Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 35. Reuni



2 hari kemudian


Zee menatap wajahnya dari pantulan cermin di meja riasnya. Ia gugup. Apakah ia harus datang ke acara reuni sekolahnya yang diadakan di salah satu restoran.


Sahabatnya sudah pergi meninggalkannya. Segala macam bujuk rayu yang di lontarkan Vani dan Elsa supaya Zee ikut ke acara reuni tersebut. Tapi, Zee selalu menolaknya. Para sahabatnya hanya menghela nafas panjang. Mereka juga tidak bisa memaksa keputusan yang telah Zee ambil.


Zee melirik ponselnya yang bergetar menandakan ada pesan masuk.


Zee hanya menghela nafasnya berat. Pesan yang menampilkan deretan chat dari Vani dan Elsa supaya Zee ikut bersama mereka. Entah sudah puluh kali tawaran yang mereka ajukan. Tapi, Zee tetap dengan pendiriannya.


Hari sudah semakin sore. Matahari perlahan-lahan terbenam. Terdengar suara adzan yang dilantuntan di salah satu masjid.


Acara reunian tersebut di mulai dari pukul 2 siang hingga menjelang malam. Lumayan lama. Jadi, para alumni bebas datang kapan saja selagi acara masih berlangsung. Memang bukan acara resmi. Acara tersebut hanya di hadiri oleh para alumni sekolah dan beberapa guru saja yang datang untuk menyapa.


Zee memutuskan untuk mengambil wudhu dan segera melaksanakan shalat Asar.


Selesai shalat, Zee melipat sajadahnya dengan rapi dan melepas mukenanya.


Sementara di acara reunian tersebut


"Haii, haiii gaesss. Apa kabar nih? Lama gak ketemu ya. Pada berubah semua deh. Udah sukses." celetuk Elsa saat baru saja datang ke acara tersebut. Vani hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Elsa.


"Kabar baik dong." seru teman-temannya.


Vani dan Elsa lebih memilih tempat yang pas untuk mereka tempati. Netra mata mereka terhenti kala melihat seorang pria yang tengah memakai jas formalnya yang tengah duduk di salah satu kursi yang lumayan sepi sambil memainkan ponselnya.


"Woyyy!" Elsa menepuk bahu pria tersebut dan reflek pria tersebut menjatuhkan ponselnya.


Beruntung kondisi ponselnya baik-baik saja.


"Eh,,, maaf, Zayn. HP lo gak kenapa-napa kan?"


Tampak Zayn mengelus pelan dadanya sambil mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai.


"Copot jantung gue, lo ganti rugi!" ketusnya.


Bagaimana tidak. Saat ia tengah asik berseluncur dengan duninya sendiri tiba-tiba ia di kejutkan.


"Tenang. Nanti gue ganti pakai jantung ayam. Gak apa-apa kan?"


Zayn hanya memutar bola matanya malas.


"Lo kira jantung ayam bakal tahan lama?!"


Elsa hanya menyengir menanggapi perkataan Zayn.


"Kita berdua boleh duduk sini?" tanya Vani melerai perdebatan keduanya.


"Hmmm..." dehem Zayn.


Tidak basa-basi lagi, Vani dan Elsa langsung duduk di meja yang sama dengan Zayn.


Sejenak mereka tampak asik dengan ponselnya masing-masing. Entah apa yang di lakukan oleh mereka. Sedangkan Zayn, pria itu tengah membuka dokumen-dokumen yang dikirim sekretaris Papanya.


"Ish! Susah banget di ajak dateng." celetuk Elsa tiba-tiba. Tapi, pandangannya tidak luput dari ponsel yang ia mainkan.


"Tau itu anak. Sekarang susah banget mau di ajak keluar." sahut Vani.


"Kalian lagi ngomongin apaan sih?" tanya Zayn penasaran.


"Kepo!" balas serentak Vani dan Elsa.


Zayn hanya mencibikkan bibirnya saat melihat kekompakan dua wanita di hadapannya itu.


Sekarang gantian, Zayn lah yang mengabaikan mereka saat Vani dan Elsa tidak memainkan ponselnya. Sementara Zayn masih sibuk dengan pekerjaannya. Karena sebentar lagi ia akan menggantikan posisi sang Papa.


Sudah waktunya ia meneruskan perjuangan sang Papa karena perusahaan tersebut di bangun dari hasil jerih payah Papanya.


"Zayn, lo kok fokusnya ke HP mulu. Kagak niatan mau pose manja-manja bareng kita?"


"Gak bisa. Gue sibuk!"


"Yahh, sayang banget. Padahal gue udah dandan cantik-cantik." ucap Elsa sambil mengibas-ngibaskan rambutnya.


"Dih! Pede banget jadi orang." cibik Vani.


"Pede tuh wajib. Jadi, harus dilaksanakan setiap waktu." balas Elsa sambil menyengir.


"Lo pikir itu shalat 5 waktu pakai wajib segala." Elsa hanya menanggapinya dengan deretan gigi putihnya.


Mereka pun berbincang-bincang saling bertukar kabar.


"Zayn. Lo ngapain celingak-celinguk kayak gitu?" tanya Vani saat melihat Zayn seperti tengah mencari seseorang.


"Ini, si Renzy lama banget. Katanya udah di depan sih." jawab Zayn.


"Lha. Emang kalian gak barengan?"


"Enggak lah. Dia katanya mau nyusul tadi. Soalnya beresin kerjaannya dulu."


"Owh."


"Nah tuh orangnya." seru Vani saat melihat Renzy yang baru saja membuka pintu restoran.


"Sini!" Zayn melambaikan tangannya ke arah Renzy.


"Sorry, gue telat. Soalnya jalanan agak macet tadi." ucap Renzy sambil mendudukkan bokongnya di samping kursi Zayn.


"Kok agak sepi ya?" tanya Renzy bingung.


"Mungkin kebanyakan datangnya nanti malam."


Tampak Renzy menganggukkan kepalanya paham.


"Kalian cuma berdua aja?"


"Emangnya mau siapa lagi. Kan cuma kita berdua doang yang barengan mulu." jawab Vani.


"Owh, iya. Gue lupa. Itu Zee belum juga ada kabarnya?"


"Udah pulang dia." sahut Elsa sambil menyeruput minumannya sedikit.


"Serius?" ucap Renzy terkaget.


"Ya, serius lah. Emang tampang-tampang gue ada becanda gitu?" Elsa menunjukkan wajah seriusnya.


"Enggak sih." balas Renzy kikuk.


"Trus sekarang gimana kabarnya. Kenapa gak kalian ajak ke sini?"


"Udah di ajak. Tapi, orangnya nolak mulu. Nggak tau kenapa."


Tiba-tiba meja mereka kedatangan seorang wanita.


"Hai." ucapnya sambil duduk di samping Zayn tanpa izin.


"Tania?!" teriak Vani dan Elsa melongo.


"Iya, gue. Kenapa?"


"Kaget ya?" lanjut Tania.


"Biasa aja." ketus Elsa.


Tania hanya tersenyum melihatnya.


"Tadi Tante ngabarin ke aku suruh kamu buat ambil kue yang udah Tante pesen tadi pagi." perkataan Tania yang ia tunjukkan pada Zayn.


"Iya, nanti aku ke sana." jawab Zayn.


"Oke."


Vani dan Elsa hanya melihat interaksi yang dilakukan oleh keduanya yang mereka ketahui adalah sepasang kekasih.


"Jangan negatif thinking." ujar Tania seakan tahu arti tatapan dari keduanya.


"Emangnya siapa?" ucap Elsa.


"Ya, kalian lah. Emang siapa lagi. Renzy? Dia aja udah tau."


"Haa? Tau apa?" balas Elsa bingung.


"Nggak."


Elsa hanya berdecak kesal.


"Kalian berdua masih?" tatap tajam Vani.


Tania melirik Zayn sebentar. Zayn pun menganggukkan kepalanya.


Setelah mendapat izin, Tania pun menceritakan kisah asmara mereka yang sudah terputus beberapa waktu lalu.


"Owh, gitu. Maaf, udah berpikiran buruk tentang kalian." ucap Vani.


"Gak apa-apa. Gue ngerti kok."


"Jadi, gimana kalau kita..."


"Bagus juga." celetuk Renzy setuju dengan rencana Tania. Sementara Zayn. Pria itu seakan-akan menulikan pendengannya.


"Eh, lo?" ucap Elsa sadar bahwa Renzy mendengar pembicaraan mereka.


"Kenapa? Tenang aja. Gue bantu kok."


"Tapi, orangnya gak mau datang ke sini." ujar Vani.


"Tenang. Kalian suruh aja dia datang ke taman. Bilang kalau cuma kalian berdua doang yang ke sana." ucap Tania.


"Oke, deh. Yuk lah."


"Apaan sih." ucap Zayn kesal saat tangannya yang di tarik oleh Renzy.


"Lo mau ikut gak?"


"Kemana lagi?"


"Udah deh. Ikut aja. Jangan protes!" ujar Tania.


Zayn pun hanya pasrah saat tangannya di tarik oleh Renzy memasuki mobilnya.


...~Happy reading~...


...Makasih udah mampir di karya abal-abal ini 😌🙂...