisa mendapat perhatian darinya tetapi tidak dengan hati Zayn. Memang susah ditebak. Pikir Zee.


Zee pikir ia salah karena hatinya telah terpaut pada pria itu. Tapi yang namanya hati itu pasti tidak singkron dengan pikiran.


Zee melihat dirinya dari pantulan cermin dengan air yang masih membasahi wajahnya.


Vani mengodorkan sapu tangan miliknya yang masih bersih kepada Zee. Zee pun mengambil sapu tangan itu dan segera mengelap wajahnya, "Makasih." ucap Zee.


"Lepasin aja, Zee." seru Vani mengelus punggung Zee.


"Ngapain? Buat apa nangis? Gak guna juga." balas Zee.


"Oke deh kalo itu mau lo. Tapi kalo ada apa-apa, kita pasti selalu ada buat lo." ucap Elsa merangkul bahu Zee.


"Ulululu... Makasih kesayanganku." balas Zee dengan merentangkan kedua tangannya yang di sambut oleh kedua sahabatnya itu.


"Kelas yuk." ucap Vani saat mereka baru saja melepas pelukannya.


"Yuklah."